Saat sedang asyik menonton televisi. Mataku tertahan pada sebuah pemberitaan seputar artis siang ini. Yakni tentang hijrahnya beberapa orang aktris yang mulai mengenakan hijab. Tak lama berselang, tayangan mengenai aktor terkaya Raffi Ahmad yang katanya baru saja mulai meniti jalan hijrah, lebih-lebih menarik rasa antusiasku untuk menyimak. Tajuk besar tertulis bahwa kemewahan yang telah diperoleh nyatanya tak memiliki ruh sebab hati masih saja terasa hampa.

Setiap saat, tak hanya dari kancah infotainment. Melainkan di seluruh pelosok dunia akan senantiasa ada yang mendengungkan asma Allah, bersyahadat kepada-Nya dan Rasul-Nya. Kembali ke jalan-Nya ketika pencapaian dunia tak lagi memberikan ketenangan dalam batin. Bertanya-tanya tentang apa lagi yang hendak dicari? Apa yang belum dimiliki kendati timbunan materi berlebih mengelilingi, namun hati masih tak menemukan titik tenang sebab orientasi semua itu bukan lagi kepada-Nya.
            Hidup mewah, tetapi hampa.

Pernahkah merasa demikian? Ketika semua ikhtiar telah terkerahkan. Ketika satu persatu mimpi tergenggam tangan. Tetapi jauh di antara riuh ucapan selamat dan kebahagiaan atas pencapaian, ada hati yang terasa kosong dan hampa.

Bersyukurlah, sebab itu pertanda barangkali Allah tengah merindu. Merindu doa-doa kembali bergantung hanya pada-Nya. Menunggumu untuk kembali dalam sedu sedan tawakkal beserta takwa. Menunggumu kembali sebagai hamba yang mengabdi, setelah berpaling dari-Nya, menduakannya dengan semua keinginan duniawi yang bersifat fana.

Alhamdulillah. Jika hati masih terketuk untuk mencari tahu apa yang salah pada diri. Apa yang kurang sebenarnya? Bersyukurlah jika hati kita tergerak untuk belajar dan berbenah segera. Karena kehidupan ini bersumber dari Allah, maka sudah pasti orientasinya hanya pada Allah semata. Itu berarti segala sesuatu yang ada di dalam hidup ini hanya boleh berlandaskan dan bermuara pada Allah. Dari segepok niat, hingga langkah-langkah yang terayun. Semuanya harus selalu berlandaskan lillah.
            Lantas mengapa harus hijrah?

Sebab cepat atau lambat kita akan berpulang meninggalkan semua yang ada di dunia. Hijrah menjadi jembatan bagi kita untuk menuju jalan perbaikan diri. Yang semulanya buruk menjadi baik. Yang tadinya belum taat menjadi lebih taat pada perintah-Nya. Yang tadinya lalai kemudian tersadar untuk tak lagi bermudah-mudah dalam maksiat dan kesia-siaan yang tiada guna. Hijrah seharusnya tak menjadi pilihan, melainkan kesadaran penuh untuk mau membenahi diri senantiasa di jalan-Nya. Sebelum nafas terakhir memotong kesempatan untuk bertaubat.

Sebab dunia hanya sementara, tempat singgah di mana bekal untuk menyeberang ke kehidupan yang lebih kekal seharusnya dipersiapkan dengan baik. Tempat yang hakiki telah menunggu di akhirat. Maka sudah kah cukup bekal menuju surga-Nya? Sudah kah memperpantas diri untuk beroleh itu semua?

“Tapi aku nggak baik, Kak. Masa laluku kelam. Aku sudah berbuat seperti ini dan seperti itu, perbuatan yang jelas dibenci Allah. Apa orang sepertiku masih akan beroleh ampunan Allah?”

Satu dari beberapa pertanyaan bernada sama yang kerap masuk ke direct massage di akun Instagramku.

