Wajah wanita itu kusut dan pucat, terdiam di sudut kamar bersama sisa tangis di wajah, meski hatinya tetap menahan tangis dalam perih. Dipandanginya wajah laki-laki yang telah menemani sisa perjalanan hidupnya selama ini. Mungkin baginya saat ini, cinta yang dulu pernah ia rasakan bukan lagi sama dengan cinta yang saat ini ia jalani. Entah tunduk pada kata kewajiban atau takut dengan dosa yang akan menghakiminya jika ia keluar dari koridor kewajibannya meski menjalani itu semua dengan rasa sakit dan pedih. 

Baginya yang berharga bagi wanita di mana takkan ada satu orang pun yang dapat mengerti ialah tangis. Seperti yang kerap ia lakukan selama ini, jika sedih yang mengungkung jiwanya memaksa dan mendesak untuk tumpah ruah melalui air matanya, maka tak ada pilihan lain untuk tidak menangis. Entah apa yang ia lakukan hingga tak pernah sekalipun apa yang ia kerjakan benar dan menerima kata 'iya' dari laki-laki yang tertidur pulas tanpa memedulikan jiwanya yang memberontak untuk lepas dari ketidakadilan yang ia rasakan. Seperti inikah kodrat seorang wanita apabila telah menikah? Mengapa hanya wanita yang selalu disalahkan dalam kondisi dan situasi bagaimana pun.

"Mas, aku hanya meminta hakku yang sudah seharusnya engkau penuhi. Tetapi mengapa selalu kau yang merasa benar dan aku yang salah? Hanya karena permintaanku untuk dibelikan satu buah lemari pengganti rak kayu yang sama sekali tak mampu menampung pakaian yang kita miliki. Bahkan tikar usang yang sudah sobek dan hancur di mana-mana engkau abaikan begitu saja. Apa salah jika aku menuntut terlalu sering untuk waktu terlama aku menjalani keterbatasan ini? Terbatas untuk menyampaikan perasaanku, sakitku, dan keinginanku. Mengapa hanya kau yang merasa pantas untuk aku penuhi kewajibanku padamu? Lalu di mana hakku atasmu sebagai seorang istri?" Ia ingin berteriak dan menghempaskan amarahnya ke hadapan laki-laki yang sama sekali tidak memedulikannya. Tetapi mulutnya kaku dan tetap diam tanpa suara. Hanya gemerutuk gigi yang saling bertemu, seakan-akan ingin menghancurkan satu sama lain. Geram dan benci yang kini ia rasakan.

*****

Seminggu yang lalu...

"Mas, kapan kita bisa beli lemari pakaian? Tikar di kamar juga sudah seharusnya diganti dengan tikar yang baru. Mengapa Mas seolah tak peduli dengan kebutuhanku? Ini juga demi keperluanmu. Aku nggak enak ditegur sampai tiga kali karena tidak juga mengganti tikar yang ada di kamar. Mbakmu menduga bahwa aku yang sama sekali tak peduli dengan semua ini. Aku yang tak becus mengatur semuanya, padahal uang pun sepenuhnya Mas yang mengendalikan. Aku hanya bisa minta, kalau benar-benar sedang membutuhkan dan 'kepepet' nggak punya uang. Mana  janji Mas dulu?" Sutini hampir menangis melihat Pardi yang diam acuh tak acuh.

"Aku nggak ada uang. Nanti saja, kamu kan bisa bilang sama Mbak kalau aku yang nggak ada uang."

"Mas selalu seperti itu. Untukku tak pernah ada. Untuk teman-temanmu Mas akan mengupayakan segala cara untuk menyenangkan hati mereka. Mas juga nggak pernah peduli apa aku makan atau tidak di rumah. Mas nggak pernah peduli. Sedikitpun nggak pernah peduli!!"

"Sudah, sudah! Diam kamu, Sutini!" Bentak suami yang selama ini sangat ia kasihi.

"Astaghfirullah. Tega-teganya Mas membentakku seperti itu?!" Sutini mulai menangis dan meninggalkan suaminya yang sesekali menyembulkan asap rokok bersama seluruh kekalutannya.

Sutini adalah wanita yang sangat ia cintai. Tak sedikit rintangan yang telah ia lalui, hingga mampu menyunting Sutini sebagai istrinya. Dulu, dulu sekali... ia sampai rela menangis bagai anak kecil untuk mampu membuat hati gadis yang ia cintai itu luluh dan mau menerima cintanya. Telah banyak cara yang ia upayakan untuk mencuri hati Sutini. Tetapi kini, cinta yang dulu mereka miliki seolah pudar digerus oleh keegoisan dan keras kepala yang ia miliki. Entah ke mana cinta dan sayang yang ia pernah janjikan.

Pardi masih menyembulkan asap rokoknya dengan berat, seberat masalah yang mendera pikirannya. Himpitan ekonomi yang menjadi awal mula pertengkaran antara keduanya, juga belum menemukan jalan keluar dan penyelesaian. Dua pikiran yang jika disatukan dengan pemikiran yang jernih seharusnya mampu memberikan jalan keluar baik, yang membuat mereka mampu menyelesaikan masalah yang ada dengan jalan penyelesaian yang baik. 

****************************

"Seandainya saja ada pilihan untuk pergi, maka sudah jauh langkahku meninggalkan laki-laki ini." Gumam Sutini di dalam hati. Rasa cinta dan sayangnya hampir saja tak tersisa karena kebencian yang semakin mendalam di dalam hatinya. 

Wanita itu masih memandangi wajah laki-laki yang tidak lagi ia pandangi dengan penuh rasa cinta seperti yang selama ini ia lakukan jika tengah memandangi suaminya. 

"Aku lebih baik pergi. Duh Gusti, kenapa hidupku tak pernah menemukan kebahagiaan setelah menikah dengan laki-laki yang Engkau takdirkan untuk hidupku? Bukankah dulu Engkau sisipkan rasa cinta yang tak ada bandingannya di dunia ini hanya kepadanya? Mengapa pula cinta ini menghilang hanya karena kebencian yang tak seharusnya ada di dalam hatiku?"

***************************

BERSAMBUNG BESOK Yaaaa :)

4 Komentar

  1. duh dimana ni kewajiban seorang suami ,,
    kejaaaammm nya :'(

    BalasHapus
  2. Hehehe, ceritanya menohok jantung ya Mbak? :D Ojo mewek yow :)

    BalasHapus

Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah singgah dan membaca tulisan di Blog saya. Semoga bisa memberikan manfaat. Jangan lupa tinggalkan jejak baik di kolom komentar. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya. Ditunggu kunjungan selanjutnya :)