Ketika kita memberikan segenap hati untuk mempercayai seseorang, itu berarti kita juga telah mempersiapkan ruang lain untuk terisi dengan kekecewaan. Luka, tersakiti, air mata, kekecewaan, bukan saja terjadi karena unsur kesengajaan.

Tetapi karena orang-orang terdekat lah yang paling berpotensi untuk membuatmu tersakiti. Hanya orang terdekat yang memiliki peluang besar untuk menancapkan luka lebih dalam pada dirimu. Kita tak memilih untuk terluka, tetapi sedikit saja ekspektasi atau bahkan sikap yang bertolak belakang dengan harapan kita, akan mudah menimbulkan rasa sakit.

Bentakan dengan nada tinggi terasa tak nyaman didengar, lebih-lebih lagi jika yang mengalir adalah ucapan dengan kalimat intimidasi. Menjatuhkan, merendahkan, seolah-olah perlakuan itu adalah sesuatu yang layak. Terlepas apakah kamu bersalah, atau hanya sebagai pelampiasan masalah.

Kadang, dalam hubungan suami istri selalu ada saja ketidaksesuaian yang bertolak belakang dengan keinginan pribadi. Tak semua dapat berjalan persis mengikuti kehendak. Karena pernikahan mengharuskan dua orang bekerja sama untuk mencapai biduk yang sakinah. Harus ada kerendahan hati untuk mengenyampingkan ego sendiri.

Beberapa alasan bertahan mampu menjadi solusi selama satu sama lain memiliki kesamaan visi untuk berbenah dan menjadi lebih baik. Sebab tak bisa hanya menuntut satu pihak untuk terus menerus mengalah, memaklumi, mengerti lebih banyak, sedang kemauan hatinya terabaikan begitu saja. Menikah nyatanya tak hanya tentang mengisi satu sama lain, sebab tak juga sesederhana itu. Ada tuntutan pemenuhan yang harus disadari masing-masing.

Apa kebutuhan suami. Apa kebutuhan istri. Bukan hanya tentang ego; siapa yang harus mengikuti siapa. Sesekali kita perlu merundukkan hati untuk mendengar aspirasi maupun ekspektasi yang lain. Permasalahan meruncing dengan mudah ketika dua kepala saling menggenggam ego masing-masing tanpa keinginan mengalah.

Seperti yang kita tahu, bahwa menjadi suami bukan perkara mudah. Saat tuntutan mencari nafkah seolah mencekik leher di antara rongrongan kebutuhan hidup.. belum lagi ditambah tanggungan lain-lain. Tetapi bukan berarti mengabaikan peran istri di rumah, menekankan rasa lelah seolah hanya didominasi diri sendiri sebagai pencari nafkah tunggal, menjadi pembenaran untuk menunjuk siapa yang salah dan harus bertanggung jawab.

Apalagi sampai menuding istri yang tak tahu diri karena hanya bisa bernaung dari gaji suami. Padahal, ada hak istri yang Allah jamin darinya. Di antara penghasilan suami ada rezeki anggota keluarganya. Sudah menjadi kewajiban suami untuk menafkahi istri, bukan?

Sedih, ketika seorang suami mampu meninggikan volume suara. Menggertak. Mencaci maki. Merendahkan istri di hadapan anak-anaknya. Hanya untuk mencari pelampiasan, kambing hitam, atas ketidakmampuannya sendiri.

Menikah memang tidak sesederhana saat ekspektasi di awal. Berharap, bidadari yang dinikahi mampu menyuguhkan keindahan mutlak seperti yang diinginkan. Seolah menikah hanya akan berisi kesenangan semata, begitu dihadapkan dengan kesulitan ini dan itu, uring-uringan adalah tabiat. 

Ketika seorang lelaki berani mengajak menikah, seharusnya ia tahu, konsekuensi bahwa menikahi wanita yang ia pilih sama dengan mengambil alih peran orangtua si wanita yang jelas akan berpindah ke pundaknya.

Seharusnya setiap suami sadar betul, bahwa istri yang dinikahi adalah tanggung jawab penuh yang ada padanya. Bukan lagi pada kedua orangtua sang istri. Bukan pula pihak luar yang harus tahu persis apa kebutuhan sang istri yang tidak terpenuhi.

