Saat sedang scroll di timeline instagram, sebuah video dengan durasi singkat hanya 30 detik tak sampai semenit.. menayangkan seorang ibu-ibu yang sedang marah kepada tetangganya. Penjelasan yang ada di video tak menjelaskan detil kejadian secara keseluruhan, kecuali sebab kemarahan si ibu yang tak senang tetangganya memasang wifi.

Dalam kehidupan sehari-hari, hidup bertetangga tak bisa lepas dari kecenderungan manusia sebagai makhluk sosial.. tentu akan tetap berinteraksi dengan orang lain bagaimanapun caranya. Secuek apapun seseorang yang terkesan individualis, ia akan tetap keluar dan bersinggungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Hidup bertetangga, akan terasa nyaman dan aman jika bisa saling menjaga privasi dan adab antar satu sama lain. Belum lagi karena ada keharusan untuk berbuat baik pada tetangga dan itu jelas termaktub dalam dalil baik itu Al-Qur'an maupun hadits.

Faktanya, tak banyak orang yang memahami adab bertetangga sebagai patokan yang harus diikuti sebagaimana apa yang Rasulullah contohkan. Bukan saja karena melakukannya adalah perintah syar'i,  melainkan agar hidup bertetangga dapat saling memberikan manfaat dan kebaikan secara berkesinambungan, terus menerus dalam ikatan ukhuwah Islamiyah yang terjalin kuat.

Bayangkan saja, jika kebetulan kita sedang berselisih dengan tetangga dekat.. ingin menyapa sungkan, tak menyapa akan semakin serba salah. Mengingat di dalam Islam sendiri, membiarkan kemarahan lebih dari tiga hari sudah dihitung perbuatan tak baik yang hanya menambah dosa. Jelas akan menambah rasa tak enak hati bagi yang paham.

Bagaimana dengan mereka yang tak paham, atau sudah tahu ilmunya hanya saja belum terbuka hatinya untuk mengamalkan ilmu yang diketahui? Mereka tak jarang menguji kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita diamkan mereka tak sadar diri, kita tegur mereka melewati batasan.

Melihat urgensi untuk berbuat baik kepada tetangga. Bahkan membuat Rasulullah sempat mengira bahwa tetangga juga dapat menjadi ahli waris. Dikarenakan malaikat Jibril berkali-kali mewasiati Nabi perihal berbuat baik kepada tetangga. Rasulullah juga berulang kali mengutarakan kalimat sama tentang ketidaksempurnaan iman seseorang jika ada tetangganya yang tak merasa aman dari perbuatan buruk/kejahatan orang tersebut. Ini dijelaskan pada hadits yang sama-sama diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Kita sungguh tak bisa lepas dari orang-orang yang hasad. Orang-orang yang senang mempermasalahkan orang lain sebab tak menyenangi kelebihan yang ada pada orang tersebut, sehingga sengaja ia cari-cari kejelekannya untuk diumbar menjadi masalah.

Kita tak bisa membuat hati seseorang yang diisi kedengkian untuk condong dan menerima kebaikan yang kita beri tanpa penuh praduga sama sekali.

Selamanya, kita takkan sanggup menyenangkan watak manusia manapun yang standar ukurnya sangat relatif. Baik bisa jadi salah bagi seseorang yang percaya bahwa kebaikan itu adalah kesalahan. Buruk akan jadi benar bagi mereka yang meyakini bahwa keburukan tersebut adalah kebenaran. Sangat relatif. Tergantung perspektif masing-masing orang, pengalaman, dan pemahaman yang dimilikinya.

Tak mudah sekali hidup bertetangga dan terus melapangkan dada saat berhadapan dengan tabiat orang yang sengaja menguji sabar. Seperti halnya ketika seseorang dengan sengaja menutup pintu dengan kencang, lengkap dengan gorden-gorden jendelanya, begitu kamu melewati teras rumahnya. Padahal kita tak pernah membuat masalah atau cari gara-gara pada siapapun. Sudah begitu, kita masih harus menata hati untuk tetap berprasangka baik.

