Beberapa bulan yang lalu, sebuah video berseliweran di Instagram. Tak sedikit orang yang membagikan video serupa. Video ini menceritakan tentang fenomena manusia dengan gadgetnya di masa kini. Ketika banyak orang yang tanpa sadar melepaskan kehidupan yang jauh lebih berarti demi kemewahan yang ditawarkan oleh teknologi.

Banyak orang yang kemudian terobsesi dengan dunia kecilnya, yang dibangun lewat perantara gawai beserta akses data Internet. Tanpa sadar hilang kepedulian, muncul kecurigaan antara satu sama lain, memudarnya kebersamaan yang seharusnya terbentuk kian lekat. Baik itu antara suami ke istri, istri ke suami, maupun anak-anak dengan orangtuanya.

Video ini hanya berdurasi selama satu menit. Tetapi telak menampar kesadaran setiap individu yang telah meluangkan waktu meng-klik video tersebut. Era digital yang katanya memberi banyak kemudahan ternyata juga merenggut sisi lain yang seharusnya kita dekap dengan hangat.

Pemberitaan terkini seperti menambah fakta baru yang justru membuat miris, terutama aku sendiri sebagai seorang ibu. Diberitakan bahwa salah satu rumah sakit jiwa yang ada di Cisarua, Jawa Barat, saat ini tengah menampung banyak kasus ODMK (orang dengan masalah kejiwaan). Yang membuat sedih, pasien-pasien tersebut didominasi oleh anak-anak dari usia lima tahun hingga delapan tahun.

Hati orangtua mana yang tak masygul melihat buah hatinya terkungkung dalam sepetak ruang di kamar rumah sakit jiwa? Tetapi tak ada yang perlu dituding untuk bertanggungjawab lebih soal ini. Orangtuanya lah yang tahu persis. Tindakan paling tepat adalah merelakan ananda untuk beroleh penanganan segera. Menyadari betul kekeliruan dalam bentuk apa yang sudah orangtua perbuat.

Kerap kita merasa telah memberikan hal yang mudah bagi anak. Sesuatu yang kita rasa akan baik-baik saja. Tetapi ternyata, hal itu lah yang pelan-pelan menjadi lumpur hidup dan menarik ananda pada jurang yang lebih dalam.

Sebelum bertambah korban baru, orangtua punya andil besar dalam fenomena ini. Kita tentu tak menyangka bahwa gadget akan menjadi candu yang merusak kejiwaan ananda. Apakah ananda kita yang salah? Mari ingat lagi, orangtua lah yang lebih dulu memperkenalkan gawai tersebut dengan niat memudahkan urusan ayah bunda. Lantas, apakah gadgetnya yang salah? Benda yang ketika kehabisan nyawa tak bisa merecharge baterainya sendiri kecuali kita yang memasang kabel charger pada colokan listrik, tentu tak tahu menahu jika ternyata dirinya adalah benalu.

Lagi dan lagi, menyadari posisi sebagai orangtua adalah kunci. Barangkali kita keliru. Barangkali kita terlalu pewe. Mungkin kita sendiri lah yang menjerumuskan ananda. Anak-anak yang seharusnya menikmati masa bermain, eksplorasi, tertawa dan bahagia. Tetapi justru mendarat di bawah atap rumah sakit jiwa.

Remaja yang seharusnya tekun belajar demi merajut mimpi di masa depan, harus direhabilitasi dini.

Kita sedih sebagai ibu. Pemberitaan yang tayang di layar kaca menjadi bukti. Gadget bukan lagi perkara sepele dengan dalih "yang penting bocahe anteng..".

Lantas, ketimbang merundung diri dan merasa gagal. Apa yang harus kita perbuat?

1. Introspeksi diri

Mengingat lagi moment pertama ketika ananda mengenal gadget untuk pertama kali. Jika kita yang berkontribusi untuk itu, minta maaf pada diri sendiri dan renungkan kembali. Kita selaku orangtua bukan malaikat, sebatas manusia yang memiliki kekurangan di sana-sini. Sebelum menjadi orangtua, tak ada sekolah khusus untuk menjadi orangtua yang baik.

