Detik ini aku sedang mendengarkan Ho'oponopono Song Radio, musik relaksasi yang bertujuan sebagai sarana self healing juga. Tepat di sebelah mejaku, tergeletak satu buah buku dari penulis luar Jackson Mackenzie dengan bukunya yang berjudul Whole Again. Buku yang sudah kutimang-timang beberapa hari ini. Berusaha untuk bisa bergerak sedikit demi sedikit, dan bertambah jumlah halaman yang telah terbaca. Buku yang lagi-lagi bertajuk self improvement. Ya, itu karena aku sedang fokus pada pemulihan sekaligus pengembangan diri sendiri.

Ketika sedang hanyut dengan irama musik yang bermain di telinga, mataku beberapa saat terpaku pada cover buku tersebut. Bukan karena covernya luar biasa, penuh warna atau berbagai ilustrasi cantik lainnya. Cover buku ini secara keseluruhan berwarna putih. Kecuali warna pada fontnya. 

Namun ada satu hal yang menarik. Aku tergelitik pada ilustrasi satu butir telur yang ada di sampul depan. Apa istimewanya?

Butuh waktu beberapa saat untuk menghubungkan itu di dalam kepalaku.

Istimewanya, karena ilustrasi telur ini pula yang kemudian memberiku inspirasi untuk duduk di depan laptop, dan kemudian menulis ini. 

Telur yang pada beberapa sisi terlihat retak. Di bagian retak itu ditutupi dengan plester luka yang umum kita gunakan ketika terluka. Sekilas tampak sederhana sekali ya?

Lalu, inspirasi apa yang aku dapatkan?

Jadi begini ..

Pernah tidak, kita berpikir jika diri kita itu seumpama sebuah telur. Ya, kayak di sampul bukunya Jack ini.

Bukan dalam arti harfiah ya. Namun hanya kiasan.

Jika kita adalah sebutir telur itu, maka luka-luka yang ada, pengalaman buruk yang pernah dialami, berbagai perasaan yang tak menyenangkan, emosi negatif, kemarahan, dendam, atau apa pun itu adalah retakan-retakan yang ada pada cangkang telur kita. 

Dan sekeras apapun kita melindungi bagian terdalam di diri kita, bukan berarti kita lantas takkan terluka. Seperti merasa sakit. Merasakan ketakutan. Ringkih, dan kadang kala begitu rentan.



Hanya setelah kita mencoba untuk menutupi retak pada luaran cangkang. Barangkali jejak retakan-retakan itu masih tetap ada, tetapi kita akan jauh lebih baik. Tak semakin parah, atau bahkan hancur sebelum tersentuh.

Sama seperti diri kita yang berusaha sembuh dari luka. Mungkin, akan tetap ada yang membekas di dalam sana, kendati kita sudah berhasil letting go.

Aku jadi menarik satu kesimpulan di sini. 

Sama halnya seperti diriku. 

Aku yang terluka, meski sekuat apapun upaya untuk denial/menyangkal.. selamanya ia akan tetap ada. Akan tetapi begitu aku mau menerimanya, berusaha menyembuhkannya, berusaha berdamai dengannya.. luka itu setidaknya tak akan menjadi lebih parah. Ia mungkin akan tetap membekas, tetapi diriku akan jauh lebih baik dalam bertumbuh, dengan begitu aku pun bisa pulih.

Perlindungan diri itu, meski sekuat apapun kita membentuknya. Ternyata masih memiliki kelemahan. 

Aku mungkin belum sepenuhnya menguasai seperti apa metode healing dengan teknik mindfulness yang disarankan oleh psikolog. Aku masih berusaha untuk mengafirmasi positif diri sendiri, secara terus menerus. 

