“Mas, gimana? Uangnya sudah dapat?” Tanya istri ketika sang suami baru saja tiba di mulut pintu bahkan belum sempat duduk jenak di kursi depan. Suami menarik nafas. Terasa berat. Ia memutar isi kepala untuk memberikan jawaban paling melegakan dan tak memancing wajah masam istrinya 24 jam ke depan.


“Mas hari ini belum dapat, Dik. Insyaa Allah besok atau lusa sudah ada.” Jawab sang suami menyabitkan senyum se-meyakinkan mungkin pada istrinya.

“Mas selalu begitu. Abai pada kebutuhan keluarga. Tak becus menafkahi anak istri.” Sejurus omelan dan uneg-uneg istri yang telah dinikahinya nyaris dua dekade itu menyambar-nyambar telinganya. Ia lelah. Ia butuh segelas teh hangat pereda dahaga. Ia butuh sepiring nasi penuntas lapar. Job mengojek hari itu juga tak seramai biasanya.

Kalimat terakhir sang istri disusul airmata yang berurai semakin membuatnya serba salah. Ah wanita, selalu saja mendayu-dayu soal membawa perasaan.

Ia mendekati sang istri. Tetapi istri yang kadung mutung menepis tangannya, lalu melengos masuk ke kamar. Kemudian dengan tubuh yang letih, ia mengurusi sendiri kebutuhan raganya untuk beroleh hak makan. Ia biarkan sang istri reda amarahnya, ia isi perut kosongnya.

Sembari memberi jeda agar satu sama lain tak buru-buru terpancing emosi. Dalam benaknya, uang dan ekonomi memang sumber utama yang jika tak dihadapi dengan bijaksana maka sanggup memecah belah sebuah keluarga.

***

Suatu hari di jam yang tak biasanya, ia tahu terlambat pulang akan dihadiahi sederet prasangka disusul wajah jutek sang istri. Sepanjang perjalanan, sambil berkendara, ia terus mengalunkan istighfar. Dalam hati merapalkan doa agar sang istri tak buru-buru merajuk dan marah atas keterlambatannya.

Sedang di rumah, sang istri tengah wira-wiri menunggu kepulangan suami. Ia sudah bersiap-siap dengan pertanyaan sejurus omelan yang akan ia lempar ke wajah suaminya. Benar saja, beberapa meter sebelum kendaraan sang suami tiba di latar rumah.. ia menghampiri suaminya dengan memasang wajah cemberut.

“Apa nggak sekalian nginap saja? Dinda kira Mas lupa arah pulang?” Ucapnya menyindir.

Sang suami hanya terkekeh. Dalam hati ingin jengkel tetapi juga gemas.

“Jangan marah dulu. Ini Mas bawakan martabak manis. Buah. Dan..”

“Ya sudah, Dinda bawa masuk ya.” Ucap si istri berubah mimik. Sang suami mengangguk dan mengecup kening istrinya. Kemudian membelai lembut perut yang kian menyembul itu.

Tips sederhana untuk melunakkan perasaan istri kadangkala sereceh itu. Bawakan seplastik bingkisan untuknya, tak perlu mahal, tetapi cukup untuk menawar hasrat mengomelnya setelah satu harian penuh menjadi penjaga rumah dengan segala rutinitas monotonnya. Bosan mungkin. Ngedumel adalah wataknya perempuan. Hasrat untuk menyalurkan. Sebab katanya, perempuan butuh mengeluarkan 20 ribu kata perhari.

***

Ah, tak habis-habis rasanya jika membahas kehidupan sehari-hari pasangan suami istri yang penuh dinamika beserta cinta. Jika tak cinta, mana mungkin berbagai babak drama pernikahan yang terlalui masih sempat-sempatnya melahirkan beberapa buah hati. Itu lah buah cintanya.

Karena itu menikah dikatakan sebagai komitmen membangun rumah tangga. Kita pada akhirnya akan mengerti, bahwa berbagai kriteria pasangan yang ditargetkan sebelumnya tak menjadi tolak ukur kelanggengan berumah tangga.

Bagi istri, yang ia butuhkan hanya lelaki sabar dan pengertian. Yang tak bosan mendengar ocehannya, yang siap memasang telinga serta pundak sebagai tempat bersandar. Lelaki yang akan menuntunnya menggapai ridho Allah sebagai kunci surganya.

Bagi suami, yang ia butuhkan adalah kawan di segala keadaan. Ia butuh menyalurkan hasrat di sosok yang halal baginya. Ia butuh dihargai, dihormati, diapresiasi dalam keberhasilan bahkan titik gagalnya sekalipun. Ia butuh dimengerti, usai berlelah-lelah melalui hari demi upaya menafkahi anak dan istri.

Dalam menikah, jika tak sabar maka sebentar saja mudah berpencar. Jika tak ada yang mengalah, dalam waktu singkat bisa saja berpisah.

Pada akhirnya, kita akan mengerti siapa yang paling banyak memintal sabar. Siapa pula yang memilih berbohong untuk menjaga hati pasangannya walau jiwa raga di waktu bersamaan tengah dirajam kesulitan dan rasa lelah tak terkira. 

Pada akhirnya, kita akan tahu siapa yang telah memeluk tabah dan memilih diam dengan mengalah. Siapa yang paling memaknai, bahwa tatkala pernikahan menghalalkanmu untuknya, ia pula lah yang dengan segala lebih dan kurangmu tetap pulang untuk merangkul meski segunung beban tengah dipikul.

