Tadi sore, seorang teman menyampaikan kekagumannya padaku. Sebab katanya, meski aku struggling dengan trauma inner child dan kondisi mental illnessku saat ini, aku masih bisa bersikap baik ke anak-anak. Untuk beberapa saat, aku tertegun membaca pesan tersebut. Membuatku bertanya-tanya di dalam hati, apa benar aku sudah sebaik itu? Alhamdulillah jika orang lain melihatku setenang itu, meski realita keseharian, ada banyak pemicu yang masih membuatku misuh-misuh, ngedumel ke anak maupun ayahnya.

Bahkan terkadang, aku juga kelepasan sikap yang tanpa sadar menyakiti si kakak. Anak pertama yang setelah punya adik diharuskan mengemban ekspektasi lebih dari kedua orangtuanya. Padahal, entah memiliki adik atau tidak, seorang anak berhak memiliki kebebasan yang diinginkannya. Kebebasan di sini dalam arti, kapan waktu bermain ia bebas bermain, kapan menginginkan sesuatu ia juga boleh menunjuk hal itu, tanpa dikesampingkan hak maupun kepentingannya karena diharuskan mengalah.

Nyatanya, setelah menjadi kakak, anak pertama secara langsung seperti mengemban banyak harapan dari orang-orang sekitarnya. Tiba-tiba dituntut harus menjadi role model yang baik sebagai seorang kakak karena menjadi contoh bagi adiknya. Padahal, apa sih yang dipahami anak umur enam tahun soal kewajiban-kewajiban itu.. yang tak lebih adalah ekspektasi tinggi dari kedua orangtuanya sendiri.

Aku lalu menjelaskan, bahwa sebenarnya apa yang terlihat tenang bukan berarti tak lagi garang. Jika kembali ke belakang, ada banyak sekali struggle beserta kondisi yang menyakitkan. Baik aku dan anak pertama, kami sama-sama berjuang melewati ujian hubungan itu. Betapa ikatan ibu-anak tak selalu terjalin indah, dan mengalir sebegitu mudah sekalipun itu berhubungan darah. Apalagi, ada banyak luka inner child yang ternyata masih terbawa hingga kini.

Berusaha sekeras mungkin agar cara-cara lama yang pernah diperoleh dulunya, tak kuturunkan pada anak-anak. Oleh sebab itu aku terus belajar, mengupayakan kepulihan diri, agar bisa menjadi ibu yang ramah serta lebih bijaksana. Menyadari bahwa aku tak bisa menuntut anak seratus persen menjadi seperti inginku, padahal ia terlahir dengan keistimewaannya sendiri.

Jujur saja, aku baru benar-benar menikmati peran sebagai seorang ibu, justru setelah anak keduaku terlahir. Di satu waktu aku merasa hatiku dipenuhi rasa cinta, terasa lapang hanya dengan menatap wajah anak-anak. Tak seperti dulu, di masa kehamilan pertama hingga pada tahun-tahun awal yang kulalui dengan perjuangan dan airmata.. ketika tiba-tiba menjadi orangtua dengan jejak trauma pengasuhan yang terbawa hingga dewasa.

Kali ini aku sepenuhnya bisa memupuk rasa cinta, memberikan kasih sayang, juga bersikap lemah lembut selayaknya seorang ibu yang sepenuh hati mencintai anak-anaknya. Terutama ketika membersamai tumbuh kembang anak kedua.

Apa saat anak pertama lahir aku tak memiliki perasaan yang sama seperti saat ini? 

Jika diingat aku tak benar-benar berbahagia dengan status ke-ibuanku saat itu. Ingatan ketika menjalani fase kehamilan yang berat, melahirkan dengan tekanan batin luar biasa, aku bahkan tak sadar mengalami syndrome baby blues. Hingga sampai di titik depresi, aku sama sekali tak bahagia menjalani peran sebagai ibu. Orang-orang melihatku biasa saja. Merawat anak, memenuhi kebutuhannya, tetapi mereka tak melihat jauh ke dalam batinku.. aku nyaris kehilangan jati diri.

