Dalam hidup, terlebih di keseharian. Kerap kita bersinggungan dengan orang-orang yang sulit dimengerti. Mengapa ada orang yang begitu kuatnya membenci, ketika kita sendiri tak tahu kesalahan besar seperti apa yang telah diperbuat padanya. Mengapa ada orang-orang dengan rupa yang tak mudah dikenali, sebab tatkala berada di depanmu, atau pun di belakangmu.. maka wujud rupa mereka tak sama. Sulit membedakan mana yang peduli atau sekedar ingin mematai-matai.

Tak habis pikir, mengapa ada orang yang menghabiskan waktunya untuk cemburu pada nikmat yang dimiliki orang lain. Untuk menghitung berapa banyak dan seberapa besar kesalahan atau pun kekurangan seseorang untuk dijadikan bahan berghibah. Tak habis pikir, mengapa ada orang yang menjadikan ketulusan orang lain sebagai benalu untuk berbalik menjadi boomerang jahat. Mengapa ada manusia dengan watak-watak yang tak bisa dipahami. Ketika engkau susah mereka merendahkan, ketika engkau senang mereka dengki dan berusaha menjatuhkan.

Lagi-lagi, mengapa ada orang yang mengesampingkan logika dan menutup kedua mata beserta telinga, untuk sekedar menilik mana yang sejatinya benar dan mana yang keliru. Sebab tak cukup, sekali lagi tak akan pernah cukup, menilai sesuatu hanya dari sekilas yang dilihat atau sepintas yang terdengar.

Mengapa hati manusia seperti uang logam yang ketika dilempar ke atas, maka jatuhnya tak diketahui pasti apakah sisi kanan atau kiri yang dihadapi.

Mudah berubah-ubah, bukan lagi karena Allah maha menggenggam hati hamba dan maha membolak-balik hati manusia. Seolah-olah bahwa kejelekan adalah mutlak dari peran yang tinggal dijalani saja, padahal keburukan itu adalah pilihan. Apakah akan diikuti atau justru dipunggungi?

Akhir-akhir ini, terlalu banyak hal yang berbicara riuh di dalam benak. Ketika diri mempertanyakan kesalahan atau bahkan keburukan apa yang membuat orang lain sebegitu sibuknya mencari-cari letak salah dan kurangnya, untuk kemudian digembar-gemborkan sebagai masalah. Bukan diri yang bermasalah, tetapi mereka yang sibuk mempermasalahkan.

Padahal, diam tak berbuat perihal pun masih menjadi salah di mata orang-orang yang sebegitu dengkinya.

Ternyata menjadi dewasa itu tidak mudah, sebab dunia dewasa yang sesungguhnya dipenuhi dengan orang-orang yang tak matang di usia mereka.

Ah mungkin, bukan diri yang bermasalah memang hati mereka lah yang bermasalah.

Kuat nggih. Tetaplah menjadi diri yang sebenarnya. Tak berubah, tidak juga goyah.

Kita dihadapkan pada sebagian dari ketidakadilan itu, untuk tak menyerah dan hanyut begitu saja. Bahwa sekecil apapun kebaikan yang diyakini, selama tak menyakiti, maka tegaplah menjadi diri sendiri. Kita tak perlu menjadi bunglon untuk disenangi siapa saja. Kita adalah kita yang apakah orang lain suka atau tidak, seterusnya takkan berubah.

Sebab tak perlu jadi penjilat. Tak perlu membalik rupa. Jadilah yang sebenarnya.

***********************

Magelang, 22 Februari 2020
a deep for remind my self.. 

0 Komentar