Masyaa Allah, merinding rasanya ketika membaca beberapa curhatan teman-teman yang berlabuh di DM. Tak hanya mencoba memahami problem apa yang tengah mereka hadapi. Tetapi juga memantaskan diri ketika beroleh amanah untuk menampung dan mendengar langsung kisah-kisah itu. Dari mereka yang mau menceritakan hal terkelam di kehidupannya pada orang yang bahkan tak pernah mereka temui secara langsung di dunia nyata. Mereka adalah teman-teman, pembaca tulisanku di sosial media.

Lantas, jawaban apa yang lebih tepat untuk menjawab pertanyaan yang mungkin bernada pesimisme itu? Benarkah Allah sungguh-sungguh meninggalkan kita setelah bermil-mil dosa telah dilalui? Sungguh kah Allah menutup kesempatan kendati seorang hamba kembali untuk mengetuk pintu pengampunan-Nya? Mari simak cerita ini ..

Dalam riwayat Muttafaqun ‘Alaih Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Alkhudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah pernah menceritakan sebuah kisah kepada para sahabat untuk dijadikan pembelajaran beserta teladan. Bahwasanya pada zaman Bani Israil ada seorang pemuda yang selama hidupnya jauh dari kebaikan. Ia berada pada sebuah kalangan di mana dipenuhi orang-orang yang kasar beserta dekat dengan maksiat yang membuatnya kian jauh dari Allah. Pemuda ini telah membunuh 99 orang di daerah tempat tinggalnya. Kemudian sampai lah di suatu hari, ketika ia merasa berada di titik jenuh dalam hidupnya. Ia pun berpikir untuk bertaubat pada Allah agar dosa-dosa yang telah diperbuatnya dapat diampuni. Dengan keinginan bertaubat yang begitu menggebu, ia lantas mendatangi Rahib atau Abid.

Ia menyampaikan maksud baiknya. Tetapi jawaban yang ia peroleh sama sekali bertolak belakang dengan apa yang diharapkannya. Rahib/Abid justru berkata bahwa dosa-dosa pemuda ini tidak akan diampuni. Kata-kata tersebut membuat si pemuda putus asa. Hingga ia langsung menghunuskan pedang ke arah Rahib/Abid, dan menggenapkan bilangan ke 100 dari orang-orang yang pernah ia bunuh.

Tak berhenti di situ, ia kembali menanyakan siapa orang yang tepat untuk menjawab keputusasaannya mengenai ampunan Allah. Lalu ia datang kepada seorang alim yang telah ditunjukkan padanya. Dari orang alim itu si pemuda menemukan jawaban, dengan tutur kata yang lembut sang alim kemudian berkata, “Tiada yang menghalangimu untuk bertaubat dan Pintu Allah terbuka lebar bagimu, maka bergembiralah dengan ampunan; bergembiralah dengan perkenaan dari-Nya; dan bergembiralah dengan taubat nasuha.”

Orang alim itu pun menjelaskan bahwa semua keburukan pemuda itu juga disebabkan karena tinggal di kampung yang jahat. Yang memberikan pengaruh untuk berbuat durhaka dan kejahatan bagi para penghuninya. Mendengar itu semua, si pemuda pulang dengan bahagia setelah tahu bahwa dosa-dosanya akan diampuni dan taubatnya dapat diterima oleh Allah. Namun di tengah perjalanan sang pemuda meninggal dunia. Malaikat rahmat dan malaikat adzab yang turun ke bumi berseteru untuk mengambil ruh si pemuda.

Allah kemudian memerintahkan untuk mengukur jarak jenazah si pemuda antara tempat tinggalnya yang lama dengan tempat yang akan dituju. Dan jarak jenazah si pemuda lebih dekat dengan tempat yang akan dituju. Pun ketika kematian datang menjemputnya, si pemuda membusungkan dada ke arah negeri tujuan. Sehingga malaikat rahmat lah yang mengambil ruh si pemuda.