Aku mungkin tak bisa jauh dari anak pertama, sebab perasaan yang kubangun lebih pada rasa bersalah. Rasa bersalah sebab merasa gagal menjadi ibu yang layak, rasa bersalah merasa aku bukan ibu yang bisa memberikan rasa aman padanya. Akan tetapi juga sulit bagiku mendefinisikan perasaan cinta seperti apa yang kupunya. Perasaan bersalah seakan-akan lebih besar ketimbang rasa cinta dan bahagia karena telah menjadi ibu. 

Terlebih ketika orang-orang mulai menyodorkan banyak saran yang tak kuminta. Di waktu lain mereka pula yang membuat perbandingan antara cara pengasuhanku dengan cara pengasuhan orang lain atau bahkan dirinya sendiri. Tak jarang, mereka berusaha menyerang posisiku sebagai ibu baru. Aku terintimidasi oleh orang-orang yang seharusnya memberikan support moril, tetapi berbangga hati sebab merasa jauh lebih mumpuni.

Kendati begitu, aku masih memaksa diri untuk menjadi ibu yang layak sekalipun batinku porak-poranda.

Satu-satunya hal yang kutakutkan dari menjadi ibu, adalah mewariskan rasa sakitku kepada anak-anakku sendiri. Entah lewat perkataan, sikap, maupun perlakuan. Faktanya, aku memiliki separuh monster itu dalam diriku ketika anak pertama kami lahir. Itu sebabnya, aku katakan tak mudah menjadi dewasa dengan membawa serta luka batin masa kanak-kanak, lalu di kemudian hari tiba-tiba saja kamu tertuntut situasi karena harus menjadi orang tua dari anakmu sendiri. 

Rasanya, menangis saja tak cukup untuk mengembalikan moment emas yang seharusnya berlalu manis, tetapi dipenuhi dengan tangis.



Anak pertamaku tersayang, yang harus menerima imbas dari puncak rasa depresi ibunya kala itu. Jika mengingat apa saja luka yang mungkin pernah kuberikan pada anak pertamaku, aku menyesali semua perlakuan yang kuperbuat entah sadar atau tidak. 

Aku sampai berandai, jika saja aku tertolong lebih awal. Andai saja suami memahami kondisiku lebih dini. Faktanya, aku menghadapi depresiku sendirian. Sekalipun berusaha menghadirkan orang lain sebagai jembatan evaluasi, tetapi tak sepenuhnya meredakan gemuruh pada diriku sendiri.

Suami kala itu belum semengerti saat ini. Meskipun tindakanku mengarah ke perilaku dekstruktif, termasuk pada menyakiti diri sendiri, dia hanya melontarkan ucapan pedas. Menyerangku balik dengan hal-hal yang kuungkit sebagai tanggung jawabnya, termasuk luka batin yang diberikan anggota keluarganya. Ia sendiri yang berkata bahwa aku yang bermasalah, otakku tak beres, tetapi tak juga membawaku ke profesional. 

Kami sama-sama sibuk mencari siapa dalang dari masalah sebenarnya. Kendati suami tahu persis tekanan batin macam apa yang kuterima di rumah orangtuanya sampai kami memilih menyingkir keluar dari situasi buruk yang ada.

Di fase depresi disambi harus merawat anak seorang diri, tak ada yang benar-benar mengulurkan tangan. Bahkan orang yang kumintai tolong sebagai penengah, pada akhirnya membalikkan ucapannya, seakan-akan aku lah yang salah. Sejak saat itu, sulit sekali mempercayai siapapun. Aku mencurigai orang-orang yang menunjukkan rasa peduli. Betapa sulitnya membangun kepercayaan yang berkali-kali dibuat remuk oleh orang yang tadinya kita berikan kepercayaan sepenuh hati. 

