Setiap orang punya start dan timeline masing-masing. Kurang lebih begitulah kalimat yang membuatku tergerak untuk menulis postingan ini di blog. Rasanya kita memang seperti berpacu pada aturan-aturan yang menjadi ukuran "sukses" di kehidupan sosial saat ini. Banyak hal yang kemudian dipaksakan sebagai ukuran ideal bagi setiap orang, kendati tak menutup kemungkinan akan menjadi tak begitu ideal jika dilakoni oleh sebagian yang lain.

Jika tak sedikit yang sepakat pada standar normalisasi antara pencapaian seseorang dengan tahap usia tertentu, pasti ada pula yang menganggap bahwa itu semua bukan tolok ukur yang sudah pasti sesuai di setiap individu. Mengapa? Karena realita, tantangan, kesulitan, jam terbang, bahkan kemampuan masing-masing orang juga berbeda. Apa yang dihadapi di depan mata tak persis sama. Jadi apakah pencapaian atau sebentuk keberhasilan yang tertunda, tak ada yang layak dipukul rata. 

Misal, pendapat umum yang mengatakan bahwa di usia sekian seseorang seharusnya sudah cukup mapan dan mampu berdikari atas hidupnya sendiri. Lulus sekolah, kemudian kuliah, rampung kuliah lalu bekerja, beroleh kerja lantas menikah, setelah menikah memiliki anak, punya rumah, kendaraan pribadi, finansial oke, dan masih banyak lagi standar keberhasilan yang "seakan-akan" harus diikuti.

Sebab jika tak berjalan seideal itu, seolah-olah kita belum layak dikatakan berhasil. Kita belum menjadi versi manusia ideal yang dalam sudut pandang orang lain, semestinya begini dan begitu. Kemudian muncul perbandingan-perbandingan antara satu orang dengan orang lainnya. Kehidupan yang seharusnya bisa kita nikmati sesuai standar bahagia masing-masing, dengan sepenuh suka cita menggapai mimpi tanpa adanya frustasi, mulai terusik dengan perlombaan-perlombaan yang menggerus security dari dalam diri. 

Tak heran sih, mengapa banyak diantara kita yang mudah merasa insecure tatkala tanpa sadar tengah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Karena satu diantaranya, ada ketakutan terhadap judgement masyarakat yang ternyata pelan-pelan mulai tertanam di kepala. Belum rongrongan keluarga, kehendak orangtua, julidan tetangga, ekspektasi banyak orang yang seolah menjadi tekanan tersendiri.

Bagaimana jika seandainya kita tak sepenuhnya berhasil mengikuti standar ideal yang telah berakar dalam stigma turun temurun itu? Bagaimana jika kita tak jua berlari sekencang orang lain yang bahkan telah melesat jauh melebihi diri yang masih terseok-seok setengah mati? Bagaimana jika kita tak mampu menjadi manusia ideal dengan tingkatan prestasi berdasarkan ekspektasi orang lain tersebut, sedang usia pun kian bertambah dan pelan-pelan akan menua? 

Sampai akhirnya kita capek sendiri, 'kan?

Betapa melelahkan mengejar target-target yang seolah tak ada habisnya. Sampai-sampai kita sendiri lupa, apa value kita selama ini? Apa yang benar-benar kita percayai? Apa yang sesungguhnya ingin kita raih dan penuhi? 

Usia 20, 25, 30, 35, dan seterusnya.. mungkin perlu untuk berpatok pada waktu, agar memiliki motivasi diantara tenggat usia tertentu, kita dapat senantiasa bergerak lebih baik dari sebelumnya. Akan tetapi, mungkin sesekali kita perlu berefleksi jauh ke dalam diri. Apa yang sungguh-sungguh ingin kita kejar dan raih di dalam hidup ini? Apa sekadar memenuhi timeline selayaknya orang lain, atau memang timeline demikianlah yang ingin kita rancang dan canangkan di kehidupan sendiri untuk kemudian dijalani?

Apa panggilan hatimu?

Jangan berlelah-lelah menjadikan diri dan kehidupan sendiri selayaknya ajang balapan. Mati-matian berlomba dengan kehidupan orang lain, sampai lupa dengan target diri yang sesungguhnya. Karena sekali kita gagal, mungkin kita akan terpuruk tanpa seorangpun mampu mengerti atau bahkan peduli. Jika berkali-kali gagal, hanya ada dua kemungkinan.. kita terus bangkit dan menjadi lebih baik dan kian tangguh dari sebelumnya, atau tanpa sadar memadamkan kebahagiaan di dalam diri yang telah lama kita tampik. Demi apa? Demi sebuah pencapaian, dan adanya pengakuan.

Apa itu yang kita butuhkan?

Apa itu yang sungguh-sungguh kita kehendaki?

Jadi, jika di usia 20-an kamu mungkin masih berjuang menuntaskan skripsi dan mengejar target menyelesaikan kuliah, atau kamu masih berkutat dengan pekerjaan yang sama, atau bahkan masih menunggu panggilan kerja, masih mematut diri diantara lembar kertas berisi daftar impian, ketika yang lain mungkin sudah mulai menapaki fase yang melebihimu.. it's okay! 

