Saat ini, siapapun bisa memiliki akun sosial media di banyak platform. Salah satunya seperti Facebook, Twitter, Instagram, terutama WhatsApp yang begitu digandrungi banyak orang. Bisa dibilang, kegiatan berkirim pesan melalui SMS atau melakukan panggilan telepon secara langsung tergantikan dengan adanya aplikasi bernama WhatsApp.

Fitur-fitur pada whatsapp juga jauh lebih menarik. Jika kita menyimpan kontak seorang kenalan dan kenalan itu juga menyimpan nomor whatsapp kita di kontak miliknya, secara otomatis kita bisa saling terhubung untuk tak hanya saling berkirim pesan, tetapi bisa pula melakukan panggilan audio hingga pada video call.

Layaknya facebook yang juga memiliki beranda untuk bisa melihat update status terbaru dari orang-orang yang berada di circle sosial media milikmu, whatsapp juga memiliki fitur Story bernama "Status". Untuk para bakulers atau olshopers, memiliki banyak kontak whatsapp dan saling terhubung secara mudah dengan pelanggannya tentu saja hal yang bermanfaat sekali. Berbeda dengan mereka yang hanya ingin terhubung dengan orang-orang tertentu saja dengan tetap mengedepankan kenyamanan privasi.

Kembali lagi pada tujuan masing-masing penggunanya.

Aku pribadi, menggunakan whatsapp lebih untuk tujuan yang benar-benar privasi. Jadi ada hal-hal yang tak ingin kubagikan bebas di platform sosial mediaku yang lain, tetapi di satu waktu aku menulis atau membagikan sebagian hal tersebut melalui akun whatsapp milikku.

Karena hanya orang-orang yang kita perkenankan bergabung lah yang bisa terhubung dan melihat langsung apa yang kita bagikan.. walau di sisi lain tak jarang dapat menimbulkan kesalahpahaman dikarenakan perkara status.

Namanya sosial media, kita bisa menjajakan apa saja dan orang lain boleh menerima itu, boleh juga memilih untuk mengabaikannya. Begitu pula orang lain, mereka bisa membagikan moment apa saja mengenai dirinya.. kita punya pilihan untuk mengikuti atau tak sama sekali peduli.

Sulitnya, jika menyimpan kontak orang terdekat di antara ratusan kenalan lainnya.. mereka akan selalu merasa apa yang kita tulis dan bagikan seolah-olah ditujukan padanya karena dalam kehidupan nyata kita berinteraksi lebih dekat serta mudah bertatap wajah. Alih-alih berpikir bahwa media sosial itu ibarat pasar, penuh dengan pedagang maupun pembeli dari berbagai latar belakang hingga karakter. Jadi siapa saja bisa bebas berekspresi dalam sosial media miliknya.

Tak berarti apa yang orang lain bagi menjadi salah hanya karena tak sesuai dengan kehendak pribadi kita. Tak disangkal bahwa makin ke sini, fenomena tersinggung setelah baca status orang lain menjadi penyakit tersendiri. Padahal masing-masing pengguna juga telah sama-sama dewasa. Seharusnya bisa lebih memilah-milih dan berpikir terbuka, bahwa media sosial orang lain bukan hanya tentang satu orang saja atau tertuju untuk dirinya semata saat tiba-tiba merasa tersindir.

Berangkat dari hal itu, aku merangkum beberapa hal yang bisa dikatakan plus minus ketika kita memilih untuk menyimpan kontak WA orang yang dikenal dekat dalam dunia nyata:

1. Untuk hal-hal penting, mereka bisa mudah dihubungi


Beberapa waktu lalu aku membuat survey kecil di sebuah grup yang berisikan emak-emak. Pertanyaannya, penting tidak untuk menyimpan kontak orang-orang terdekat dan apa saja plus minusnya. Point pertama, menurut sebagian orang bisa jadi penting. Karena berdasarkan pengalaman salah seorang member grup tersebut, tetangga sebelah rumahnya kerap menerima paket untuknya terlebih saat dirinya sedang tak berada di rumah. Jadi save kontak menjadi perlu untuk hal-hal terkait hidup bertetangga. Contoh lainnya nih, kalau pas lagi keluar dan tiba-tiba hujan.. siapa tahu tetangga sebelah bisa dikabari untuk bantu angkat jemuran :D

2. Peluang untuk kepo atau memata-matai hidup orang lain


Salah satu tujuan dari memiliki akun media sosial, tentu saja karena kita ingin berbagi hal-hal terkait apapun itu dengan orang-orang yang terhubung di circle sosmed yang kita punya. Sering kita tak sadar, bahwa ada orang-orang tertentu yang berteman denganmu di sosial media dengan tujuan agar bisa mengetahui apa saja yang kamu lakukan.. setiap moment yang dibagikan.. sampai pada curcolan pribadi yang bersifat sangat privasi.