Memilih memendam sendiri permasalahan yang dialami, itu pula yang menjadi pemantik dari depresi yang tak tertangani. 

Betapa aku tercekik sendirian waktu itu. Berusaha bangkit, tetapi tak tahu harus memulainya dari mana. Kehilangan pegangan, tak punya harapan, merasa tak berharga, tetapi tak ada yang tahu seperti apa kondisi batinku yang membutuhkan pertolongan.

Anak pertamaku  mungkin mendera luka batin sejak masih di dalam rahim ibunya. Ia telah turut merasakan pergolakan batin sang ibu yang tersiksa luar biasa. Belum lagi, ketika mengandungnya kami di puncak masalah antar menantu dan mertua. Terpaksa keluar dari rumah di usia kehamilan tujuh minggu. Terlunta dari satu tempat ke tempat lain, tanpa sempat menikmati kehamilan dengan nyaman, dan dikelilingi oleh orang-orang yang memperhatikan.

Barangkali, aku depresi sejak awal mengandungnya. Kian depresi setelah kelahirannya, tak siap pada perubahan yang terjadi di dalam hidupku. Tak siap harus berbagi dunia. Di usia awal duapuluh tahun aku sudah menjadi ibu, di waktu bersamaan hanya bisa menatap impianku yang seakan pelan-pelan tenggelam, kandas. Mulai menyalahkan diri sendiri yang tak bisa berbuat banyak, ingin pergi tapi tak ada tempat pulang yang layak disebut rumah. 

Suami yang sibuk dengan pekerjaannya, tak sempat untuk bertanya kabar, apalagi sekedar mencari informasi untuk memahami apa itu Post Partum Depression pada ibu baru.

Tak sekali ketika dirundung tekanan batin, depresi memuncak, anak pertamaku menjadi bulan-bulanan kekesalan itu. Tanganku ringan sekali menyosor tubuhnya. Semakin keras ia menangis, semakin menggila aku rasanya. Meski setelah itu, aku lagi-lagi tenggelam. Semakin tenggelam dalam jurang depresi paling dalam. Perasaan tak berharga kian kuat merongrong, membuatku merasa tak menjadi ibu yang becus. Merasa gagal menjalankan peranku. Tak satu pun support moril dari orang-orang terdekat merangkul dengan bahasa halus yang menguatkan perasaan.

Yang kudapat justru judgement. Sindiran. Muka masam. Maupun pintu yang ditutup keras. 

Di waktu itu, aku berjuang dengan depresi, orang-orang yang tak bisa memahami, juga perasaan tak berarti sebagai ibu dari anak sendiri. Aku belum bisa sepenuhnya memaknai seperti apa cinta dan kasih sayang seorang ibu yang kemudian terejawantahkan melalui sikap, tindakan, maupun ucapannya. Akan tetapi bukan berarti aku tak berusaha, sampai kemudian aku sendiri yang memanfaatkan teknologi internet untuk mengeruk informasi. Menggunakan ilmu cocokologi dari apa yang dirasakan juga gejala yang dijelaskan.

Pelan-pelan, dari seringnya kami berdiskusi, suami mulai membuka diri untuk melihat permasalahan inti pada istrinya.

Jika mengingat masa-masa itu, aku menyesali semua yang pernah kulakukan atas anak pertamaku. Andai waktu bisa diputar, andai bisa kembali ke belakang, ingin sekali kubenahi luku-luka yang kuwariskan padanya. Andai saat itu suamiku lebih awal memperhatikan kondisiku, apa mungkin situasi lebih terkendali?