Kita akan melakukan beberapa hal salah atau keliru. Sebab itu kita dituntut untuk belajar terus menerus. Anak-anak lah yang kemudian mengajarkan banyak hal, bahwasanya kita tertempa dan menjadi lebih baik karena ananda sendiri yang menjadi guru di balik itu. Kita lah yang beroleh banyak dari ananda. Kita lah yang sungguh-sungguh belajar setelah kehadiran ananda.

Maafkan diri, kemudian benahi.

2. Minta maaf pada ananda

Sejak hamil Aidan, aku banyak membaca buku-buku parenting. Dari buku yang kubaca itu lah, aku tahu bahwa ketika anak berbuat salah. Saat anak menjadi sulit diatur. Barangkali itu adalah alarm dari Allah teruntuk kita orangtuanya. Waktunya meminta maaf kepada ananda. Barangkali ada kekhilafan yang luput dari kesadaran kita selaku orangtua. Minta maaf pula pada Dzat yang menitipkan ananda sebagai amanah. Tersebab kelalaian kita, anak-anak berbanding terbalik dari apa yang diharapkan.

3. Bangun ruang untuk kembali merekatkan kedekatan antara anak dan orangtua

Jika anak sudah terlalu adiktif pada penggunaan gadget, mulailah dengan membuka komunikasi yang terbuka. Baik antar pasangan. Maupun kepada anak-anak. Ciptakan waktu kebersamaan yang lebih memaksimalkan bonding terbangun dengan baik. Pada saat itu, beri anak pemahaman jika penggunaan gadget yang tak baik hanya akan berakibat buruk baginya. Sampaikan dengan bahasa halus agar anak merasa dirangkul, bukan dengan digertak apalagi dihukum keras.

Cara yang salah hanya akan menjadikan anak semakin stress, marah pada orangtuanya, berimbas pada anak yang semakin sulit diatur. Sebab mereka merasa haknya dicabut paksa, orangtuanya adalah benteng yang harus dilawan. Ingat, semakin kencang kita melempar bola ke dinding maka semakin kencang pula ia berbalik memantul.

Rangkul ananda, tunjukkan bahwa yang ia butuhkan saat itu adalah kehadiran orangtuanya sehingga ananda pun merasa nyaman dan manut saat diberi wejangan. Rangkul dan bonding pada anak.

4. Beri alternatif lain dan alihkan perhatian anak dari gadget

Jika ayah atau bunda langsung menarik paksa gadget dari genggaman anak, yang terjadi justru perlawanan. Anak menangis, bahkan tantrum. Ingat kejadian saat Agustus lalu? Ada anak yang mengamuk dan merusak pintu hanya karena pemadaman serentak dan gadget kesayangannya mati.

Sebegitu candu hingga mempengaruhi emosional sang anak.

Kembali lagi, seberapa sibukkah kita hingga tak sempat memantau waktu anak-anak?

Beri alternatif untuk mengalihkan perhatiannya. Seperti kisah seorang ayah di Tiongkok yang menciptakan berbagai jenis permainan kreatif dari bahan kardus bekas. Ia tak ingin masa kecil anaknya terenggut teknologi lebih dini. Karena itu ia menciptakan berbagai permainan handmade mulai dari tetris, maze game, marble run, papan labirin hingga ke track mobil-mobilan.

Kalau ingat zaman kecilku dulu, begitu ceria dengan permainan anak-anak tradisional yang saat ini justru kian memudar. Sedikit anak yang masih mengenal permainan tradisional, sekalipun itu yang berasal dari daerah sendiri. Anak-anak justru berbalik pada game online maupun aplikasi game yang ada di gadget.

Bagaimana jika orangtua mengajak anak bermain ala permainan tradisional yang dulu pernah dimainkan saat kecil? Seperti bola bekel, gundu, petak umpet, congklak, lompat tali, gobak sodor, panggalan, dan lain-lain. Apa yang masih terekam dalam ingatan ayah bunda?

Sembari melestarikan kembali permainan tradisional khas anak-anak daerah, kita juga meminimalisir penggunaan gadget dengan mengalihkan fokus anak ke hal lain.

Untuk kami sendiri, membaca buku cerita adalah trik jitu untuk membuat anak tak melulu beralih ke gadget. Dan itu berhasil, secara tak langsung kita juga menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku dan literasi. Cerita selangkapnya bisa di baca di sini : [Manfaat Baik Membacakan Anak Buku Cerita Sejak Dini].