Juga ketika ada tetangga yang bercanda tetapi dengan sengaja menoyor kepalamu tak hanya sekali, tetapi di setiap kesempatan. Rasanya tak lazim jika ada orang dewasa yang tangannya ringan sekali menyosor maju saat bercanda dan yang disasar adalah kepala lawan bicaranya.

Tak mudah saat seseorang terus saja mencari sumber masalah untuk diungkit-ungkit dan membuatmu tersudut sekaligus marah, sedang kamu pun berjuang menahan diri agar tak terpancing kemudian impulsif. Karena kita diperintahkan untuk tetap berbuat baik, sedongkol apapun rasanya hati. 

Betapa dewasa bukan hanya tentang angka usia yang kian menua, banyak sekali orang dewasa yang masih bertingkah balita, menuntut pembenaran, melempar kesalahan, enggan mengakui keburukan diri sendiri. Tak ada kamus introspeksi bagi mereka.

Sedih rasanya, ketika kita gagal merangkul hati seseorang yang setulus apapun kita menyodorkan kebaikan, baginya hanya sebuah keburukan yang berujung kesalahpahaman belaka.

Rasulullah memberi anjuran untuk melebihkan masakan agar dapat berbagi pada tetangga. Rasulullah menjelaskan tentang keutamaan saling memberi hadiah terhadap tetangga. Di waktu bersamaan, ada tetangga yang jangan kan memuji atau berterima kasih pada makanan yang dikirim untuknya.. justru secara blak-blakan mencela makanan di hadapan pemberinya.

Salah satu tanda sempurnanya iman adalah memuliakan tetangga, kendati kita berhadapan dengan tetangga yang justru senang menyulitkan orang lain. Terang-terangan menunjukkan rasa dengki. Sengaja mencela dan senang melukai hati orang lain. Bikin serba salah ya!

Muttafaqun alaih berkata, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging yang jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Dan itu adalah hati.

Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Dr. Ahmad Farid juga dijelaskan, bahwa ada namanya hati yang sakit.

Hati jenis ini hidup, tetapi ia berpenyakit. Ia menyadari adanya cinta, keimanan, ikhlas dan tawakkal pada Rabb-nya. Tetapi juga berambisi atas kesenangan, memiliki rasa dengki dan juga kesombongan, tak jarang ia menjadi ujub pada diri sendiri.

Kita mengenal sosok yang taat beribadah tetapi juga tak memiliki empati, mudah sekali menyakiti perasaan orang lain, baik dengan tindakan maupun lisannya.

Sulitnya saat kita ingin menyadarkan orang-orang seperti ini, mereka enggan menerima nasehat sebab menganggap dirinya lebih benar. Teringat ucapan seseorang dalam sebuah kajian. Kita bisa mendakwahi siapa saja, kita dapat merangkul siapa saja untuk berjalan seiring di jalan dakwah, kita mungkin tak menyerah dengan berbagai penolakan yang didapat, tetapi hidayah tetap mutlak iradah Allah.

Termasuk ketika berusaha bertahan menghadapi perlakuan tetangga yang tak menyenangkan, meski berkali-kali kita mendekati.. jika hati tersebut kering, jika ia lebih memilih untuk tetap sakit, hanya Allah yang menjadi penentu apakah ikhtiar kita akan berhasil atau tidak. Barangkali merangkul orang itu dengan doa-doa baik menjadi jalan terakhir. Sembari meluaskan rasa sabar pada diri sendiri untuk menerima sikap dan perlakuannya yang tak menyenangkan.

Walau pada kenyataan, kita memang masih sering menanggapi hal-hal yang sebenarnya cukup didiamkan saja. Mungkin tak sadar membalas perlakuan orang lain yang tak mengenakkan. Masih sering berbatas sabar dalam menghadapi tetangga-tetangga yang menepikan adab sebab faktor SDM dan lingkungan tempat tinggal.

Aku juga masih suka misu-misu, ngedumel, ngegerundel, jengkel, ketika ada tetangga yang sengaja sekali memancing kemarahan diri. Ujung-ujungnya cuma bisa bilang, "yang sabar yaa.."