Anak pertamaku yang bahkan lebih dekat dengan ayahnya. Anak pertamaku yang begitu mudah menyodorkan tangan ke orang lain, meminta digendong, tetapi tidak denganku; ibunya. Orang-orang hanya berkomentar begini dan begitu, meski tak melihat langsung seperti apa perjuanganku di balik itu. Ucapan mereka justru membuatku semakin kerdil. Aku ibu yang buruk, aku ibu yang gagal, aku ibu yang tak becus. Perkataan-perkataan serupa berkelindan di kepalaku setiap kali ingin berdamai dengan anak sendiri, tetapi Aidan waktu itu lebih memilih berpaling ke orang lain.

Dulu, aku bukan ibu yang benar-benar baik. Meski aku mengandung, melahirkan anak, tetapi batinku tak sama sekali merasakan bahagia. Hamil di usia muda, tertempa masalah sejak awal menikah, dan tertekan di rumah mertua. Tak ada tujuan pulang, jauh dari keluarga, satu-satunya yang kuharap bisa memasang badan tetapi tak bisa berbuat banyak. Begitu melahirkan anak, aku menghadapi dunia baru seorang ibu yang jauh dari ekspektasiku.

Teringat sekali, ketika belum bisa menyusui bayiku karena kendala flat payudara. Aku kaget sebab sesuatu yang bersifat privasi tiba-tiba harus terbuka di depan banyak orang. Payudaraku disentuh oleh bu bidan, dukun pijat, juga ipar yang saat itu mengataiku "goblok" hanya karena belum bisa menemukan posisi yang benar dalam menyusui bayi. Ditambah bekas jahitan pada luka lecet paska bersalin, meski tak ada robekan jalan lahir. Butuh waktu nyaris sebulan sebelum benar-benar kering karena aku harus naik-turun tangga, dan mengerjakan segala sesuatunya sendiri.

Sejak hamil, kondisi moodku memang sudah sangat tak terkendali. Aku menjadi lebih emosional, mudah marah, gampang tersinggung, bukan karena faktor hormonal ibu hamil saja, tetapi batinku memendam banyak luka. Di waktu yang sama, aku cemburu pada ibu hamil yang begitu diperhatikan oleh mertua, orangtua, bahkan kerabat lainnya. Memperlihatkan betapa tidak beruntungnya aku dibandingkan mereka. Aku semakin terpukul, merasa kehidupan lagi-lagi tak berlaku adil.

Aku depresi sejak awal mengandung anak pertama. Kenyataannya sekian tahun telah terlampaui begitu saja, andai bisa tertangani lebih dini. Walau nyatanya.. baru sekaranglah, di tahun ini seperti kata suami, aku direzekikan untuk berjumpa profesional. Mengetahui kondisi mentalku, pelan-pelan mengupayakan kepulihan dengan therapy yang dilakoni. Tak ada kata terlambat, bukan?

Jika dibayangkan kembali, bisa mengandung tanpa permasalahan berarti, melahirkan secara normal sejak anak pertama, bahkan segera mengerjakan segala sesuatunya seorang diri selang berapa jam paska bersalin.. aku mengapresiasi diri sendiri, meski luka batinnya masih basah hingga sekarang. Perlakuan mertua dan anggota keluarga suami, seterusnya akan menjadi luka batin yang bertumpuk dengan luka inner child-ku. Apa aku bisa pulih? Insyaa Allah, sekeras usahaku untuk melangkah maju, dan tak terjebak di zona kelam itu.

Aku sendiri heran, mengapa bisa terus berdiri kuat meski berharap tak terbangun setiap kali tertidur dalam kondisi kelelahan usai menangis sesegukan.

Bahkan ketika keguguran di kehamilan kedua, aku melewati masa kritis itu di rumah sebab mereka mempertimbangkan biaya, bukan keselamatan nyawaku yang menjadi prioritas utama entah bagaimana caranya. 