Entah kebetulan, karena ketika sedang scroll di Instagram aku menemukan postingan dokter Jiemi Ardian, seorang psikiater. Dalam postingannya, ia sedang membahas mengenai Non Striving atau seri sikap mindfulness. Bahwasanya, mindfulness bukan tentang melakukan atau mencapai sesuatu dengan sempurna. Mindfulness juga bukan tentang melakukan sesuatu hal, kemudian betul-betul mencapainya.

Jadi, dari apa yang dokter Jiemi tulis.. mindfulness lebih pada bagaimana kita bisa membiarkan segala sesuatu berjalan dengan semestinya. Menjadi apa adanya. Kita perlu beristirahat dalam kesadaran, agar kemudian bisa benar-benar mengambil tindakan yang tepat tatkala diperlukan.

Mindfulness berarti belajar berlatih diam. Lebih banyak mendengarkan. Tak perlu berusaha untuk mengubah, juga adalah reaksi yang tepat ketika di masa-masa sulit. Aku jadi berpikir. Seringnya memang, di masa-masa sulit lazimnya kita akan tergesa-gesa mengambil tindakan dan membuat keputusan. Impulsif. Setelah itu penyesalannya baru terasa di akhir.

Padahal mungkin, kita bisa memulai itu dengan diam dan duduk mendengarkan. Mendengarkan apa? Dalam konteksku pribadi. Aku belajar untuk mendengarkan perasaan sendiri. Diam. Rasakan. Menerima. Tak perlu berontak. Tak harus lari. Aku tak sedang menuntut kesempurnaan apapun dalam diriku, dan aku tak harus memaksakan diri menjadi sesempurna keinginan orang lain.



Setelah memutuskan untuk menemui psikolog. Aku seperti menaruh beban besar yang selama ini kupikul. Aku jauh lebih tenang, dan terkendali untuk meredakan overthinking. Barangkali karena aku berhasil mendedel satu lapis pertahanan diriku, untuk mulai percaya pada orang lain. 

Memutuskan untuk menemui profesional, itu karena aku berusaha untuk bisa percaya. Aku sadar sih, aku punya sikap dominan yang sulit mempercayai orang lain. Itu tak serta merta terbentuk dalam diriku. Melainkan karena luka dari seringnya dikecewakan oleh orang-orang yang kuberikan kepercayaan. Kehilangan rasa aman dan kenyamanan di masa kecil hingga remaja, bahkan ketika berada di lingkup keluarga yang seharusnya aku bisa merasa dicintai.

Oh ternyata dengan mengakuinya, aku jadi lebih aware ke perasaan sendiri. Aku sadar, kalau respon atau stimulus yang terjadi hari ini, tak lepas dari pengalaman luka batin innerchild yang belum sepenuhnya pulih.

Selama ini, setiap kali aku berusaha membuka diri, dan menyampaikan apa permasalahan dalam diriku. Beberapa orang yang kukenal memberikan respon di luar perkiraan. Kadang pula terasa sangat menyinggung, dan menyakitkan.

Namun kali ini, aku terbuka untuk lebih mengenali diri sendiri. Berproses untuk seutuhnya mencintai diriku. Mungkin akan ada hal-hal yang orang lain sulit pahami. Barangkali hanya sebagian yang bisa benar-benar mengerti, dan mau merangkul. Aku tak masalah dengan itu. 

Bahkan di titik ketika aku sedang menarik diri dari keramaian. Itu karena aku hanya ingin berhenti, berpikir bahwa orang-orang sedang bersekongkol untuk menyakitiku, membuatku merasa tak nyaman, dan diam-diam menikamku dari belakang. Aku tak ingin merasa bahwa kehadiranku tak dikehendaki oleh orang lain. 



Aku ingin menjadi manusia yang lebih baik.

Aku tak menarik diri untuk membenarkan bahwa orang lain sungguh-sungguh buruk, dan betapa mereka memaksaku untuk bertindak demikian setelah merasakan kekecewaan. 

