Ketika membuka raport anak, orangtua tak hanya berfokus pada daftar nilai pencapaian akademik sang anak sepanjang semester itu. Tetapi ada keterangan terkait siswa dan orangtuanya di halaman awal. Apa rasanya ketika kolom pekerjaan ibu di raport anak tertulis "tidak bekerja"? Lalu aku iseng-iseng membuat status WA juga facebook, apa sekarang status ibu rumah tangga bukan lagi sebuah profesi?

Dulu, mamak yang jelas-jelas berkarier masih mendapat predikat ibu rumah tangga di profil siswa raportku. Begitupun bapak yang petani kelapa, tertulis sebagai wiraswasta di sana.

Lantas muncul lah beberapa anggapan terkait status yang kutulis itu. Ada yang terang-terangan merasa tak perlu peduli jika pun ibu rumah tangga dianggap tak bekerja. Cukup pamer bukti prestasi yang diraih kendati berkiprah dari rumah katanya. Agar orang-orang tahu, bahwa kita si ibu rumah tangga juga tetap berdaya dan mampu berkarya diantara seabreg kesibukan yang ada di rumah.

Ada pula yang beranggapan bahwa mempermasalahkan keterangan "tidak bekerja" pada kolom pekerjaan/profesi sang ibu adalah pekerjaan ibu cerdas yang terlalu kelewat teliti. Sebab katanya, sang istri yang juga lulusan universitas ternama dengan nilai cumlaude tak sama sekali mempermasalahkan keputusannya untuk menjadi ibu rumah tangga.

Ini bukan tentang profesi IRT-nya, yang kita terima atau tidak secara personal. Tetapi lebih kepada rasa keberatan, seolah-olah profesi ibu rumah tangga mengalami marginalisasi. Karena dianggap hanya di rumah, tidak berpenghasilan, dan bukan tulang punggung utama dalam keluarga.

Lalu salah seorang teman kembali menanggapi, katanya... barangkali yang dimaksud IRT tidak bekerja karena pendapatan tiap bulannya tidak menetap seperti pekerja kantoran pada umumnya.

Kemudian aku membantah dengan fakta, bahwa sudah banyak ibu rumah tangga yang menyambi "working from home". Bahkan mereka bisa menghandel bisnis pribadi/keluarga dengan beberapa cabang sekaligus, dan dimulai dari rumah. Tak sedikit ibu rumah tangga yang semakin berdaya dan bisa berpenghasilan bersih dari rumah, tanpa dipotong lain-lain, dengan nilai pendapatan yang melebihi mereka si pekerja kantoran.

Jadi semisal hendak dipukul rata pun kalau IRT bukan lagi sebagai profesi yang diperhitungkan.. maka ranahnya menjadi kurang tepat.

Keterangan "Tidak bekerja" akan menjadi sensitif dan bermakna konotatif bagi sebagian ibu rumah tangga yang merasa mengampu beban gandanya dari rumah.

And then, aku mengalaminya sendiri.

Nama terang yang disingkat, tanpa gelar pendidikan yang disertakan, dengan keterangan tambahan "Tidak Bekerja". Padahal, sebutlah menjadi IRT adalah profesi utamanya... tetapi ada peran-peran lain yang diampu di balik gelar Ibu Rumah Tangga itu sendiri.

Padahal, butuh pertimbangan yang luar biasa untuk memperjuangkan pendidikan bukan hanya demi gelar sarjana meski telah berstatus menikah. Waktu, pikiran, materil, hal-hal yang sekian tahun digeluti seperti tak lagi bermakna ketika seorang perempuan memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Sebab pada akhirnya, itu semua tak termasuk pada identitas yang ia terima dari masyarakat umumnya.

Padahal, masih saja ada yang membanding-bandingkan ibu bekerja vs ibu rumah tangga.

Menurut seorang teman yang juga sempat resign dari pekerjaan kantornya demi menjadi full time mom at home, dia menyarankan untuk hanya membiarkan saja. Kami yang sama-sama menggeluti dunia blogger, bahkan dirinya sanggup mengelola beberapa blog di waktu bersamaan, seperti tak lagi kaget dengan anggapan IRT yang tidak bekerja.

Itu yang membuatku lagi-lagi berpikir, apa seorang penulis, blogger, influencer, dan pekerja seni tidak termasuk pada profesi dan akan tetap disebut tak bekerja?