Aku merasa seperti dituntut harus menjadi ibu, selayaknya menjalankan peran dengan bahagia, tetapi tak ada yang peduli dengan kondisi batinku. Padahal, seorang ibu lah yang paling rentan dengan gangguan kejiwaan. Kata mereka, menjadi ibu harus bahagia. Padahal, bahagia tak diperoleh begitu saja jika di waktu bersamaan batin ibu juga tersiksa. Yang mereka tahu aku saja yang kurang iman, kurang ibadah, jauh dari Tuhan, namun mereka tak tahu menahu keyakinan seperti apa yang kubentuk sejak dulu hingga mampu bertahan sampai sekarang. 

Seakan-akan mereka bisa menilik takaran keimananku di dalam dada. Seakan-akan mereka yang menjamin, sebaik atau sebanyak apa kualitas ibadahku selama ini.

Mengapa aku masih bertahan? Bukan karena aku tak pernah menyerah sama sekali.

Berkali-kali ingin menyerah karena lelah dengan perlakuan yang didapat, tetapi toh hingga hari ini aku masih bertahan di sini. Menghadapi orang-orang yang sama, penyebab luka batin itu. Kali ini dengan kenyataan mental illness yang dimiliki.. aku harus tetap waras ketika bersinggungan dengan sosok-sosok penyebab luka batinku setelah menikah. Juga ketika mereka selalu bersikap biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa, meski ada perasaan yang sekuat hati berusaha disatukan kembali kepingan-kepingan hancurnya. 

Jika bukan Allah yang menguatkan, aku takkan mampu berdiri kuat. Jika bukan Allah yang memampukan, aku mungkin menyerah bahkan terhadap diriku sendiri.

Satu-satunya hal yang kusesali, sebab orang-orang yang kuanggap tulus akan menjadi pengganti orangtua beserta keluarga yang kupunggungi di belakang sana.. justru berlaku di luar ekspektasi. Juga ternyata, menjadi trigger dari semua luka batin inner child yang selama ini kupendam.. sampai kemudian meledak karena tak lagi terbendung.

Betapa tak bahagianya aku waktu itu. Betapa menderitanya batinku. Mentalku terkikis sejak tahun pertama didera masalah bertubi-tubi. Jauh dari orangtua, jauh dari keluarga, di tengah orang-orang yang kupikir akan memperlakukanku dengan baik.. aku meringkuk tersiksa. Dua tahun pertama aku masih diam, lebih banyak menangis, menahan diri, tetapi ternyata lukaku hanya serupa bom waktu.. hanya menunggu saat di mana ia akan meledak menegaskan keberadaannya.

Sekarang, setelah kelahiran anak kedua.. aku baru benar-benar bisa merefleksikan perasaanku sebagai ibu. Aku bisa mencintai dengan penuh, sadar, dan sama sekali tak ada perasaan terpaksa hingga harus merasa terlalu bersalah. Itu mengapa anak keduaku jauh lebih lengket denganku ketimbang orang lain. Apa yang kualami bersama anak pertama menjadi pengalaman sekaligus pembelajaran berharga untuk masa kini. Apa yang terlanjur salah, berusaha kuperbaiki ulang, membangun bonding semula antara aku dan anak pertama. Terus belajar memberikan cinta, kasih sayang, perhatian, sepenuh waktu, hati, maupun raga. Tak sekedar hadir di sekitar mereka dalam sehari-hari.

Pelan-pelan terus merekatkan bonding dengan anak pertama. Belajar parenting. Mindfulness. Belajar bagaimana menahan diri ketika marah. Belajar mengendalikan emosi di depan anak. Banyak-banyak meminta maaf setiap kali kelepasan sikap maupun bicara. Sekarang, anak pertamaku berusia enam tahun lebih, ia sudah bisa memposisikan diri sebagai kawan cerita. 

Kadang, aku menjelaskan bagaimana kondisi ibunya dengan bahasa yang bisa lebih dipahami anak-anak. Kubilang bahwa ibunya memiliki kesulitan seperti ini, bukan berarti aku tak menyayanginya, bukan berarti pula aku tak berusaha keras untuk menjadi ibu yang lebih baik baginya. Aku berusaha, keras sekali. Kujelaskan padanya sembari menangis dengan hati sesak, begitupun anak pertamaku yang mungkin mulai mengerti dan menaruh rasa iba pada ibunya.