Betapa hidup bertetangga itu tak mudah apalagi di lingkup dusun yang tak sedikit orang menjadi latah, gumunan, segala sesuatu mudah menjadi buah bibir di keseharian.

Seperti saat kita memilih untuk lebih banyak di rumah, jarang nonggo, di perkotaan mungkin bukan masalah atau hal baru ya. Tetapi di desa bisa dianggap kurang interaksi. Walaupun setiap kali keluar, tetap menyapa ramah orang-orang sekitar. Bercakap-cakap seperlunya.

Jarang nonggo, bisa jadi jalan untuk meminimalisir waktu kumpul yang berpotensi membuka pintu ghibah. Jadi seperti kata Mbak Afin Yulia dalam updetan status facebook miliknya..

"Bertetangga yang baik itu bukan nonggo berjamaah, tetapi ulurkan tangan saat ada yang susah. Tetapi terkadang ada yang salah kaprah. Nggak nonggo katanya nggak nggenah. Nggak butuh tetangga."

Ada benarnya memang. Nggak nonggo sering diartikan nggak mau kenal tetangga.

Menurutku pribadi, interaksi yang sehat tak perlu menghabiskan waktu berjam-jam untuk bicara ngalur-ngidul setiap harinya. Tak perlu setiap hari meluangkan waktu untuk main ke tetangga. Pun ketika jam pulang menjadi molor karena disambung rumpi berjamaah seusai menghadiri kegiatan setempat. Sebab kita sungguh tak pernah bisa menyaring kata, sepanjang pembicaraan itu berlangsung. Apalagi emak-emak punya penyakit latah lan gumunan, betapa banyak di antara kita (para perempuan) yang tak sadar menambah dosa sebab ketergelinciran lisan.

Selama tetap menyapa saat bertemu tetangga, tersenyum, berbicara seperlunya. Mengutamakan berbuat baik dan mengulurkan tangan ketika sungguh-sungguh ada yang membutuhkan. Itu juga sudah baik kok.

Satu lagi, jangan buru-buru menjudge mereka yang seolah tak pernah meluangkan waktu untuk nimbrung berlama-lama di luar. Barangkali di waktu bersamaan, dia sedang sibuk mengerja tugas domestik rumah tangganya. Mungkin sedang direpotkan dengan anak-anak dan suaminya. Atau memiliki pekerjaan lain yang tak tampak di mata orang luar sebab harus dikerjakan di dalam rumah dan tersembunyi.

Seperti halnya menulis. Bagi yang tak paham, seolah hanya sedang duduk santai bermain laptop. Padahal ada yang sedang dikerjakan. Menulis artikel. Kirim email. Mengedit naskah. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dengan bantuan laptop, terlebih pada era digital saat ini disusul hadirnya pandemi yang apa-apa jadi serba daring.

Karena itu, ada hal-hal yang tak kita pahami dan kita juga tak perlu berspekulasi agar tak menambah ruang fitnah berkepanjangan.

Yukk ah, para tetangga budiman di manapun berada! Mari hidup berdampingan, rukun sentosa, minim ghibah, merangkul tak sekedar fisik tetapi juga hati, tersenyum bukan sekedar di wajah melainkan ramah lillahi ta'ala. Siapa sih yang nggak mau kenal tetangga lebih baik dan lebih dekat? Hanya saja ada hal-hal yang tetap memerlukan batasan. Toleransi itu acap berbicara tentang perbedaan bukan? Bagaimana kita menyikapi dan memahami semua itu dengan kaca mata utuh lah yang terpenting. Jadi bukan sebelah ya, apalagi kalau cuma pake frame tanpa kacanya, buram dong. Wkwkwk.

Sekian dariku, jangan dibawa serius meski tulisan kali ini agak serius, semoga bermanfaat! Jangan lupa bahagia! Tetap sabar yaaa. Saling sadar dan menyadarkan, saling sabar dan menyabarkan. Seperti halnya titah Allah yang termaktub pada surah Al-Ashr ayat tiga, coba deh dicheck. Peluk virtuall, darikuh! Emak muda beranak dua 😁

___________________________________


Magelang, 5 Februari 2021

copyright : www.bianglalahijrah.com

0 Komentar