5. Arahkan talenta dan pahami minat anak

Contoh konkrit dari Om dan Tante di Batam, sejak kecil mereka tahu ananda pertama mereka gemar pada permainan sepak bola. Karenanya, minat dan talenta itu mereka asah dengan memberi dukungan, apresiasi, termasuk sarana yang memadai.

Hingga kini, ketika anak mereka remaja. Rizky berhasil mengikuti perlombaan sepak bola mewakili kota Batam hingga ke tingkat provinsi. Baru-baru ini mereka bertolak ke Jakarta.

Membanggakan bukan? Dari hobby ternyata juga bisa menghasilkan.

Tak ada salahnya menengok apa yang menarik minat anak dan kecenderungannya saat ini. Tak melulu anak-anak harus lahir dan mengikuti obsesi orangtuanya.

6. Jadilah pedoman sekaligus idaman bagi anak

Anak sekarang pintar loh. Ada anak yang menjawab ketika dilarang bermain handphone. Jawabannya ringan, "Ayah sama bunda aja mainan hp kok, kenapa kakak nggak dibolehin?"

Jleb! Barangkali benar, anak adalah pantulan dari orangtuanya. Apa yang kita contohkan, itu yang akan dia lakukan. Apa yang anak lihat, itu yang akan ia tiru. Anak itu peniru paling ulung.

Mulailah dengan bersahabat dengan anak. Mendidik dengan cinta, sebab yang anak butuhkan adalah kasih sayang serta perhatian dari orangtuanya.

7. Sapih gadget

Mengurangi durasi secara perlahan, sembari terus memahamkan anak. Lakukan secara konsisten hingga anak benar-benar dapat terlepas dari pengaruh adiktif pada gadget.

8. Konsultasikan pada psikolog anak

Sampai di tahap ketika candu gadget yang terjadi pada anak sudah melewati batas wajar, segera bawa ananda untuk dikonsultasikan pada orang yang berpengalaman soal ini. Satu upaya yang bisa orangtua lakukan untuk menyelamatkan anak, sebelum keadaan menjadi lebih tidak terkendali. Tetap berpikiran positif, berkata baik, dan langitkan doa-doa yang baik.

Tahan gerutu agar tidak melompat keluar, karena ucapan ibu adalah doa bagi anak-anaknya.

.................

Postingan ini tak lebih sebagai pengingat bagi diri. Dalam realnya, aku juga belajar terus menerus untuk membersamai balita kami di rumah. Aidan Fayyadh Al-Fatih yang saat ini berusia empat setengah tahun. Alhamdulillah, ketergantungan pada gadget bisa berkurang. Bukan berarti Aidan tak lagi menyentuh smartphone milik orangtuanya, hanya intensitasnya lah yang berkurang. Dalam seminggu, maksimal dua sampai tiga kali sesuai waktu yang kami sepakati bersama.

Saat ini, justru ketika Aidan minta izin menyentuh gadget.. begitu kami bilang tidak, biasanya Aidan akan langsung mengurungkan niat. Jadi memang bertahap, tak serta merta dipisahkan begitu saja. Karena tadinya ananda kami juga sempat kecanduan pada video kartun yang ada di youtube. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa kebiasaan menonton youtube seharusnya tidak diberikan saat ini.

Tak ada orangtua yang sempurna, pasti ada saja kekurangannya. Sekalipun kita merasa sudah melakukan yang terbaik bagi anak, baik menurut kita belum tentu baik untuk anak. Jadi yang dapat dilakukan adalah terus belajar. Berbenah lagi, jangan berpuas diri. Sebab peran ini lah yang kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Semoga anak-anak kita menjadi anak yang shalih dan mushlih, kelak sebaik juga setinggi doa yang dilangitkan orangtuanya. Aamiin.


Semoga bermanfaat :)

_______________________________

a remind my self

Magelang, 18 Oktober 2019
Copyright : @bianglalahijrah

2 Komentar

  1. Satu kata, inspiratif! Tulisannya bagus-bagus.. bacanya nggak bikin bosan. Jadi nambah banyak ilmu main ke sini. Terus berkarya ya mbak bianglala :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Anonym : Aamiin, aamiin. Thanks for blogwalking :)

      Hapus

Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah singgah dan membaca tulisan di Blog saya. Semoga bisa memberikan manfaat. Jangan lupa tinggalkan jejak baik di kolom komentar. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya. Ditunggu kunjungan selanjutnya :)