Aku teringat tulisan seorang kawan yang secara tak langsung menemukan haters berkedok lovers di akun sosmed miliknya. Orang-orang seperti ini muncul secara tiba-tiba, mengomentari status milikmu yang seolah memerlukan dukungan, padahal sebenarnya.. mereka juga sedang ingin mengorek informasi lebih darimu. Kita tak sadar, bahwa sosmed memang berpeluang sekali untuk menjadi gerbang pintu masuk bagi orang-orang yang suka kepo dan gemar mematai-matai kehidupan orang lain. So, jangan lupa bersikap mawas ya..

3. Dari status jadi kasus, semua gara-gara status!


Pernah kan, saat kita menulis sebuah status yang sebenarnya ditujukan untuk diri sendiri. Tak sedikitpun terpikir bahwa status yang berisi motivasi/curhat untuk diri sendiri itu ternyata akan menimbulkan kesalahpahaman di benak orang lain. Dan yaa, secara kebetulan orang itu adalah kerabat dekatmu juga.

Aku pernah nih. Tiba-tiba dilabrak karena permasalahan status di hadapan banyak orang, bertepatan ketika keluarga sedang ada hajatan pula. Bingung dong. Kutanyakan baik-baik status mana yang dimaksud. Begitu beliau cerita, subhanallah Allahu Akbar! Orang kalau pikirannya negatif thinking, mereka lebih percaya pada apa yang hendak mereka yakini sesuai dengan yang ada di dalam pikiran mereka. Ketimbang mencerna baik-baik informasi yang ada terlebih dahulu secara utuh.

Lah, status itu sebenarnya hanya berisi kalimat motivasi agar diri mandiri tanpa banyak tergantung pada siapapun terkait impian memiliki rumah. Bukan berarti tak menganggap niat baik orang lain yang hendak membantu seolah tak ada andil ya. Justru berterima kasih malah kalau ada kerabat yang senang hati untuk membantu. Tetapi jika ditekankan begitu, dilabrak dengan cara kekanak-kanakan rasanya seperti ada yang menuntut pengakuan sekaligus ucapan terima kasih yang berbalas lebih. Entah, aku sendiri tak tahu pasti niatnya di balik itu.

Salahnya, perkara status yang sebenarnya tak merugikan siapapun justru dijadikan pemantik untuk mengungkit-ungkit kesalahan orang lain di depan khalayak.

Sampai hari ini, aku belajar satu hal penting.. semua orang bisa punya sosial media, tetapi tak semua orang bermental dewasa untuk menggunakan dan menyikapi sosial media sebagaimana harusnya. Ya itu tadi, ibarat kita mau ke pasar, hanya karena seorang pedagang menjual sesuatu yang tak sesuai dengan keinginan kita, tak lantas kita punya hak untuk melarang apalagi mempermasalahkannya bukan?

So, mari sama-sama sehat dan bijaksana dalam bermain sosmed. Utamakan etika, ada adab. Jangan apa-apa bawa perasaan!

4. Tadinya cuma mau ngintip, jadi kesindir, akhirnya balas nyindir


Satu lagi tipe orang yang sebaiknya kamu pertimbangkan untuk dihapus dari lingkaran circle sosmed milikmu. Karena bikin pertemanan di circle kamu jadi nggak sehat. Bagaimanapun kita berusaha bijak dan berpikir bodo amat, pada akhirnya kita akan tetap terpengaruh. Apalagi mental panasan yang apa-apa dia anggap ditujukan untuk dirinya. Bisa jadi apa yang kita bagikan akan membuatnya selalu panas, tersinggung tanpa sebab yang jelas, akhirnya menyindir tetapi salah sasaran.

Main sosmed kita perlu untuk berlapang dada dan perluas akal sehat. Karena kalau semua mau dimasukin ke hati, kamu sendiri yang akan capek. Belum tentu apa yang orang lain bagi tertuju untukmu. Bukan berarti orang yang membagikan moment bahagianya seolah pamer di depanmu. Betapa bermain sosmed juga perlu adab. Tak semua hal harus ditelan mentah-mentah, lalu dimuntahkan mentah-mentah pula.

5. Cari aman, delete kontak atau sembunyikan status kita dari orang-orang tertentu lewat "Status Privacy"


Sampai pada pilihan sulit apakah harus menghapus total atau tetap menyimpan kontak seseorang di daftar milikmu. Dari pada dilema, kamu bisa menerapkan opsi ini. Tanpa menghapus kontak orang lain, kita bisa memilih untuk menyembunyikan status WhatsApp agar tak lagi dapat terlihat oleh orang-orang tertentu. Dengan begini, kapan waktu punya kepentingan.. kita bisa tetap saling terhubung dan meminimalisir gesekan khususnya pada orang-orang yang mudah baper, panasan, tukang kepo di sosmed.

Kalau jadi orang yang apa-apa serba tak enakan, mendelete orang lain bukan pilihan mudah. Tetapi kadang pula harus dilakukan dari pada masalah hanya akan berlarut-larut 'jadinya' tak sama sekali memberi manfaat. Yang tadinya untuk mempermudah koneksi dan jalin silaturahmi, justru jadi ajang berkembang biaknya penyakit hati.