Aku hanya merasa perlu untuk menenangkan diri. Menyadari kekurangan di dalam diri. Berdamai dengan gejolak batin yang dirasakan. Memetakan setiap rasa itu dengan baik, tepat, dan lebih tenang. Tak tergesa-gesa menjatuhkan penilaian pada hal apapun yang bersinggungan denganku.

Mereka mungkin salah, tetapi mungkin caraku merespon juga salah. Itu yang sedang berusaha kupahami saat ini. Sesuatu yang ingin kuperbaiki. Karena aku sendiri merasa 'tak baik-baik' saja ketika melakukan semua itu.

Percayalah, ketika aku bahkan menulis sesuatu hal yang bijak atau menguatkan orang lain. Bukan karena aku sepenuhnya baik-baik saja. Bukan karena aku survivor tangguh di balik itu. Ada banyak moment jatuh, dan terluka. Ada banyak air mata, dan perasaan rendah diri. Justru karena cara ini yang terasa lebih bisa membuatku merasa membaik, menetralisir kekeruhan yang ada di dalam diriku. Aku memang sedang berusaha terlihat normal.

Kalau ada orang yang bilang, itu serius beneran? Ah kamunya aja yang lebai! 

Sebelum ini aku mungkin selalu baper, mudah tersinggung, dan marah. Tapi aku akan belajar untuk lebih siap mental menyikapi perlakuan orang-orang yang tak melulu sesuai dengan kehendakku. Aku sendiri yang harus memanage itu.

Tak bohong jika selama ini aku selalu bertanya-tanya, apa yang salah dalam diriku? Mengapa aku seperti ini? Jauh di dalam diri, apa yang kuperlihatkan di luar cangkangku sangat bertolak belakang dengan apa yang aku rasakan.

Iya aku tahu kok, aku juga berusaha mencari informasi lebih. Dari membaca artikel, jurnal, sampai pada menonton video youtube, dan mengikuti akun-akun terkait itu.

Tapi toh, setiap kali bertemu orang lain.. aku masih bersikap normal dan berusaha tampak baik-baik saja. Padahal, tak jarang ketika berbaur di sebuah circle.. selalu saja ada ketidaknyamanan. Aku merasa orang-orang sering berseberangan denganku. Sampai kemudian aku sendiri yang memutuskan untuk menutup diri, menarik diriku sepenuhnya.

Semakin aku menarik diri, aku mungkin merasa aman dalam sesaat. Hanya saja ada hal lain yang berontak di dalam diriku dalam waktu bersamaan. Perasaan hampa, kehilangan motivasi, merasa tak berharga, kesepian, nyaris putus asa. Aku mulai menyalahkan diri sendiri, dan orang lain. Aku melihat orang-orang yang membuatku seperti ini tengah pongah menikmati kehidupan mereka dengan normal, dan itu terasa tak adil untukku.

Aku seringkali berusaha untuk bicara. Aku ingin orang-orang yang berada di sekelilingku memahami, bahwa ketika berada di titik paling buruk pun, aku tak sungguh-sungguh ingin mengubah diri menjadi demikian. Aku tak bermaksud untuk bertentangan dengan orang lain, ketika aku sendiri sangat butuh dirangkul, dan ditenangkan.

Namun yang terjadi selama ini, seringkali aku ditolak setiap kali ingin berbicara. Orang-orang lebih mudah menghakimi, ketimbang sepenuh hati mendengarkan untuk kemudian memberikan solusi.

Bahkan, ada teman yang aku akui kehidupannya jauh lebih beruntung, mencoba untuk menyampaikan masukan yang terasa sangat tak nyaman untukku. Karena membuatku merasa dihakimi. Aku merasa ia hanya sedang menjudge di balik perlakuan yang tampak bersimpati, tetapi tak lebih dari toxic positivity.

Untuk kali ini, boleh aku terbuka? Boleh aku bercerita? Bisakah aku beroleh kesempatan untuk membagikan sisa dari kepingan "trust" yang kumiliki dalam diri?