Makin ke sini, aku memahami bahwa satu hal penting yang sejak dulu tak kumiliki ketika bertumbuh di tengah orangtua maupun keluarga, adalah memiliki rasa aman. Itu yang mendorongku untuk rutin memeluk anak-anak setiap malam, menjelang waktu tidur kami.

Anak pertamaku bahkan sudah lebih bisa menunjukkan perhatian. Kadang tiba-tiba ia mendekat untuk memeluk. Di waktu lain, ia mencium keningku saat mendapatiku tertidur di sisi adiknya, sembari pelan-pelan berbisik "i love you, ibuk". Aku mendapati anak pertamaku mulai menerimaku sebagai ibu, apa adanya. Pelan-pelan kami memahami hubungan kami yang berawal dari ketidakmudahan, untuk pelan-pelan dibenahi. Betapa ia mungkin pula tertuntut untuk memahami hal-hal pelik sedari dini, itu yang membuatku tertampar untuk terus berbenah dalam memberinya cinta dan kasih sayang seorang ibu.

Masa kecilnya, masa tumbuh kembangnya harus jauh lebih baik dari ibunya.

Bukan berarti saat ini aku tak pernah marah atau bahkan menyodorkan tangan ke fisik anak. Aku masih melawan diri sendiri. Entah ada berapa episode lagi yang mewarnai hari demi hari, pekan berganti bulan, dan mereka tumbuh sembari melihat fluktuatif mood ibunya yang tak sewajar orang lain. 

Aku tentu saja masih, sesekali kelepasan, tetapi jauh lebih bisa kukendalikan. Tak lagi sekerap dulu. Kadang, aku mengalihkan itu pada barang-barang yang ada di sekitar. Atau menahan napas, mengepalkan tangan, dan menahan diri sekuat tenaga. Menjauh dari anak-anak.

Bedanya, dulu aku hanya menangisi rasa bersalahku tanpa berusaha mendekati anakku. Kali ini, aku memilih untuk lebih banyak belajar dan pelan-pelan merubah caraku.

Kendati ini tak mudah, meski aku benar-benar struggling dengan kondisi saat ini, aku merasa jauh lebih baik sebagai ibu. Di satu titik, aku bisa memandangi wajah anak-anak dengan penuh rasa cinta. Memeluk mereka tanpa perasaan canggung. Memberikan cintaku seutuhnya, pun menerima balasan cinta dari mereka. Mengapa 'memeluk' harus canggung bagiku? Itu karena sejak kecil, memberikan pelukan bukan hal yang dibiasakan di tengah keluarga, hingga kedua orangtuaku memutuskan berpisah.

Aku bahkan tak memiliki ingatan, kapan terakhir kali Mamak memelukku dengan hangat. Kapan terakhir kali Bapak menggendongku sebagai gadis kecil yang dulu sangat disayanginya. Dari pengalaman itu aku belajar, bahwa MEMELUK adalah hal sederhana tetapi dampaknya sangat luar biasa bagi kebahagiaan seorang anak. 

Aku masih terus berusaha berdamai dengan diri sendiri, membiasakan diri dengan hal-hal yang sebelumnya tak pernah kudapatkan, tetapi hari ini harus kuberikan pada anak-anak. Itu karena, aku tak ingin menurunkan luka yang sama pada mereka. Jika pun ada, kuharap itu hanya bernilai sangat sedikit.. tak lebih karena keterbatasanku sebagai manusia biasa. Paling tidak, aku berusaha sekeras mungkin, hingga tak ada celah dalam diriku yang bisa melukai perasaan maupun fisik anak-anakku.



