"Karena tidak seorang pun dapat melalui kehidupan tanpa membawa bekas luka di pintu keluar." [Mark Manson]


Di usia yang tak lagi muda, ia tetap menyongsong hari dengan rutinitas sama dari pagi ke malam, dari bangun ke tidur. Baginya, mengeluh takkan membasuh peluh atau mengganti rasa lelah. Maka bekerja lebih giat, pasang senyum ke seantero jagad, sampaikan pada dunia bahwa pundak dan hatimu takkan runtuh meski bertubi uji merusuh. Itu bukan apa-apa bagi wanita paruh baya tersebut. Sebab keyakinannya telah kokoh, "Gusti Allah niku mboten sare. Nrimo ing pandum, insyaa Allah uripe sae.."

Mataku berkaca, kusebut ia dengan panggilan Budhe. Wanita tangguh, lebih kokoh dari bebatuan karang di tepi laut. Ujian yang menampar hidupnya bukan lagi perkara remah semata. Namun tapaknya tak jua mengisyaratkan gentar. Sebab baginya, itu sudah iradah-Nya.

______________


Muda, belia. Menikah dengan lelaki pilihan yang ia cinta nyaris di sepuluh tahun berjalan, dari awal pernikahan bermula. Bukan hidup jika tak memberimu pilihan. Tetapi tak selalu pilihan itu memberikan kebenaran maupun konsekuensi baik. Manusia adalah tempat salah dan khilaf. Ia pun mengakui itu. Ketika jalan salah ditempuhnya sebagai bagian dari garis takdir yang akan dijalani. Ia pikir sesaknya akan lepas, tetapi justru kian menderanya dalam sesal.

Baginya terluka adalah hal biasa, meronta pun tak lagi upaya sebab akan percuma. Sejak lelaki yang ia sebut bapak kembali menoreh luka bagi sang ibu. Ia menimbang garis seperti apa yang akan ia hadapi di dalam pernikahannya. Tawa kah atau airmata?

"Abang minta maaf, Dik." | Kalimat yang seharusnya membuka simpul yang menyesakkan dada tetapi justru terasa getir. Lirih perempuan belia itu berujar, "Terima kasih sudah seperti bapak."

_______________


Dipandanginya foto anak-anak beserta istri yang tersenyum seolah menatapnya dalam wajah masygul. Jauh nian jarak yang memisahkan mereka. Di zaman itu, teknologi bukan sebuah kemewahan yang mampu dinikmati orang awam selain kaum-kaum bernasib bangsawan.

Selembar foto pun menjadi pelepas rindu, sembari membayangkan sapa lembut istrinya. Gelak tawa anak-anaknya. Matanya sayu berkaca. Rindu, ingin pulang. Tetapi jeruji besi yang mengungkung terasa kian menjauhkan jarak untuk pulang menuju rumah.

Ia dengar, empat bulan pasca mendekam.. istrinya melahirkan anak ketiga mereka.

Sebelum insiden penangkapan itu, sebuah pasar menjadi heboh dan tumpah ruah dengan jejalan manusia. Pasalnya seorang bapak mencuri satu karung beras dari sebuah toko klontong milik toke cina. Ada puluhan warga yang menyerang si bapak secara membabi buta. Tanpa mau tahu alasan di balik itu. Mereka terus melayangkan tendang beserta tinju.

Sedang si bapak pasrah, wajah anak beserta istri membayang. Air matanya merembes tanpa tahu berbuat apa. Tak ada uang lagi. Tak ada apa-apa lagi. Tak ada pula yang peduli. Si bapak terpaksa mencuri lantas mendekam di balik jeruji. Sungguh ironi.

________________

Entah mengapa konten tulisan yang sudah kupersiapkan sejak pagi justru kutepikan begitu saja. Pikiranku tergelitik untuk menulis ini. Teruntuk para sosok-sosok tangguh. Orang-orang yang sejatinya adalah pahlawan, pejuang yang tak kenal patah arang.

Seorang wanita yang menua dengan segenap cita-cita di penghujung usia, yakni ridha Rabb-nya.
Seorang istri yang mengiklaskan kesalahan suami meski hatinya dirajam luka bertubi-tubi.
Seorang bapak yang buntu mencari sangu, tetapi tak ada ladang yang bersedia digarap. Siapa yang sudi memberinya beberapa perak uang, untuk membawa pulang bingkisan penunda lapar bagi orang di rumah?

Tulisan ini lahir untuk para pejuang tangguh di luar sana, mungkin pula di sekitar kita.

Yang memilih untuk tetap bertahan dalam kondisi paling riskan sekalipun.

Yang memilih untuk tetap bergerak maju walau jalan berkerikil batu. Tajam, melukai.

Untuk siapapun yang memilih mendedikasikan jiwa raga, mengikhlaskan luka, dan tetap menapak jalan yang ada di depan sana.. bersama secebik asa bahwa Tuhan tidak mungkin salah memilih pundak. Bahwa ujian yang datang tak mungkin melebihi batas kemampuan hamba.

Apapun itu, sesulit bagaimanapun jalanmu, terima kasih untuk tidak menyerah. Terima kasih untuk menjadi sebaik-baik penebar hikmah beserta ibrah. Ketika banyak orang yang kemudian akan belajar, tanpa harus mencecap rasa serupa.

Dan, di waktu ketika jiwa sedemikian lemah.. menoleh lah pada mereka, yang menggenggam bara bersama cita kemudian terus melangkah. Tak ada alasan untuk berbalik ke belakang, satu-satunya arah tuju adalah bergerak maju.

Teruntuk siapapun yang tengah berjuang. Kalian hebat, kalian luar biasa.

Kita tidak memilih kehidupan yang seperti ini; kita tidak memilih kondisi yang sangat mengerikan ini. Namun kita harus memilih bagaimana untuk menghidupinya; kita harus memilih bagaimana cara untuk bisa hidup dengan semua keadaan ini.

_____________________________________

Kita pun memilih tetap berdiri kuat. Untuk sekali lagi memeluk diri sendiri, meyakini hari esok akan jauh lebih baik. Mudah; hanya ketika kita memilih percaya dan tetap berusaha.

Inspirasi yang lahir dari menyusuri tiap jengkal perjalanan pulang. Berpapasan pada wajah-wajah lelah tetapi tak kenal kata menyerah. Seorang ibu yang menggendong ananda, di ingatanku masih terekam jelas wajahnya. Mereka masih di pinggiran jalan yang sama, menunggu iba manusia.

Magelang, 19 Oktober 2019
Copyrigt : @bianglalahijrah

2 Komentar

  1. Auto nangis saya mba.
    Cerita perjuangan hidup selalu menyentuh hati:(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masyaa Allah, terima kasih sudah membaca tulisan ini Mbak :) Semoga bermanfaat

      Hapus

Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah singgah dan membaca tulisan di Blog saya. Semoga bisa memberikan manfaat. Jangan lupa tinggalkan jejak baik di kolom komentar. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya. Ditunggu kunjungan selanjutnya :)