Aku akan belajar untuk tak lagi mudah terluka jika tanggapan orang lain di luar ekspektasiku. Aku juga tak akan menolak rasa sakit yang kemudian hadir, dari apa yang masih membekas di dalam sana.

Apa aku depresi? Iya, mungkin fase itu akan kembali datang jika berbenturan dengan triggernya.

Apa aku bipolar? Dari sumber-sumber yang aku kumpulkan, kupelajari, sampai pada memberanikan diri ke psikolog.. semua gejala itu mengarah ke sana. Aku tak memilih denial. Aku menerimanya. Itu juga bagian dari diriku.

Akan salah jika aku masih mati-matian tampil sempurna, di balik ketidaksempurnaan diriku.

Akan lebih salah lagi, jika aku menuntut diri untuk memenuhi ekspektasi orang lain.

Aku hari ini adalah refleksi dari seberapa banyak luka yang kuperoleh selama ini. Aku tahu. Aku merasakan semua itu sepenuhnya. Aku yang melalui berbagai pengalaman buruk, kejadian traumatis sampai pada seberapa parah luka batin itu.

Kalau ada yang bilang, tapi kan kamu terlihat baik-baik saja. Normal saja kok. It's okay. Aku mungkin tampak lebih kuat, setelah semua yang berlaku. Tapi ketika aku terlihat biasa, bukan berarti aku sepenuhnya baik-baik saja.

Di waktu-waktu ketika aku terpuruk, di titik terbawah, memerlukan dukungan, aku berharap memiliki orang-orang yang mengerti, dan mau merangkul. Struggle dengan mental illness itu bukan suatu hal yang mudah, apalagi ini berlangsung sejak aku tumbuh remaja.

Pengalaman dan rasa sakit ketika tak dianggap, tak diinginkan, tersisihkan, tertolak, masih sangat membekas dan terasa.

Pengalaman bullying, cacian, makian, tak ada nada-nada halus yang merangkul. Aku masih bermimpi buruk sesekali.

Pengalaman ketika orangtua bercerai, merasa ditelantarkan, berusaha bertahan hidup dengan penolakan orang-orang yang seharusnya mengulurkan bantuan. Aku masih merasa sakit untuk itu.

Pengalaman menikamkan belati buruk pada diri sendiri, untuk membalas orang-orang yang tak bertanggung jawab.. juga adalah luka yang kusesali hingga detik ini. Tapi aku akan berdamai dengannya.

Pengalaman ketika membelakangi tanah kelahiran, mendapati diri sendiri berjuang di tanah orang dan melepas masa remaja yang seharusnya berjalan indah. Aku masih menangis untuk merelakan itu sebagai sesuatu hal yang baik menurut Allah untukku.

Pengalaman ketika menikah muda. Mendapati pernikahan yang tak sesuai ekspektasiku, yang berharap beroleh ganti keluarga namun berhadapan dengan berbagai problem. Merasa lagi-lagi tertolak. Aku berusaha berdamai dengan itu. Bahwa aku memang tak sempurna, mereka juga tak sempurna. Aku akan menerima perbedaan, bagaimana cara mereka dalam menerimaku sepenuhnya.

Pengalaman ketika menjadi ibu. Sebatang kara. Depresi. Tertekan seorang diri. Rentan. Perasaan terancam. Merasa diintimidasi. Perasaan tak adil. Baby blues. Terpojokkan. Aku berusaha berdamai dengan itu. Bahwa memang selain suami, dan anak-anak.. aku hanya memiliki diri sendiri, yang sepenuhnya dapat kuandalkan dalam susah maupun senang.

Ingatan sakit pada label "pembawa sial" yang sering dilontarkan Mak Aji, nenekku. Aku tak pernah bisa bertanya, alasan mengapa dia dulu begitu membenciku. Mencari-cari letak salahku. Tak berhenti mengadu sebelum melihatku dipukul membabi buta oleh ibu.