Teruntuk para suami sabar yang telah tabah mengalah. Yang tak beringsut mendengar omelan istri kendati perasaannya sebagai lelaki dipecundangi. Terima kasih telah memilin sabar untuk hidup bersama. Sebab tanpa sabar dan kelapangan hati untuk menerima kekurangan sang istri, selamanya wanita yang dinikahi itu akan bengkok sebagaimana awal mula penciptaannya dari tulang rusukmu yang bengkok.

Karenanya rengkuh dengan kesabaran dan ketegasan yang tak akan membuatnya patah seketika namun juga tak bengkok untuk seterusnya.

Di tangan lelaki yang menyematkan visi misinya sebagai amanah dari Rabb-nya, seorang istri terdidik untuk menjadi sebaik-baik bidadari sekaligus pendidik generasi.

Di tangan perempuan yang berilmu nan qona’ah, tumbuh lah para jundi-jundi pewaris Nabi penegak kalam Illahi.

Pesan untuk kita para istri, ada dua jenis perempuan yang menentukan ujung keberkahan pernikahan dan kesuksesan seorang lelaki. Jenis yang pertama, istri yang menarik suaminya pada keridhaan Allah dan orientasi utamanya adalah akhirat. Jenis yang kedua, istri yang diam-diam mendorong suaminya ke neraka. Menjerumuskan suaminya dan melalaikan kewajibannya. Naudzubillah tsumma naudzubillah.

Kutulis ini sembari mematut diri. Jenis istri bagaimana kah kita ini?
Kutulis ini sembari membayangkan wajah suami. Sembari mengusap sudut mata yang berkaca sendiri.

Semoga dalam lelah dan saling bersama, surga hadir di rumah tangga kita, kemudian dikumpulkan kembali dalam Jannah-Nya. Aamiin ya mujiibu, allahumma aamiin.

Teruntuk para suami, terima kasih dan maaf setulus hati dari kami para istri, “Happy Father’s Day” untukmu. Karena telah berusaha menjadi sebaik-baik suami dan ayah bagi anak-anakmu 🌹❤

———————
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS Al Furqan ayat 74)
———————


Magelang, 📝 Putri An-Nissa Nailathul Izzah
Kamis, 12 November 2020
***
Disalin ulang dari tulisanku di facebook, sempat dipost di grup "Komunitas Bisa Menulis" sebelum grup hilang untuk kedua kalinya ^^ Semoga bermanfaat ..

6 Komentar

  1. Jadi inget saat baru pertama kali nikah... Saat itu ulang tahun pertama istri.. Istri yg suka mengeluh saat hp nya sering mati. Disaat itu alhamdulillah kami lngsung diberi kepercayaan sama Allah SWT. "Yah dede dalam prut mau denegerin ayat ayat suci alquran tapi sering mati hp nya'".. Hati ini sdikit meringis. Saat itu saya lagi enggk di rumah. Pas di ulang tahun nya mau kasih kejutan. Tepat di hari ulang tahun nya saya tak memberikan hadiah apa apa, uang yg saya kumpulkan ckup untuk membeli sebuah hp yang spesifikasi nya lumayan dan trjangkau harganya. Mskipun hp nya murah mudh mudhn bermanfaat. Kembali ke topik, saya psen hp trsebut dari sodara biar gk ketauan istri. Saya brpura pura keluar sebentar untuk membeli buah. Hp nya saya taro di bawah buah dan saya kasih ke istri sbagai hadiah ulang tahun nya. Saya gk bisa ngasih apa apa hanya ini yang bisa saya kasih... Pas istri saya buka mukanya sdikit agak kcewa karena hnya skedar buah jeruk saja. Pas dia lihat di bawah nya ada dus hp dia langsung kaget di kira saya lagi ngefrank. Pas di buka trnyata bnar hp nya ada. Alhamdulillah dia bahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masyaa Allah tabarakallah. Membahagiakan istri insyaa Allah hidup berumah tangga akan Allah limpahkan dengan keberkahan sakinah, mawaddah dan warahmah. Saling asah, asuh, dan asih. Pernikahan memang universitas kehidupan yang paling kompleks. Mendewasakan. Menjadikan kita bijaksana pada masanya. Menjadikan diri lebih matang dan mapan juga insyaa Allah. Terima kasih sudah berkunjung ke sini. Jangan bosan-bosan ya Mas :) Sehat selalu sekeluarga, aamiin

      Hapus
  2. Udah pernah baca di KBM, tapi entah mengapa baca ulang jadi nangis ya?

    Semoga kita semua diberi rezeki yang berkah ya, dan selalu bisa mensyukuri nikmat-Nya yang kadang kita nggak sadari kalau nikmat-Nya luar biasa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin allahumma aamiin. Terima kasih Mbak Rey :)

      Hapus
  3. 20ribu kata per hari??? Banyak amat ya. Jadi kalo masih kurang dari 20ribu, para wanita akan terus ngedumel sampe tembus angka 20ribu ya?! Bahkan kalo bisa mah sekalian aja tembus 60ribu kata, biar masuk Guinness World of Records, Hahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaa, realitanya begitu ya mau gimana lagi. Sudah fitrah para perempuan. Jadi sebagai bapak-bapak harap mengerti jika para istri mulai ngedumel sepanjang gerbong kereta api :D terima kasih sudah melipir ke sini, disamperin senior memang beda rasanya heheu

      Hapus

Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah singgah dan membaca tulisan di Blog saya. Semoga bisa memberikan manfaat. Jangan lupa tinggalkan jejak baik di kolom komentar. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya. Ditunggu kunjungan selanjutnya :)