Ada perlakuan marginal. Mengenyampingkan peran ibu rumah tangga jika standarnya hanya dari nilai UMR yang mungkin bisa ia peroleh tiap bulannya. Menganggap IRT hanya diam di rumah, tak bekerja, tak berangkat pagi dan kemudian pulang sore mengenakan seragam, hanya ibu-ibu yang sibuk dengan dunia 3r-nya. Agak sarkas memang.

Tapi semakin ke sini, standarisasi seperti ini harus ada yang meluruskan.

Zaman telah sedemikian maju. Jika dahulu para ibu rumah tangga benar-benar berfokus di rumah untuk mengurusi anak, keluarga, dan seabreg pekerjaan rumah sembari menanti sang suami pulang kerja. Saat ini semakin banyak IRT yang melek teknologi, tak tertutup dari informasi dunia luar yang bisa didapat hanya dari layar gadget di tangan bermodalkan internet saja.

Ada banyak IRT yang kemudian menjadi momfluncer, mompreneur, bermula dari rumah. Sampai tak sedikit pula yang resign dari pekerjaan utamanya, untuk fokus menjadi IRT sembari mengembangkan usahanya, hingga mampu membuka lowongan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan.

Banyaaaakkkkk sekali contoh para ibu-ibu rumah tangga yang tak layak dimarginalkan dengan status "tidak bekerja" hanya karena tak tercatut pada sebuah intansi/kelembagaan tertentu.

Aku sedih untuk mengalami ini, identitas yang dibentuk dengan proses panjang di dalamnya seolah-olah tak bermakna. Sampai harus menulisnya di status sebelum mengulasnya di sini, karena menurutku ini menjadi sesuatu hal yang mengganjal dan perlu di-released.

Aku ibu rumah tangga. Aku bangga mengakui diriku sebagai blogger yang mengelola blog pribadi. Aku bangga mendapati diriku masih bisa berkarya dan menulis buku, kendati berkiprah di rumah tanpa seragam karyawan khusus. Aku bahagia mendapati anak-anakku melihat sosok ibu mereka dari bangun tidur ke tidur lagi, sembari menjalani dunia yang memang dicintai sesuai passion yang dimiliki. Dan dengan itu aku memiliki penghasilan sendiri, meski hanya di rumah. Aku ibu rumah tangga YANG BEKERJA, bahkan pekerjaannya tak putus sejak bangun hingga berangkat tidur kembali.

Sedih ketika profesi ibu rumah tangga tak lagi diperhitungkan, terkesan dimarginalkan, karena dianggap tidak bekerja (jika yang dimaksud adalah memiliki pekerjaan tetap dengan standar UMK). Padahal tak sedikit pekerjaan pula di luar sana yang gajinya terlampau jauh dari UMK semestinya. Apa kabar para guru-guru wiyata di berbagai daerah yang kita sendiri tahu seperti apa kehidupan dan banyaknya gaji yang diterima? Apa kabar para buruh pekerja yang tak dibayar layak, apa mereka juga akan ditulis tak bekerja di halaman depan raport anak-anaknya? Sebab pendapatan mereka sebutlah masih ada yang di bawah angka UMR. 

Nama terang yang ditulis lengkap, menyertakan gelar pendidikan jika pun ada, tidak meniadakan profesi yang dimiliki hanya karena tak sesuai standarisasi yang ada... menunjukkan sebuah identitas. Tak adanya perlakuan pilih kasih.

 Dulu, teman-teman di sekolah kami ada yang bangga menunjukkan raport mereka hanya karena ingin menunjukkan nama lengkap orangtuanya beserta gelar pendidikan yang diperoleh. Itu membuat kami yang memiliki orangtua dengan pendidikan yang biasa-biasa saja akan berdecak kagum, ikut bangga. Lalu itu pula yang memotivasi diri untuk menempuh pendidikan di bangku sekolah tinggi, karena satu diantaranya adalah kebanggaan anak-anak terhadap ibu mereka nantinya.

Sang ibu yang meski memilih berkiprah di rumah tetapi masih hendak menempuh jalan menuntut ilmu. Sang ibu yang meski hanya di rumah, tetapi masih bisa berkarya dan berdaya atas dirinya.

Ada identitas bermakna dari sebuah nama, gelar, bahkan profesi yang tercatut walau hanya pada selembar kertas.

