Berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan keadaan, berdamai pada setiap hal yang ada di hidupku saat ini. Ternyata tak semudah yang diinginkan ya, karena pada pengaplikasiannya tidaklah se-sederhana itu. Termasuk, alasan mengapa blog tiba-tiba menganggur selama nyaris sebulan ini. Mungkin karena aku sedang bergumul dengan fase denial yang sebenarnya. Aneh ya, baru sekarang aku benar-benar menolak kenyataan terkait diagnosa psikiater, justru setelah rutin konseling bukannya di awal ketika mengetahui diagnosa itu. 

Sepanjang denial pula, aku menghubung-hubungkan sebagian besar kejadian, pengalaman traumatis, juga masalah yang dihadapi di masa kini, yang semakin aku denial semakin jelas semua sebab-akibat itu. Bagaimanapun, seperti apa yang dikatakan oleh psikologku.. bahwa luka semasa tumbuh kembang menyebabkan gangguan psikologis tersebut.

Pun dari apa yang aku pelajari dengan mengikuti beberapa webinar bersama pakar innerchild healing beserta beberapa psikiater, hal-hal menyakitkan yang dialami di masa lalu, sebenarnya tak benar-benar kita lupakan kecuali mengendap di alam bawah sadar. Jika kebetulan di masa kini kita menghadapi beberapa kejadian atau pengalaman menyakitkan lagi, emosi-emosi lama yang tadinya tertimbun itulah yang kembali terangkat ke permukaan. Bisa jadi, kemarahan kita yang berlebih tatkala menyikapi permasalahan di hari ini.. adalah emosi-emosi negatif di masa lampau, yang meledak saat ini karena secara kebetulan menemui pemicunya.

Dan memang, ingatan-ingatan itu pula yang muncul sepanjang denial beberapa waktu lalu. Saat ini pun, aku belum sepenuhnya berdamai dengan itu semua. Pelan-pelan, aku baru belajar menerima. Bahwa gangguan psikologis itu memang ada padaku. Tak masalah, yang harus aku lakukan adalah self acceptance sebagai bentuk tawakal bahwa ini termasuk pada qada dan qadar dari Allah. Segala sesuatu yang terjadi, ada iradah Allah di dalamnya.

Setelah 9 tahun memendam emosi-emosi yang selama ini tak diperbolehkan keluar, mentalku mencapai batas ambang pertahanannya. Aku menamai ini kondisi kolaps.

Bagiku menulis adalah satu-satunya sarana untuk mengeluarkan pemikiran, perasaan, uneg-uneg dalam berbagai rupa emosi. Lewat menulis pula aku bisa membaca ulang seberapa jauh perkembanganku, kondisiku, perasaanku, beserta hal-hal yang tak bisa diungkapkan begitu saja lewat lisan.

Sayangnya, tak semua orang bisa memahami bahwa menulis ekspresif bagi orang-orang tertentu merupakan kebutuhan yang bertujuan sebagai terapi penyembuhan diri. Ada pula yang menganggap katarsis ini sebagai hal yang tak mendatangkan manfaat, karena katanya terlalu bebas menuangkan isi kepala, mengumbar aib pribadi, dan lain sebagainya.

Menurutku itu kembali dari persepsi siapa yang membacanya.

Sampai di titik ini, aku juga ingin berdamai dengan orang-orang yang demikian. Yang tak benar-benar memahami kondisiku, dan menekankan perspektifnya sebagai kebenaran tunggal. It's okay, toh mereka tak pernah benar-benar ada di tempatku selama ini. Bukan mereka juga yang melalui berbagai pengalaman yang terjadi di sepanjang hidupku. Mudah memang, menilai seseorang dari satu sisi tanpa pernah menilik sisi-sisi lainnya..

Dan memang, membuat penilaian jauh lebih gampang ketimbang berkaca diri, minimal mampu bersikap empati.

Dalam hidup, kita memang tak pernah bisa menyenangkan hati setiap orang. Karena orang-orang yang telah mengenal kita dengan baik, justru tak akan mudah menghakimi. Jadi mungkin, orang-orang yang demikian.. sebenarnya tak benar-benar mengenal siapa diriku yang sebenarnya, beserta seluruh perjalanan hidupku sejak mula hingga sekarang.

Toh memang, ada hal-hal di dalam diri kita yang sebagian orang akan membencinya tanpa alasan, sebagian lain bersikap bodo amat akan itu semua, sebagian lagi adalah mereka yang berusaha memahami kita tanpa pengecualian. Barangkali mengapa orang-orang demikian Allah hadirkan di perjalananku saat ini.. agar aku selalu bisa berkaca, dan kembali ke niat awal tanpa terpengaruhi begitu saja.

