Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah img_0262.jpg

Setelah virus corona mewabah, berdiam diri di rumah menjadi keharusan yang menuntut banyak orang melakukan rutinitasnya dari kediaman. Termasuk saat sekolah-sekolah, instansi/perkantoran juga turut melakukan lock down demi menekan potensi meluasnya wabah di tengah-tengah masyarakat.

Tak hanya itu, pertokoan hingga ke departemen store sekalipun juga ada yang menyengaja tutup untuk mengikuti kebijakan pemerintah kota setempat, agar sama-sama mawas diri pada kemungkinan yang mungkin saja terjadi saat harus berinteraksi di pusat keramaian.

Dari social distancing hingga physical distancing. Kita semua tertuntut situasi untuk saling menjaga jarak dan melakukan pencegahan sebaik mungkin.

Sebagai emak-emak rumahan yang setiap harinya memang stay at home, mengikuti kabar berita terkini tentang virus corona beserta jumlah pasien yang bertambah, menghadirkan kekhawatiran lebih. Belum lagi di kondisi yang tengah berbadan dua seperti sekarang. Was-was, takut, cemas? Jelas iya.

Karena kita tak tahu kapan, di mana, bagaimana dan seperti apa persisnya virus ini menjadi ancaman bagi diri kita maupun setiap orang. Baik itu muda maupun tua. Jika bukan kita yang terkena virusnya bisa saja kita yang berpotensi membawa virus itu dan menularkannya ke orang lain.

Jadi jalan satu-satunya adalah taat pada ketetapan ulil amri untuk stay home, stay safe, stay healthy dari rumah.

Yang bisa dilakukan adalah mengikuti himbauan yang telah disebar oleh KKRI beserta GERMAS tentang tindakan pencegahan untuk melindungi diri sendiri dan tentu saja orang-orang yang dikasihi dari virus ini.

Kebiasaan cuci tangan yang sudah kita ketahui pun menjadi kebutuhan wajib. Apapun rutinitasnya, baik sebelum hingga sesudah, mencuci tangan menjadi sesuatu yang tak boleh ditinggalkan. Begitu pula dengan penggunaan masker yang semakin ke sini seolah barang langka, mahal, dan diburu banyak orang.

Dari hand sanitizer, masker, hingga ke produk pembersih yang tadinya beredar luas tiba-tiba menjadi langka untuk diperoleh. Tak hanya itu, untuk mendapatkannya saja kita masih harus merogoh kocek melebihi harga sebelum pandemi ini meluas. Luar biasa bukan?

Dampak dari pandemi ini sepertinya mempengaruhi banyak hal. Terutama dari sektor ekonomi. Banyak pusat perbelanjaan yang tak lagi seramai biasa. Pedagang-pedagang kecil yang tertuntut untuk tetap berjualan demi menopang kebutuhan hidup, menerima imbas karena sepinya pembeli.

Dan lagi, peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga menjadi polemik lain yang hadir di tengah-tengah pandemi. Dari artikel yang kubaca tadi malam, meningkatnya laporan atas kasus KDRT besar kemungkinan karena dipengaruhi oleh faktor ekonomi di tengah kebutuhan hidup yang tertuntut untuk dipenuhi setiap harinya.

Bagaimanapun, pemerintah tak sepenuhnya bertanggung jawab atau turun tangan untuk memberikan tunjangan hidup pada banyak keluarga di situasi seperti saat ini. Di mana para kepala rumah tangga atau yang menjadi tulang punggung diharuskan cuti dari pekerjaannya.

Atau, ketika kesempatan untuk mencari penghasilan sampingan juga terkendala dampak dari adanya pandemi.

Jika membuka sosial media ada banyak sekali barang dagangan yang digelar murah begitu saja. Bahkan baru-baru ini ada yang sampai terpaksa menjual panci karena sudah sangat membutuhkan uang.

Lock down terus berjalan tetapi pengeluaran harian juga tak terelakkan. Kita hanya bisa memupuk sabar. Tetap berpikir sehat. Dan stay strong di tengah gempuran situasi.

Sewaktu membeli sayur di pedagang sayur keliling, beberapa ibu berkumpul dan membahas keadaan yang ada dengan mimik serius. Ya, karena yang paling merasakan betul dilema dari situasi semua ini adalah para emak-emak di rumah.

Ketika harus mengatur anggaran sehemat mungkin. Saat harus tetap waras dengan keriweuhan anak-anak yang menambah daftar jam terbang hariannya. Belum lagi updetan ibu-ibu yang mengeluh stress saat harus mendampingi proses belajar sang anak di rumah. Jelas menjadi PR emak yang lagi-lagi bertambah.

Teruntuk kita semua, staying calm in a pandemic. Apapun situasi pelik yang bertambah dan harus dihadapi di tengah pandemi ini, semoga kita tetap bertawakkal pada qada dan qadar yang datang dari Allah.

Tak mudah tetapi bukan berarti kita tak bisa melaluinya. Di luar sana barangkali ada yang lebih sulit, ada yang lebih tak beruntung, ada yang lebih sempit kondisinya. Tetapi kita sama-sama berpayung doa, pasrah tapi tak menyerah, tetap kuat. Badai pasti berlalu. Aamiin insyaa Allah.

Stay home. Stay safe. Stay healthy. Save lives 😊

Magelang, 11 April 2020

Segala sesuatu hanya terjadi atas izin dan kehendak Allah. Masing-masing kita tak berjuang sendirian..

______________________

Disalin ulang dari postingan yang ada di akun Wordpress milikku. Semoga bermanfaat :)

0 Komentar