Tumbuh di keluarga yang tak memanggilku dengan panggilan selayaknya selain "gila kau!", "orang stress", "ci'cak", dan masih banyak lagi. Aku sakit. Aku merasa tak berarti di tengah keluarga sendiri. Aku juga akan memaafkan mereka. Memaafkan orang-orang yang dulu tak tahu cara memanusiakanku.

Keluarga seharusnya menjadi rumah tempat pulang, tujuan kembali, tempat yang akan memberikan kenyamanan, dan rasa aman. Aku tak sepenuhnya memperoleh itu sejak kecil, kedua orangtuaku seperti berbeda kubu sampai mereka memutuskan berpisah di usiaku yang baru tiga belas tahun.

Ada banyak sekali luka. Mungkin semua bahkan sudah bermula sejak aku masih dikandung Mamak. Sampai ketika lahir, bertumbuh di lingkungan yang toxic. Apa yang kulihat sejak kecil jauh dari tuntunan, tetapi aku dituntut untuk selalu berprilaku baik sesuai kehendak semua orang. Aku juga akan berdamai dengan itu. Aku akan belajar menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidupku..



Aku tak mau berandai untuk kembali dan memperbaiki kesalahan mereka. Aku tak mau berandai, untuk menghapus sebagian besar ingatan atas luka dan pengalaman buruk itu.

Karena barangkali, yang menjadikanku kuat sejauh ini.. adalah semua pengalaman buruk tersebut.

Aku yakin, bahwa jika Allah berkehendak.. mustahil tanpa ada kebaikan yang menyertainya. Termasuk pada jalan hidup yang berlalu dengan luka. Semua pasti akan selalu ada hikmah di baliknya. Pun ketika aku harus melalui serangkaian proses healing dari luka batin, juga pasti ada hikmah di balik ini. Jika pun sekarang aku belum bisa memahaminya, mungkin setelah berlalu agak lama.. aku bisa menilik kembali dan mengambil pembelajaran berarti.

Mungkin memang pengalaman buruk itu cukup kusimpan saja, jika pun sewaktu-waktu rasa sakitnya hadir kembali.. aku hanya akan mendekapnya. Itu memang bagian dari diriku yang tak mungkin hilang. Dengan aku mengakui keberadaannya, mungkin aku bisa lebih lapang, dan benar-benar ikhlas untuk sepenuhnya pulih. Memaafkan setiap hal yang terjadi di luar kendali. Memaafkan orang-orang yang pernah tak peduli. Memaafkan diri sendiri yang tak sempurna.

Karena, ini aku. Apa adanya.

Bismillah biidznillah. Untuk menjadi lebih, dan lebih baik lagi. Untuk pulih, dan meneruskan hidup yang jauh berarti. Aamiin allahumma aamiin.


Kadang yang kita butuhkan adalah menyadari realita seapa-adanya. Mencoba beristirahat dengan kenyataan yang sedang terjadi. Bukan penolakan terhadap realita, tetapi terbuka terhadap hal-hal dengan kesadaran dan keramahan. Bahkan terhadap diri sendiri yang mungkin sedang tidak baik-baik saja. - @jiemiardian


Dari kokohnya pertahanan diri.. bukan berarti ia tak retak. Betapa diri ini manusia biasa, yang jika tanpa Allah bukan apa-apa. 



Aku memaafkan. Aku menerima. Aku ikhlas. Aku bersyukur. Aku akan menjadi semakin luar biasa. Aku hebat. Writing is healing. Semoga bermanfaat.


___________________________________


Magelang, 09 Juli 2021

copyright : www.bianglalahijrah.com

2 Komentar

Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah singgah dan membaca tulisan di Blog saya. Semoga bisa memberikan manfaat. Jangan lupa tinggalkan jejak baik di kolom komentar. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya. Ditunggu kunjungan selanjutnya :)