Tak ada yang benar-benar paham kesulitan, perjuangan, upaya-upaya macam apa yang selama ini mewarnai perjalananku selain aku sendiri, beserta Allah. Selebihnya, anggap saja mereka hanya vibrasi warna agar perjalanan ini lebih bermakna. Lagi pula, tulisan ini lahir karena berusaha memahami orang-orang seperti mereka lewat sudut pandang yang lebih melegakan.

Bahwasanya, mereka adalah orang-orang yang memang sudah disetel demikian. Kehadiran mereka tak melulu tentang ketidaknyamanan, melainkan hal positif apa yang bisa didapat darinya? Lagi-lagi tergantung dari perspektif mana yang kita pakai, bukan?

Ada kata-kata bijak, bahwa pembenci akan seterusnya menjadi pembenci, tetapi pembenci bisa saja menjadi motivasi tersendiri bagi diri tergantung bagaimana kita menyikapi. Bagaimana jika kebencian orang itu tak menjadi penghambat langkah kita, tetapi justru sebaliknya? Maka di sanalah letak kebaikan itu, yang tak melulu bermula dari hal-hal yang pada dasarnya memang sudah baik. Ternyata, sesuatu yang buruk juga bisa membuat kita belajar, ya. Aku merasai betul ketika melalui fase denial yang terasa berat.

Alih-alih menenggelamkan diri, aku berusaha keras untuk bangkit dari kelemahan itu. Mengerjakan PR dari psikolog terkait self acceptance dan bersikap asertif baik pada orang lain maupun ke diri sendiri.

Tentang self acceptance, mungkin akan sulit memaknai penerimaan terhadap diri sendiri jika fase denial itu tak kualami secara langsung. Karena setelah pelan-pelan berusaha berdamai dengan kondisi diri, aku bisa menerima keadaan di luar diriku dengan sudut pandang yang berbeda. Permasalahan yang ada di antara orang-orang yang selama ini bersinggungan denganku, tak lagi menitikberatkan siapa yang salah, atau siapa yang terdzolimi di sini.

Aku mulai berpikir, bahwa barangkali.. mengapa ada orang yang memperlakukanku tak menyenangkan, bersikap buruk, berkata jelek, bukan semata karena orang itu saja yang memang berkarakter buruk dari sananya. Barangkali, aku sendiri pun memiliki kontribusi sehingga menyulut konflik dengan orang-orang tersebut. Jadi, aku mulai mengingat-ingat bagaimana responku terhadap mereka selama ini. Bisa jadi aku yang terlalu bereaksi berlebihan, terlepas dari gangguan Bipolar yang ada padaku.

Pemikiran tersebut, juga berkaitan dengan sikap asertif. Dimulai dengan mendatangi orang-orang yang memiliki hubungan tak begitu baik denganku. Jadi demi memperbaiki interaksi yang terlanjur bermasalah, aku memilih untuk lebih dulu bertandang ke rumah-rumah mereka dan melakukan klarifikasi. 

Baca juga : Jangan Membalas Api dengan Api

Benar-benar butuh keberanian untuk mendatangi orang-orang yang pernah menyakitimu, apalagi sampai sengaja menyebar fitnah yang tidak-tidak. Akan tetapi, jika bukan diri sendiri yang lebih dulu merendahkan ego.. keadaan mungkin akan terus berlangsung demikian, tanpa ada penyelesaian. Masing-masing orang akan membenarkan diri dengan prasangkanya, begitupun aku sendiri.

Butuh keberanian untuk bersikap asertif. Terlebih selama ini, aku lebih ke orang dengan tipe people pleaser. Hanya karena takut dengan reaksi penolakan orang-orang yang bersinggungan denganku, aku menahannya sendiri, sampai di batas tak lagi mampu menahannya lalu meledak di luar kendali.

Bisa dibilang, aku belajar menghadapi dengan lebih tenang hal-hal yang memang masih bisa berada di dalam kendaliku. Begitupun untuk apa yang berada di luar kendaliku, aku belajar untuk tidak memaksakan diri, apalagi terluka hanya karena perkara-perkara itu.

Bismillah.. aku ingin belajar mencintai diriku seutuhnya. Pelan-pelan, dari sekarang..

Aku ingin melepaskan diri dari penilaian-penilaian buruk orang lain yang berangkat dari ketidaktahuan mereka tentang kondisiku yang sebenarnya. Apapun yang mereka pikirkan, katakan, sangkakan.. itu tak harus mempengaruhiku sedikitpun.

