Selamat sore. Hujankah di kotamu? Karena di sini lagi-lagi hujan tengah mendendangkan lagu suka cita untuk para petani. Menikmati suara rerintik yang seolah menjadi dendang kehadirannya, aku tergelitik untuk menulis sesuatu. Hari ini, masih dengan semangat dan kesibukan yang sama. Tapi ada satu kabar gembira yang ingin kubagi. Komunitas yang kubentuk beberapa tahun lalu mulai bangkit kembali dalam menoreh karya. Semangatku tersulut begitu melihat antusias para anggota. Alhamdulillah.. insha Allah agenda kami akan berjalan pada Desember menjelang pergantian tahun. Pun setelah diskusi dengan salah satu agen penerbit mayor, aku optimis untuk kembali mengadakan event kepenulisan begitu kedua eventku yang sekarang tuntas dan terbit di penerbit buku sebelumnya. Penerbit yang sudah menjembatani langkahku sebagai penulis sekaligus penyelenggara event.

2015 yang akan datang, aku berharap bisa membawa nasib naskah-naskah hasil eventku menuju gerbang mayor. Bismillah.. semoga selalu ada jalan dan Allah mudahkan itu. Tak lupa bahwa aku sendiri tetap harus konsisten dalam pengerjaan buku soloku. Yang pertama akan terbit di penerbit berbeda dengan tambahan beberapa cerpen lagi di dalamnya, yang kedua.. masih berusaha untuk merampungkannya dengan sesegera mungkin. Semoga saja bisa lebih baik dan berjalan seperti apa yang kuinginkan. Setidaknya sudah ada satu penerbit mayor yang melirik.

Hem. Ada banyak sekali rencana yang dalam waktu dekat ingin segera kulaksanakan. Begitupun dengan perencanaan jangka panjang, semua sudah kurangkum dalam sebuah planning yang menjadi targetku selanjutnya. Pindah ke rumah baru, kembali merintis dan mengembangkan usaha yang sebelumnya 'mandek' karena beberapa hal, sambil berusaha untuk membuka lini usaha lain. Berharap akan ada lebih banyak lagi bukuku yang terbit di penerbit mayor dan dapat beredar luas di Gramedia maupun toko buku terdekat. Aamiin. :)
Optimis untuk langkah yang lebih baik. Terlebih, kemarin kami sudah mendapat kabar bahwa proyek pemasangan pintu pada ruko baru yang akan kami tempati nanti sudah berjalan sekian persen. Kemungkinan Desember ini kami sudah bisa menempatinya. Aku bersemangat, meski beberapa minggu ini ada banyak hal yang berjalan di luar dari harapan. Termasuk syukuran ngapati yang aku inginkan seperti ini, tapi justru tak berjalan sesuai harapan. Tak apa. Aku hanya berdoa agar Allah gantikan kekecewaan ini dengan sesuatu hal yang lebih baik. Setidaknya debay tetap sehat dan kuat hingga masa persalinan nanti. 16w+1d, semakin tak sabar ingin melihatnya lahir ke dunia. Menatap wajahnya yang entah mirip ayah atau bundanya. Heheu, seperti apa ya? Penasaran. Semoga saja Desember bisa lekas USG dan sudah ketahuan jenis kelamin si debay. Lelaki atau perempuan tetap kami syukuri karena ini anak pertama. Kami hanya berharap ia lahir dengan normal. Sempurna akal dan fisiknya. Jadi anak yang shaleh/ah, berbakti pada orangtua, juga ada banyak lagi doa yang kami panjatkan untuk kebaikannya. Aamiin, rabbi habli minash shalihin. Semoga Allah kabulkan. :)

***

Belakangan... aku kerap bertemu dengan orang-orang yang berselisih pendapat karena hal sepele. Sebenarnya aku tak terlalu suka memperpanjang hal-hal yang menurutku tak perlu diperpanjang. Apalagi sampai dibesar-besarkan dan merasa paling benar sendiri. Tapi adakalanya pula aku harus tegas dengan beberapa orang saat dia benar-benar mengancam kenyamananku. Aku tak suka ikut campur urusan orang lain apalagi sok tahu dengan hal-hal yang tak begitu kuketahui, sebab aku sendiri tak suka saat orang lain ikut campur urusan pribadiku. Oke, tak masalah jika niatnya baik dan cara penyampaiannya pun baik. Tapi terkadang justru sebaliknya. Entah mengapa aku kerap diuji dengan orang-orang seperti ini. Sekuat apapun aku berusaha 'ndableg', toh pada nyatanya aku tetap terbawa pikiran dan jadi uring-uringan sendiri. Setiap saat aku berusaha santai dan masa bodoh, tetapi ada saja orang yang sengaja bertindak menyebalkan. Mereka sengaja atau tidak, aku sendiri tak tahu. Toh mereka karakter orang-orang yang susah ditebak. Baik dan ketus seolah menjadi hal rutin yang harus kuterima dalam keadaan bergantian. Mereka terkadang baik, namun di belakang justru menikam. Duh, aku sebenarnya sudah tak ingin pusing lagi. Karena meladeni orang-orang seperti mereka hanya akan menguras tenaga dan pikiran. But... semoga saja Allah memberikan sikap ndableg padaku dan aku tak perlu larut dengan hal yang hanya dapat menghambat langkah dan impianku. Ini hidupku, bahagia atau tidak aku sendiri yang akan menjalaninya. Jadi sudah cukup dengan tetek bengek mereka.

Hheheu, sudah dulu ya sahabat. Maaf jika postingan kali ini rada garing. Mungkin efek cemilan yang menemaniku mengetik, atau karena hujan di luar sana yang menciptakan nuansa lain. Have a nice day.. tetap berjalan pada koridor sendiri, dan jangan pedulikan orang lain yang hanya bisa menjadi penghambat. :)

0 Komentar