Aku buru-buru keluar dari toko buku saat seseorang tiba-tiba menabrakku hingga terjerembab duduk di depan toko tersebut. Aku menoleh ke arah orang yang baru saja menabrakku, seorang gadis kecil dengan poni kuda yang rapi menatapku dengan rasa bersalah. Tiba-tiba ia menggerak-gerakkan tangannya seperti sedang berbicara dalam bahasa isyarat. Aku bingung dan mengernyitkan dahi, apa yang ia maksud sedikitpun tidak aku pahami. Aku berdiri sambil mengibas-ngibas ujung rokku dan mendekati gadis kecil itu. Aku membelai rambutnya yang halus, meski sedikit dekil.

"Adik, Kakak tidak apa-apa." Aku tersenyum, walau bingung bagaimana cara berbicara padanya. Ia lagi-lagi menggerak-gerakkan tangan dan jemarinya. Ah, aku tidak paham. Aku mulai mencari cara agar aku bisa berbicara dengannya. Dan ide itu pun datang. Aku mengeluarkan note kecilku dari dalam tas lalu menulis sesuatu di sana lantas memberikannya kepada gadis kecil yang ada di depanku. 

Ia mengangguk. Berarti ia paham dengan maksudku dan bisa membaca apa yang aku tulis. Jika ia bisa membaca tentu bisa menulis. Tapi darimana ia belajar dan bagaimana caranya sedang ia seorang tuna rungu. Ah itu tidak penting, yang terpenting aku bisa tahu masalah apa yang sedang dialami gadis kecil ini, lantas membantunya. Barangkali ia tersesat atau entah bagaimana ceritanya. Saat ingin bertanya apakah ia bisa menulis, ia menyentuh tanganku dan menunjuk pena yang sedang kugenggam. Aku memberikan padanya. Kemudian ia mulai menulis...

"Kakak, aku minta maaf. Aku tidak sengaja menabrak, Kakak. Aku sedang dikejar oleh petugas satpam yang mengiraku ingin mencuri. Aku hanya ingin meminta makanan di depan sebuah rumah makan. Aku lapar. Sudah beberapa hari ini aku hanya makan sisa makanan yang kukais dari tong sampah. Itu pun sangat sedikit." Begitu tulisnya, setelah memberikan note itu kepadaku.

"Mengapa berkeliaran di luar, Dik? Di mana keluargamu? Apa kau tersesat?"

"Tidak, Kakak. Aku lari dari rumah orang yang telah mengadopsiku di panti asuhan. Mereka jahat, Kak. Mereka kerap memukuliku. Aku tidak tahan, dan kabur saat pagi-pagi sekali." Jawabnya kemudian. Walau tulisannya tidak rapi dan terkesan 'cakar ayam', tetapi aku masih bisa membacanya. Aku mengajaknya duduk di bangku panjang yang tak jauh dari kami. Ia menurut tanpa ada rasa takut atau curiga, jika aku juga termasuk orang jahat yang akan menyakitinya. Setelah duduk, aku merogoh tas dan mengambil dua roti yang masih utuh di sana. Aku memberikan roti itu padanya lalu beranjak untuk membeli satu botol air minum di warung yang ada di pinggir jalan untuknya. Ia belum memakan roti pemberianku, matanya terus menatapku yang berjalan menyeberang untuk kembali ke bangku tempat duduk kami. 

"Ini, Dik. Minum dan makanlah." Aku ikut menggunakan bahasa tubuh dengan menggerak-gerakkan tanganku ke mulut seperti orang yang sedang minum dan makan. Ia mengangguk pelan. Terlihat jelas ada genangan air di kedua sudut matanya. Kenapa, Dik? Tanyaku di dalam hati. Angin mempermainkan kerudung yang aku kenakan dengan lembut, sembari tetap memperhatikan gadis yang tengah makan di sampingku dengan lahap. Ia pasti sangat lapar, pikirku. Tiba-tiba saja aku berniat membantunya untuk bisa kembali ke panti asuhan tempatnya semula. Aku menunggunya selesai melahap apa yang aku berikan padanya sebelum menyampaikan niat baikku. 