Aku hanya perlu terus berbenah diri, dealing with my self. Dengan begitu, akan jauh lebih mudah pula untuk berurusan dengan apa-apa yang berada di luar diriku. Berdamai dengan diagnosa psikiater, dan belajar untuk mencintai diri sepenuhnya. Serta berhenti menggantungkan kebahagiaan, keberhargaan diri, berdasarkan penerimaan orang lain. Padahal, kita tak bisa memaksakan orang lain untuk selalu sepakat atas diri kita. Be good to myself when, nobody else will. Karena hanya aku sendiri yang benar-benar bisa bersikap baik, dengan penerimaan yang tulus, terhadap diriku sendiri. 

Aku yang tak sempurna, itu bukan masalah. Toh tak ada manusia yang sempurna, kendati mungkin level ketakwaan masing-masing kita yang akan menjadi pembeda di mata Tuhan.

Aku tak sepenuhnya baik, tetapi itu juga berarti bahwa aku tak seutuhnya buruk, hanya karena belum bisa mewujudkan ekspektasi banyak orang terkait definisi baik menurut versi mereka masing-masing. 

Aku mungkin belum se-shalihah teman-teman di lingkup tarbiyah yang kuikuti, tetapi bukan berarti aku tak membengkel ruhiyahku sendiri setahap demi setahap dalam menyempurnakan pengakuan iman pada Rabb-ku selama ini.

Aku ingin melepaskan diri dari patokan-patokan yang orang lain berpikir "seharusnya aku begini, seharusnya aku begitu.." terhadapku yang tanpa mereka tahu, aku berproses jauh lebih keras di atas persangkaan mereka.

Aku adalah aku, yang hanya perlu menjadi diri sendiri. Mencintai diriku sepenuhnya, apa adanya, selama tetap berproses menjadi baik. Selama tidak menyengaja menyakiti orang lain, prosesku saat ini adalah apa yang terbaik untukku.

SELF ACCEPTANCE & bersikap ASERTIF. Dua hal penting yang menjadi PR dari dua kali konseling yang kujalani sebelum ini. Terakhir di tanggal 8 September lalu.

Yang tersulit memang adalah melawan diri sendiri, pada akhirnya nanti.. semoga aku bisa benar-benar menjadikan setiap inci dari apapun yang terjadi sebagai moment perbaikan diri, untuk menjadi lebih baik lagi.

Pada akhirnya, diagnosa Bipolar Disorder bukan sesuatu yang lantas akan membuatku menjadi berbeda dari aku yang sebelumnya.

Aku tetap sebagai manusia yang utuh, pribadi yang utuh, sosok yang berharga, dan sama istimewanya seperti orang lain. Aku adalah seorang ibu, seorang istri, seorang anak, seorang menantu, yang sedang berproses menjadi baik dan kebetulan memiliki gangguan Bipolar dalam dirinya :)

It's okay to not be okay, inilah aku. Apa adanya.

Seiring waktu berjalan, aku tak perlu memakai topeng apapun untuk membuktikan diri. Aku juga tak lagi harus memaksakan sosokku diterima orang lain di circle manapun yang kumasuki.

Aku ternyata, hanya perlu menjadi diri sendiri dan mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki :')


Bismillah tawaqqaltu. Allah, bimbing aku untuk bisa memperindah akhlakku, pemikiranku, perkataanku, tulisanku, kepribadianku, dan membenahi perasaanku. Bantu aku untuk bertumbuh kendati dari luka-luka yang selama ini tanpa sengaja terawat oleh masa. Beri aku hati yang lapangnya tak memiliki tepi untuk memberikan maaf pada siapapun yang menggoreskan luka. Jiwa yang ikhlasnya tak memiliki batas dalam menerima qada dan qadar-Mu. Semoga setiap rasa sakit, kesedihan, airmata, menjadi penggugur dari dosa-dosa. Bantu aku untuk menemukan kebaikan-kebaikan apa yang ingin Engkau tunjukkan padaku lewat semua kejadian ini. Bantu aku untuk lebih dekat dengan-Mu, agama-Mu, orang-orang yang hatinya tertuju selalu pada-Mu. Allah, bantu aku untuk pulih sepenuhnya. Bantu aku untuk melalui semua proses yang nantinya akan menambah kebijaksanaanku dalam menemukan hikmah beserta ibrah terbaik dari-Mu. Aamiin yaa mujibassailin. Bismillah biidznillah.


... qodarullah wa maa-syaa-a fa'ala ...


____________________________________________


Magelang, 28 September 2021

copyright : www.bianglalahijrah.com

0 Komentar