Maka jelaslah, kisah sang pemuda yang telah menghilangkan 99 nyawa kemudian menggenapkan bilangannya menjadi 100 tatkala menguhunuskan pedang pada Rahib/Abid, memberikan kita pelajaran berharga. Rasulullah bahkan tak luput menceritakan kisah si pemuda kepada para sahabat sebagai pengingat sekaligus pembelajaran. Bahwasanya Allah begitu maha pengampun. Ampunan Allah lebih besar, sekalipun dosa yang hamba perbuat sebanyak buih di lautan. Bukankah Allah berfirman di dalam Al-Qur’an dan termaktub dalam surah A-Zumar ayat 53-54, “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, jangan lah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”

Selama nafas masih berhembus, berarti Allah masih memberikan kesempatan untuk menjemput hidayah dan bertaubat. Tugas kita adalah terus mendekat, meminta sebaik-baik pengampunan dari-Nya. Allah tak akan membenci hamba yang kembali kendati pernah berkubang dosa. Tetapi Allah benci pada mereka yang berputus asa dari rahmat dan ampunan-Nya.

Hijrah, ia bermakna pindah. Yakni berpindah dari satu tempat menuju tempat yang baru. Dari jahiliyah menuju hidayah. Dari segala macam bentuk keburukan menjadi kebaikan. Tak peduli siapa kita di masa lalu, yang terpenting siapa kita saat ini. Sudah sebaik apa kita dari sebelumnya? Sudah sejauh apa kebaikan menggiring langkah untuk lebih dekat lagi dengan-Nya?

Jika hijrah lurus karena-Nya.. Allah tak melihat siapa kita terdahulu, tetapi bagaimana kita hari ini. Tak ada upaya untuk dekat pada-Nya yang menjadi sia-sia. Meski beribu cibiran pedas menghujani langkah diri.

Keep move on, hijrah karena Allah. Dimulai dengan meninggalkan kebiasaan buruk. Mengganti pergaulan jelek yang tak membawa diri pada kebaikan dengan menghadiri majelis-majelis ilmu yang lebih bermanfaat. Tak bosan untuk terus mentarbiyah diri sendiri di tengah orang-orang shaleh dan berilmu. Semoga setiap diri yang terketuk hidayah, Allah kokohkan langkah dalam menuju kemenangan di jalan-Nya. Aamiin.
_____________________________

#Day 7
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
______________________________

I write to remind myself 

copyright : @bianglalahijrah
Magelang, 12 Mei 2019

6 Komentar

  1. Emang ya mba, kadang udah berasa di atas angin, tapi kok ngga bahagia2. Ada yang ngeganjal. Pun sebaliknya, ada yang biasa biasa saja tapi bisa senyum dengan sejuk. Allah Maha membolak balikkan hati semoga senantiasa menganugerahi hati yang diberi hidayah bagi kita. Bagi semua yang merindu ketenangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, aamiin, yaa mujiibassailin. Fitrahnya manusia itu baik. Bahkan ketika masih di dalam rahim, kita dimintai persaksian tauhid kepada-Nya. Jadi, sejauh apapun kaki terjerembab dalam kubang dosa.. ada saat ketika segumpal daging dalam diri mengingat kembali siapa Rabb-nya dan tujuan ia diciptakan. Hingga terketuk untuk kembali ke jalan yang benar. Barangkali hati yang terasa hampa, sebab pertanda ketika jiwa rindu pada Ilah-nya. Semoga kita senantiasa dipeluk hidayah dan istiqomah senantiasa. Aamiin insyaa Allah.

      Hapus
  2. Yapss. Dan yang pertama dan paling utama adalah menjaga hati. Semoga Allah senantiasa melindungi hati kita dari kosong yang menjauhkan kita kepada-Nya ya mbak.

    BalasHapus
  3. keinget dulu juga merasa begitu banyak kesalahan yg udah diperbuat dan saat curhat ke salah satu kakak angkatan kuliah saya langsung dia pun jawabannya "Allah kan Maha Pemberi Ampunan dek selama kamu bener2 mau dan niat bisa bisa."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mbak. Sejauh apapun melangkah keluar, sebaik-baik kembali adalah kembali pada-Nya setelah tersesat dalam langkah :)

      Hapus

Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah singgah dan membaca tulisan di Blog saya. Semoga bisa memberikan manfaat. Jangan lupa tinggalkan jejak baik di kolom komentar. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya. Ditunggu kunjungan selanjutnya :)