Sungguh, seseorang yang memiliki trauma karena kerap beroleh pukulan fisik, verbal abuse, bullying, kemudian tumbuh dewasa dan menjadi orang tua.. bukan hal mudah ketika harus melawan diri sendiri, dan mengalahkan itu semua. Setiap orang yang pernah memiliki pengalaman kekerasan, juga berpotensi menjadi pelaku kekerasan. Itu yang sedang kuupayakan kali ini pun seterusnya, mata rantai itu harus kuputus tuntas. Sebab ada kebahagiaan anak-anak yang menjadi tanggung jawabku, sebagai seorang ibu.

Jika aku terluka dengan semua trauma masa lalu, maka aku tak boleh menurunkan luka yang sama pada anak-anak. Semoga Allah ridha, semoga Allah ijabah, semoga Allah mudahkan diri dalam menjemput kebaikan demi kebaikan dalam proses healing yang dijalani saat ini. Suatu hari ketika pulih, aku tak perlu alasan apapun untuk mencintai anak-anak dengan PENUH dan SADAR. Sebab cinta seorang ibu tak mengharuskan alasan apapun. Ia datang dari hati, ketulusannya memancar di setiap tindak, laku, sikap, ucapan, mimik wajah bahkan pula bahasa tubuhnya.

Terima kasih untuk anak pertamaku, ibu belajar memaknai sabar darimu, Nak. Ibu belajar menumbuhkan cinta dengan layak, yang bahkan tak ibu peroleh sebagai seorang anak dulunya. Akan tetapi karena kalian.. ibu pun belajar memenuhi tangki cinta pada diriku sendiri, sebelum memenuhi cawan cinta pada diri anak-anak ibu. Terima kasih ya sudah ada, sudah lahir dari rahimku, sudah menjadi bagian dari setiap fase dalam hidupku.

Detik ini, aku bisa merasakan utuh sebagai seorang ibu yang berbahagia dengan amanah sekaligus perannya meski masih berjuang pulih.

Jika hari ini ada yang memandangku dengan pandangan yang menilai bahwa aku ibu yang baik, ibu yang sabar, itu karena ada banyak sekali air mata dan perjuangan yang mengiringi dari masa ke masa. Itu karena hingga hari ini aku masih terus berusaha, berjuang, bekerja keras, setiap saat selangkah demi selangkah. Setahap demi setahap. Menuju kebaikan diri di jalan yang baik pula.

Di dalam diriku ada anak kecil yang terluka, namun di dalam diriku juga ada seorang ibu yang sepenuh hati dan cinta, berusaha pulih demi anak-anaknya.

Ini kisahku, kutulis untuk menjadi pengingat.. bahwa aku pernah berada di titik terburukku sebagai seorang ibu. Aku pernah terjatuh di titik terpurukku sebagai seorang ibu. Setelah ini, aku akan terus berjuang pulih. Bersama cinta dari anak-anak, juga kekuatan yang diberikan oleh-Nya, beserta support tak berjeda dari suami yang selalu ada di segala situasi .. bismillah biidznillah, aku pulih! Aamiin insyaa Allah.

Jika nanti aku kembali meringkuk di episode tersebut, tulisan ini akan mengingatkanku untuk sekali lagi terbangun, berjuang, bertahan hidup.. demi diriku sendiri, juga orang-orang yang tulus mencintai tanpa pamrih. Bahwa, aku jauh lebih kuat dari apa yang kuketahui.



Untukku, untukmu, yang mungkin sama menderitanya karena trauma yang terbawa hingga dewasa.. jangan menyerah ya. Teruslah percaya bahwa luka dihadirkan tak semata membawa perasaan derita, melainkan ada banyak pembelajaran berharga yang hadir bersamanya. Fa inna ma'al 'usri yusra. Bersama kesulitan ada kemudahan. Bersama ujian, ada pembelajaran beserta pengalaman untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam mengarungi kehidupan.


Semoga bermanfaat.


___________________________________


Magelang, 13 Agustus 2021

copyright : www.bianglalahijrah.com

0 Komentar