Kepulangan seseorang selalu mengajarkan kita banyak hal. Dari merelakan, mengikhlaskan seiring waktu kemudian, lalu mengenangnya hanya dengan sekelebat ingatan perkara kebaikannya semasa di dunia. Bagiku kehilangan dua sosok yang memiliki tempat tersendiri di dalam hidupku, adalah momentum memaafkan. Di tahun yang sama aku kehilangan nenek dan ibu mertua. Di postingan lain aku akan menceritakan bagaimana ibu mertuaku berpulang. Terkhusus di postingan ini, untuk Mak'aji nenekku.

Aku ingat persis hari itu. Sehari sebelum beliau berpulang, salah satu paman menghubungi lewat panggilan video. Aku menatap tubuh Mak'aji yang terbujur lemah tatkala kamera diarahkan ke sosoknya. Nyaris tak kukenali. Hanya tulang terbungkus kulit, area mata dan pipi terlalu cekung untuk mengingat lesung pipi yang beliau punya. Lalu keesokan harinya, aku dikabari salah satu sepupu bahwa Mak'aji telah berpulang untuk selama-lamanya.

Seakan menungguku untuk menatapnya di terakhir kali. Seolah memastikan, bahwa tak ada rasa sakit dari masa lalu yang kusimpan hingga memberatkan langkahnya.

"Maafkan nenekmu kalau ada salah, ya." Ucap pamanku saat panggilan itu terhubung, dan aku diperlihatkan kondisi terkininya Mak'Aji.

"Iye', Om. Sudah kumaafkan semua kesalahan Mak'aji."

Panggilan video tak berlangsung lama. Tapi aku juga tak bisa berbicara banyak. Selain menghubungkan fakta tentang kepergian Mak'aji saat kabar duka itu sampai ke Magelang, dengan dialog antara aku dan paman pada sore sebelumnya.

Bohong jika kubilang tak sedikitpun menaruh sedih di kedalaman hati. Seperti apapun sosoknya di mataku, sedalam apapun jejak luka yang membekas pada innerchild-ku, beliau tetap nenek bagiku. Tanpanya, tak ada Mamak.

Seiring doa yang melangit untuk Mak'aji, aku menangis tersedu sembari membaca kitab suci seusai shalat. Kukirimkan doa terbaik, kuhaturkan kerelaan untuk memberi maaf bahwa apapun yang terjadi di masa lalu, sudah berlalu. Aku tak hanya menutup lukanya, tetapi menjadikannya sebentuk pembelajaran untuk tak mengulangi perbuatan serupa.

Bahkan sekalipun bekas luka itu masih tertinggal di antara sudut bibir dan rahangku. Itu kenang-kenangan dari Mak'aji, tatkala aku tumbuh di bawah pengawasannya. Luka di fisik memang akan sembuh entah meninggalkan bekas atau tidak, tetapi luka di batin tak selalu sembuh semudah kulit yang terluka. Tetapi kupastikan, bahwa beliau pantas menerima maaf itu tanpa pernah memintanya terlebih dulu.

Dan bersyukur, sebab lima tahun sebelum kepulangan beliau ke rahmatullah.. aku sudah mengajak serta suami dan anakku untuk pulang menemui keluarga besar. Itulah makna pelukan erat Mak'aji pada suami dan anakku. Meski ia masih bersikap dingin dan berkata sinis, itu karena Mak'aji terlalu gengsi menyebut aku lah cucu perempuan yang ia sebut-sebut ketika mengingat sosokku.

Mak'aji, tenanglah di sisi-Nya. Luka pengasuhan yang kuperoleh darimu akan menjadi semacam alarm kompas, agar aku menjadi versi orang tua terbaik bagi diri sendiri terutama untuk anak-anakku. Terima kasih pernah merawat kami, ketika bapak dan mamak sibuk bekerja demi menghidupi keluarga.

Tak sekalipun aku pernah bertanya makna perlakuan tak adilnya, arti kecemburuannya yang tak beralasan bahkan ketika melihat Lato'aji memanjakanku. Pun ketika ia terus menerus mencari kesalahanku demi melihat mamak memarahiku lantas melayangkan pukulas keras. Kupikir, Mak'aji tentu memiliki luka di dalam dirinya.

Bukankah orang yang melukai sejatinya adalah orang-orang yang sama terluka? Orang-orang yang belum mampu sembuh dari lukanya?

Saat menulis ini, barangkali aku telah memulihkan diri dari luka-luka yang tadinya menyesakkan itu. Lihatlah Mak'aji aku tak menangis sesenggukan, dan tak pula memukul sesak di dalam dada. Aku tak lagi mempertanyakan takdir, dan menyalahkan hal-hal yang telah berlaku, termasuk alasan pasti mengapa dulu diperlakukan demikian.