Jika dirasa tak lagi saling memberi manfaat, hanya mendatangkan mudharat. Kita boleh untuk delete contact atau bahkan blokir terkhusus orang-orang yang memang hanya membawa atmosfer negatif ke dalam circle media sosial yang dipunya.

Bagiku, media sosial adalah wadah untuk terhubung dengan banyak orang dari beragam profesi demi saling bertukar informasi, menebar kebaikan, interaksi yang sehat, menjalin pertemanan secara luas dengan jarak yang tak lagi jadi hambatan.

Tetapi ada sebagian orang yang tak siap dengan hal-hal baru yang tersuguh di sosial media kemudian menjadi agresif dan impulsif. Mereka lupa, bahwa saat kita saling terhubung dengan orang lain di sebuah platform.. apa yang dibagikan juga bersifat publik dan itu mutlak milik siapa saja dengan berbagai perspektif yang dimiliki. Akan salah jika setiap apa yang orang lain bagi, kemudian dipermasalahkan karena terlalu gede rasa menganggap dirinya lah objek yang sedang dituju oleh orang tersebut.

Mari sama-sama dewasa, terlebih jika memang telah dewasa. Jika tak siap dengan hal-hal tak terduga yang ada di media sosial, lebih baik hengkang dan tutup akun. Kita tak harus jadi benalu bagi orang lain hanya karena diri sendiri yang bermasalah. Jika tak suka dengan apa yang seseorang bagikan, kita punya pilihan untuk mengabaikan atau bahkan menghapus total orang tersebut dari berbagai platform yang dimiliki.

Jika dirasa benar-benar salah, tegur dengan cara yang benar lagi bijak. Face to face. Atau melalui pesan pribadi, itu mengapa whatsapp memiliki fitur pesan yang terenkripsi secara end-to-end agar para pengguna bisa saling terhubung dengan privasi yang tetap terjaga tanpa perlu diketahui banyak pihak.

Akan lain cerita jika kamu sengaja menegur seseorang di hadapan banyak orang hanya karena perkara status yang tak kamu ketahui secara utuh, apa motivasi dan kebenaran di balik itu. Sebab, niat baik akan jadi salah jika dilakukan dengan cara yang salah.. satu lagi, menasehati berbeda dengan sengaja menunjukkan kejelekan orang lain di depan umum agar seseorang itu tampak buruk.

So, kalau dari aku pribadi.. sesekali menghapus kontak dan mengambil jeda menjadi penting ketika seseorang terasa mulai menebar hal-hal yang berseberangan denganmu. Dari pada capek hati, ujung-ujungnya dengki, mulai saring orang-orang mana saja yang mendatangkan kebaikan beserta manfaat jika kamu mau tetap saling terhubung dengan mereka tanpa banyak drama.

Kalau hidup di dunia hanya sementara, apalagi sosial media, jangan dibawa serius! Jadikan platform sosmed milikmu bukan untuk cari masalah, akan lebih baik jika serupa ladang kebaikan untukmu maupun orang lain. Open minded pada setiap perbedaan dan hal yang berseberangan. Jangan sampai kita layaknya balita yang sok punya sosial media. Dikit-dikit tantrum, wkwkwk!

Semoga bermanfaat :) Jangan lupa bahagia!

_____________________________


Magelang, 4 Februari 2021

2 Komentar

  1. Dari beberapa ulasan diatas saya stuju pisan mbk.. Tapi andaikala media sosial hanya untuk kepo sama ngurusin hidup orang lain kayaknya sangat tidak bermanfaat. Kalo masalah setatus, alangkah baiknya apabila ada problem jgn di umbar umbar di bikin status. Bukannya manfaat malah jdi kbnyakan mudorot nya.

    BalasHapus
  2. Terkadang memang banyak pengguna sosmed ini yg blm ngerti etika dalam bersosmed ya mba. Akupun capek kalo Nemu orang2 yg bawaannya baper tingkat dewa. Udh lumayan banyak temen dan keluarga yg aku delete dari pertemanan, Krn menurutku mereka baperan dan suka mempermalukan orang lain di timeline. Aku termasuk yg benci Ama tipe begini.

    Kayak ga bisa diselesaikan secara pribadi aja. Tapi bedain Ama yg curhat juga yaaa. Kalo itu aku ga masalah. Selagi cara menulisnya enak, tidak mempermalukan dan menghina secara lgs, aku bisa trima. Malah jd sedih, Krn pengen membantu kalo bisa.

    Intinya, akupun pgn orang2 itu paham dulu menggunakan sosmednya, sebelum memutuskan untuk pakai :D. Tau adab dan etika . Sosmed jd bahaya kalo usernya kebanyakan baper, apalagi cuma bisa share yg ternyata hoax :D.

    BalasHapus

Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah singgah dan membaca tulisan di Blog saya. Semoga bisa memberikan manfaat. Jangan lupa tinggalkan jejak baik di kolom komentar. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya. Ditunggu kunjungan selanjutnya :)