Itu pencapaian di arena balapnya sendiri. Bukan arenamu. Fokus saja pada apa yang ada di depanmu. Apa yang harus diselesaikan, apa yang harus dikerjakan, apa yang harus dikejar dan layak untuk diperjuangkan.

Sesekali menoleh ke rumput tetangga, atau menilik isi piring orang lain, boleh.. jika itu memberikan kita suntikan semangat untuk terus bersinergi terhadap diri sendiri dan impian yang dipercayai.

Tetapi jangan lupakan, bahwa setiap orang memiliki target dan prioritas yang berbeda dalam hidupnya.

Apa yang menjadi milik orang lain, tak selalu baik jika saja itu menjadi milik kita.

Apa yang menjadi pencapaian orang lain, tak selalu cocok jika menjadi pencapaian diri kita.

Kehidupan yang sedang dijalani oleh orang lain, belum tentu menyenangkan jika kita yang menjalaninya.

Di setiap kita ada kapasitas tersendiri, di setiap kita memiliki kapabilitas yang memang sudah paling klik dan sesuai dengan nilai prinsip yang diyakini oleh diri masing-masing.

Jadi sekiranya hari ini kamu merasa insecure dengan diri sendiri, dan membandingkan diri dengan orang lain, mungkin karena kamu terlalu berfokus pada apa yang telah orang lain capai. Bukan apa yang telah sungguh-sungguh kamu perjuangkan selama ini, yang menguras energi, waktu, pikiran, dan perasaan.. sampai menyita waktu tidurmu. Mungkin sudah lama kamu tak menyapa kembali hasrat paling dalam yang pernah membuat semangatmu menggebu-gebu.

Coba cek lagi, mungkin harus ada yang diperbaharui? Mungkin kamu perlu membangun koneksi ke dalam diri sendiri?

Jangan salah, karena sebenarnya kita bisa memutus koneksi ke dalam diri jika terlalu memusatkan perhatian pada apa yang ada di luar diri.

Terkadang, aku sering bercengkrama ke dalam diri. Menulis kata-kata terdalam untuk perasaan tidak nyaman, kecewa, sedih, atau apapun yang sedang di fase rendah dan menyapanya dengan panggilan dear insecurity. Setelahnya aku akan menyampaikan hal-hal apa yang membuat tak nyaman, sedih, kecewa, baru kemudian menulis kalimat-kalimat melegakan yang dapat membesarkan hati. Memantik kembali kepercayaan dan semangat dalam diri.

Itu karena, tak ada yang benar-benar bisa melakukan itu atas dirimu selain, ya dirimu sendiri.

Jika hal-hal di luar sana mampu menguras energimu, mengalihkan fokusmu.. kamu pula yang memiliki kendali untuk kembali terhubung ke dalam sana, mengumpulkan satu persatu keyakinan yang mungkin sempat tak terawat.

Pada akhirnya, kita tak bisa memenuhi seluruh patokan yang dibuat oleh manusia.

Yang perlu kita lakukan adalah menjadi berarti, bermakna, dan berdaya atas diri baru kemudian menyalurkan kebermanfaatan tersebut ke luar diri. Ada banyak wujudnya. Ada banyak jalannya. Sesuaikan saja dengan kemampuan diri yang dipunya.

Kemarin aku menulis ini di status WhatsApp pribadi, sepertinya related dengan postingan ini :


Kita ini, entah orang lain akan melihat atau menilai kita sebagai apa.. tak sama sekali merubah value kita, atau bahkan menjadikan kita manusia tanpa makna yang tak punya visi misi sesuai tujuan mengapa Allah hadirkan kita ke dunia. Entah dengan kelebihan apa, entah dengan kekurangan yang bagaimana, temukan saja peran terbaikmu. Lakukan yang terbaik! Sampai benar-benar ikhlas seperti halnya 'napas'. 

 


 

Semoga bermanfaat. Tetap semangat, terus berkarya, berdaya, bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Just do your best!


_________________________________


Magelang, 6 Juli 2022

copyright : www.bianglalahijrah.com

1 Komentar

  1. Dulu aku terlalu fokus Ama segala pencapaian orang lain mba, sampe lupa Ama target sendiri. Alhasil suka stress, iri, kenapa sih ga bisa kayak orang tsb.

    Tapi lama2 setelah capek sendiri, stress, bawaan jadi marah2, trus diingetin suami, kalo percuma aja selalu melihat ke pencapaian org, akhirnya JD sadar utk fokus Ama goal sendiri. Mungkin hasilnya ga sebaik orang lain, tapi itu usaha dan kerja keras kita yg maksimal. Jadi bolehlah untuk dibanggain.

    Setelah sadar salahku di mana selama ini, ga mau lagi buat ngebanding2in diri dengan yg lain. Udahlah fokus ke target pribadi šŸ˜

    BalasHapus

Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah singgah dan membaca tulisan di Blog saya. Semoga bisa memberikan manfaat. Jangan lupa tinggalkan jejak baik di kolom komentar. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya. Ditunggu kunjungan selanjutnya :)