Maaf sebab aku tak memiliki banyak memori tentang seorang nenek yang menyayangiku tanpa pamrih dan pilih kasih. Aku hanya mengingat satu hal, bahwa semua luka pengasuhan itu, yang sebagiannya kuperoleh darimu... membentukku sekuat ini. Menjadikanku jauh lebih tangguh. Setidaknya aku memiliki cermin untuk berkaca diri, bahwa hal salah tidak untuk diteruskan atau pun diturunkan kembali.

Sebagaimana Mak'aji selalu mengataiku dengan doa tak layak didengar, aku mungkin pernah menjadi gadis yang dimatanya suka membangkang. Di hari ini, aku memaafkan diri sendiri. Itulah caraku melindungi diri dari orang-orang dewasa yang amat narsistik dan berpandangan misoginis. Menganggap kelahiran cucu perempuan tak lebih berharga tatkala menyambut kelahiran cucu laki-lakinya. Yang menakar lauk di piring kami akan jauh berbeda, mengikut gender masing-masing.

Tapi, aku memiliki ingatan yang lekat tentang rasa nasu-nasunna Mak'aji. Masakan ikannya, sambal udangnya, menu-menu yang ia hidangkan di hari raya kendati tak sempat mencicipinya kembali.. aku masih mengingat rasa makanan-makanan itu.

Semoga aku sempat berhasil menorehkan kebanggaan pada diri Mak'aji. Untuk membuktikan sampai harus melangkah sejauh ini dari keluarga, bahwasanya anak perempuan yang terlahir memiliki kemampuan untuk berdaya atas diri dan keputusan hidupnya sendiri. Tak selamanya anak perempuan serupa beban dalam keluarga, hingga harus dinikahkan sesegera mungkin demi tak menjadi fitnah katanya.

Dan kuharap, baju batik terusan yang pernah kubelikan dulu menjadi kenang-kenangan dari cucu perempuan yang pernah tak disukainya ini. Lalu ketika pulang kembali setelah bertahun-tahun pergi, aku melihat gurat Mak'aji yang tak lagi sebenci dulu. Sekalipun ia tak memuji atau mengapresiasi, aku tahu ada pembuktian yang telah kuletakkan di hadapan Mak'aji.

Aku tak perlu menanyakan alasan ketidaksukaannya itu. Sebab begitulah Mak'aji memandang anak bahkan cucu perempuannya. Entah jenis luka macam apa yang beliau punya. Sampai-sampai lupa bahwa setiap generasi bahkan juga dilahirkan oleh seorang perempuan, sama sepertinya.

Tenang ki' di sana ya Mak'aji, maafkan keberanianku dulu demi membantah setiap ucapanmu yang terasa tajam menusuk hati. Maafkan jika di matamu aku pernah menjadi cucu perempuan yang tak diharapkan, tetapi kemudian menjadi cerita yang disebut-sebut ketika sosoknya tak lagi ada di sekitarmu bukan?

Kumaafkan segala kejadian tak mengenakkan itu di masa lalu. Tak sama sekali ada sisa kebencian, kemarahan, atau ketidakrelaan dalam diriku saat ini. Aku telah belajar dengan baik Mak'aji. Aku sudah berdamai dengan bagian takdir itu. Maka doaku setiap kali mengingat sosokmu, semoga Allah tempatkan Mak'aji di tempat terbaik di sisi-Nya.

Semoga alam kubur Mak'aji dilapangkan, dan diterangkan oleh-Nya. Semoga Allah ringankan bahkan kurangi siksa kubur yang ada. Diterima segala kebaikan semasa di dunia, diampuni segala khilaf salah semasa hidup. Aku bersaksi, Mak'aji orang yang taat dalam beribadah. Sholat, mengaji, dan dzikrullah pada lisannya tak pernah terputus di hari-hari tuanya. Seperti bulir tasbih yang senantiasa ia bawa ke mana-mana. Aku bersaksi, Mak'aji orang yang senantiasa menjaga wudhunya.

Al-Fatihah untuk Latok'aji dan Mak'aji, nenekku yang saat ini telah berjumpa dengan belahan jiwanya di sana. Mak'aji yang sanggup tak menikah kembali, sebab baginya Lato'aji adalah suaminya di dunia begitupun di akhirat. Terima kasih untuk pembelajaran hidup yang hari ini bermakna sekali. Tenanglah di sana, sepertiku yang telah menemukan damai versi sendiri. Aku memaafkan, aku tak lupa, tetapi jiwaku telah benar-benar lapang meski tatkala mengupas kembali kisah-kisah yang ada di belakang sana :') 

Lihat, aku menulis ini dengan ringan tanpa terbebani sama sekali. Dan satu-satunya yang layak diingat dari setiap kepulangan, adalah kebaikan-kebaikannya semasa hidup di dunia. Begitupun tentang Mak'aji.


___________________________


Magelang, 9 Februari 2023

copyright : www.bianglalahijrah.com

0 Komentar