Sesaat setelah ia baru saja menuntaskan suapan roti yang terakhir. Tak jauh dari kami segerombolan orang datang dan berteriak ribut. Gadis kecil itu mendekat dan menarik tanganku. Aku mulai paham dengan ketakutannya, mungkin rombongan bapak-bapak inilah yang tadi ia maksud. Mereka semakin mendekat, tetapi aku tak takut menghadapi mereka. Jika mereka ingin bertindak kasar pada gadis kecil ini, mereka harus lebih dulu menghadapiku. Karena aku tidak akan membiarkan kekerasan terjadi di hadapanku. Salah satu bapak bertubuh tinggi kekar kemudian mendekatiku dan berniat menarik lengan gadis ini, tetapi buru-buru kutepis. Aku menarik tubuh gadis kecil ini ke belakangku. Genggamannya terasa sangat kuat. Aku tahu rasa takut benar-benar sedang menguasai hatinya.

"Mbak ini siapa? Kami hanya punya urusan dengan pencuri kecil ini. Tolong Mbak jangan ikut campur."

"Memangnya anak ini salah apa, Pak? Mengapa kalian begitu murka? Apa kalian tidak punya rasa kasihan? Lihat, ia begitu ketakutan dengan sikap dan perlakuan Bapak-Bapak sekalian." Jelasku tanpa takut.

"Alaah, tak usah banyak cincong. Jangan-jangan kamu berkomplot dengan anak ini untuk mencuri. Iya?!!!" Bentak seorang Bapak dan maju tepat di hadapanku. Aku semakin geram.

"Bapak harus menarik ucapan Bapak kembali. Saya tidak seburuk yang Bapak pikir. Bahkan Bapak tidak tahu siapa saya dan ada hubungan apa saya dengan gadis kecil ini." Cecarku menjawab tuduhan bapak yang mengenakan baju muslim tersebut. Mendengar ucapanku beberapa laki-laki di belakangnya yang masih tergolong muda mengangguk tanda mengerti. Sementara bapak tadi masih berdiri di hadapanku dengan bertukak pinggang, seolah kian berang mendengar ucapanku. Ia kembali menarik paksa lengan gadis kecil yang kusembunyikan tepat di belakangku. Aku menahan kuat tangan bapak tersebut agar tak bisa menjangkau tubuh gadis kecil ini. Aksi saling tarik pun membuat suasana di sekitar kami kian ramai. Beberapa orang yang tadinya hanya lewat, berhenti demi menyaksikan kehebohan yang terjadi. Gadis kecil itu menangis sembari tetap menggenggam tanganku dengan erat. Jangan takut, Dik. Kakak bersamamu. Kakak tidak akan membiarkan mereka menyakitimu.

********* 

*BERSAMBUNG... Tunggu kelanjutannya di part kedua ya!!! :)

@copyright, yusniaagussaputri.
Magelang, 12 Desember 2013
Bianglala Hijrah....

6 Komentar

  1. di tunngu lnjutnya mbk put

    BalasHapus
  2. Iya, Mbak.. Ini baru bisa ngeblog lagi. Ditunggu beberapa hari ke depan inshaAllah tak posting jika sudah ada ide dan waktu luang :)

    BalasHapus
  3. Siiippp lanjut kn ya mbk.

    Hii pke opera mini ma browser law komen g bisa masuk sm y mbk put

    BalasHapus
  4. Mbak Alis@ Wah kalau itu aku juga ndak terlalu tahu je. Kan beda negara kali ya. Masih di Hongkong kan? Kapan pulang ke Indo? Bawa oleh-oleh yang buanyaaakkk yaa :D

    BalasHapus

Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah singgah dan membaca tulisan di Blog saya. Semoga bisa memberikan manfaat. Jangan lupa tinggalkan jejak baik di kolom komentar. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya. Ditunggu kunjungan selanjutnya :)