Bagi sebagian orang bisa jadi tak penting. Bagi sebagian lagi bermakna tertentu, dan hanya diri masing-masing yang tahu apa alasan pastinya.

Aku mungkin tak mendapatkan jawaban pasti terkait ini. 

Mengapa profesi IRT seperti dimarginalkan jika tolok ukurnya adalah penghasilan pribadi sampai-sampai lebih mudah menulisnya sebagai tidak bekerja?

Mengapa sejak dulu hingga sekarang perempuan dituntut berlomba-lomba, dan saling saing demi mengunggulkan diri sendiri? Padahal yang membuat perbandingan itu adalah masyarakatnya sendiri.

Jika profesi IRT dianggap tak bekerja karena mengurus rumah dan keluarga, bagaimana dengan mereka yang nyata-nyata memiliki pekerjaan sebagai asisten rumah tangga? Bukankah mereka juga seseorang yang bekerja di lingkup rumah tangga majikannya? Dengan pekerjaan yang sama seperti halnya para IRT tanpa nanny kerjakan dalam setiap harinya?

Ada hal-hal yang butuh didiskusikan. 

Agar ke depannya, alih-alih mengecilkan atau meniadakan peran suatu profesi/pilihan hidup seseorang yang dirasa tak masuk standarisasi masyarakat luas.. akan tetapi juga sekaligus mengajarkan pada generasi yang akan datang, untuk tak memperlakukan orang lain hanya sebatas profesi yang dimiliki.

Manusiakan manusia karena ia manusia, bukan karena apa gelar dan jabatannya. Sebagaimana kita hendak dimanusiakan pula.

Dan perkara nama terang yang ditulis singkat, gelar pendidikan yang mungkin dianggap tak perlu disertakan, bahkan profesi yang tertulis "tidak bekerja" kendati nyata-nyata IRT memiliki pekerjaan ganda yang tak semua orang ketahui, aku akan meluruskan itu dengan cara sendiri, dan berdamai dengannya.

Kadang, pilihan bekerja bagi sebagian wanita bukan karena satu-satunya pilihan yang harus dilakoni. Terutama jika pada realitanya, ia juga berperan sebagai tulang punggung keluarga. Tapi jika boleh jujur, tak sedikit perempuan yang beroleh identitas, kebanggaan, pengakuan, penghargaan diri, hanya tatkala ia bekerja di luar rumah. Tak semua wanita bisa menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Tapi ibu rumah tangga bukan berarti tak bisa mengerjakan apa-apa yang memang akan ia perjuangkan.

Dan memang, profesi IRT masih sering dipandang sebelah mata.

Benar yang dikatakan oleh temanku, sering-sering posting pencapaian diri di sosial media bukan berarti kita PAMER. Akan tetapi bukti eksistenti diri kalau kita juga punya prestasi dan pekerjaan yang menghasilkan kendati hanya dari rumah. Jangan sampai seperti ibu-ibu yang viral, hanya karena diam di rumah tapi tetap memiliki banyak uang, ia dikira melakukan pesugihan hahaha.

Aku jadi ingat salah satu kalimat motivasi yang sempat kujadikan wallpaper handphone milikku, "Terkesan kejam memang, tetapi dunia butuh pembuktian..."

Ya, mulai sekarang semakin bekerja keraslah untuk membuktikan bahwa para IRT di abad milenial ini sudah luar biasa berdikari kendati berkiprah dari rumah sendiri :)

Aku bangga jadi IRT, ini keputusan yang tak pernah kusesali begitu mengandung anak pertama. 

Bukti bahwa menjadi IRT tak pernah membatasi kita untuk meraih impian sendiri, dan berdaya atas diri. Kita hanya perlu membuktikan itu di tengah masyarakat yang terkadang tak adil dalam mengapresiasi, bahkan tak pandai memuji selain mengoreksi.

So....

Ibun, jangan lupa bahagia, ya. Terpenting peranmu di mata Allah tak pernah sia-sia. Kamulah pemenang di perjalananmu sendiri! Bismillah biiidznillah.


__________________________________________


Magelang, 11 Februari 2023

copyright : www.bianglalahijrah.com

1 Komentar

Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah singgah dan membaca tulisan di Blog saya. Semoga bisa memberikan manfaat. Jangan lupa tinggalkan jejak baik di kolom komentar. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya. Ditunggu kunjungan selanjutnya :)