Menikah memang tak cukup hanya bermodal cinta dan rasa suka satu sama lain. Kehidupan berlimpah materi tanpa didasari ilmu juga riskan dengan ketimpangan dalam keluarga. Jika mapan saja kadang kala tak cukup menjadi kapal untuk menghantar sebuah keluarga dalam mengarungi biduk pernikahan. Apalagi yang jelas-jelas belum mapan dan tak berilmu. Tak berkeinginan untuk belajar dan memahami apa saja yang harus diperankan seorang suami selain dari mencari nafkah.

Ada kewajiban mendidik istri, mengajarkan ilmu agama. Memenuhi hak istri untuk dikasihi, disayangi, diperhatikan, dicintai, sama halnya seperti apa yang diperoleh ketika masih berada di pelukan orangtua.

Tak ada manusia yang sempurna, kita pun tak sedang menuntut pasangan untuk menjadi sempurna.

Hanya saja penyesalan menjadi lebih menyesakkan ketika seorang perempuan menyadari kekeliruan dalam hidupnya. Tatkala menyadari bahwa laki-laki yang dinikahi tak memiliki adab maupun akhlak yang baik dalam memperlakukan istri.

Ada suami yang memperlakukan istri hanya sebagai pakaian yang dikenakan saat ingin. Tak ada pemahaman bahwa fungsi pakaian itu adalah untuk terjaganya aib bagi satu sama lain. Tak sedikit suami yang gagal membina dirinya sendiri sehingga tak bisa memimpin dengan baik dalam rumah tangganya.

Istri-istri kalian itu adalah pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka. [QS. al-Baqarah 2:187]

Menikah tak sebercanda itu.. penuh cinta, banyak anak, dan hidup berbahagia, mati masuk surga. Tak sesederhana itu.

Banyak yang mapan, tetapi mapan saja bukan jaminan sebuah pernikahan akan berlangsung baik-baik saja. Banyak yang berilmu tetapi ternyata tak memiliki adab, hingga akhlaknya pun jauh dari tuntunan Nabi sebab Rasulullah adalah sebaik-baik teladan dalam potret rumah tangga yang dijalani. Adab dan ilmu, pondasi dari akhlak yang shalih. Diperlukan bagi suami untuk bisa memperlakukan istrinya sebagai teman sehidup se-surga, ibu dari anak-anaknya, murid yang harus dituntun menuju keridhaan-Nya, bukan sebagai beban karena ketidakmampuan.

Dear suami yang tak sempurna, dari istri yang juga tak sempurna.

Mitsaqan qhalitza adalah janji untuk menjadikan rumah tangga sebagai tangga menuju ridha dan jannah-Nya. Semoga aku tetap menjadi pakaian yang menutupi aib dan kurangmu, begitupun kamu yang menjadi pakaian untuk melengkapi lebih dan menutupi celaku.

Sakinah, mawaddah, warahmah, tak diperoleh hanya dalam sehari. Harus ada jam terbang yang teruji. Kita satu sama lain akan tertempa. Kadang pula berbeda suara, berbeda sudut pandang, berbeda cara, tetapi bukan untuk dipecah belah, melainkan tetap seiring sejalan dalam mengarungi bahtera. Mengutip perkataan Salim A Fillah dalam bukunya, saat pasangan adalah pakaian bagimu;

Mesra dalam kesetaraan, mesra dalam memberi dan menerima. Seperti dua pakaian. Saling menyentuh, saling melingkup, saling menjaga, dan saling menutup celah.


Jika ingin menyorot kekurangan maka memerlukan banyak sekali tambalan, sebab kekurangan itu sedemikian banyak. Tetapi jika hendak membangun komitmen, maka yang diperlukan hanya kehendak untuk terus belajar dan saling memahami. Memahami bahwa rumah tangga adalah ranah yang tak pernah sepi dari permasalahan, tetapi menjadi pengecut dan lari dari masalah takkan pernah menjadi solusi atau menyelesaikan masalah bahkan sesederhana apapun tampaknya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saling menjaga, saling merawat, saling bersabar dalam lebih dan kurang.

Magelang, 5 November 2019
Copyright : @bianglalahijrah_

2 Komentar

  1. Menjadi renungan bersama, sebab iman pun turun naik, maka perenungan seperti ini sangat penting.

    Lama pernikahan pun bukan jaminan dua pihak jadi kebal dari godaan. Justru makin tinggi pohon, makin kencang anginnya.

    Semoga kita semua selalu dijaga olehNya.

    BalasHapus

Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah singgah dan membaca tulisan di Blog saya. Semoga bisa memberikan manfaat. Jangan lupa tinggalkan jejak baik di kolom komentar. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya. Ditunggu kunjungan selanjutnya :)