Sepanjang pandemi, baik anak beserta orangtua sama-sama beradaptasi dengan kebijakan baru pemerintah yakni bersekolah dari rumah. Jika sebelum itu orangtua hanya mendampingi tugas sekolah anak yang dibawa pulang, kali ini.. pembelajaran daring dimulai dengan mengajarkan, mendampingi, hingga tugas hari itu dapat selesai.

Untuk ibu yang cenderung sabar, mungkin semua bisa terlalui dengan minim drama kendati pikiran juga tetap terpecah belah ke perkara lain. Entah itu setumpuk pekerjaan rumah yang menuntut untuk segera terselesaikan. Amanah dari profesi berbeda yang juga tengah dilakoni. Belum lagi yang punya bayi atau memiliki anak lebih dari satu, tentu paham seperti apa keriweuhan yang dihadapi saat harus pula membagi perhatian pada anak-anak yang lain.

Dalam kasusku sendiri, juga masih disambi momong bayi yang bergantung pada ASI ekslusif ketika membagi waktu untuk membersamai si anak TK dalam belajar daring.

Sederet rutinitas yang seolah tak menemukan titik ujung saat dirunut, menjadi aktivitas sama dengan jadwal yang random. Walau intinya nyaris sepanjang hari, pun di hari-hari berikutnya.. masih saja perihal sama yang dihadapkan ke wajah.

Setiap ibu tentu memiliki kesulitan dan kendalanya masing-masing. Hanya saja ada yang berhasil melalui itu dengan support system yang baik, hingga kerepotan yang ada dapat terurai tanpa menimbulkan masalah lain. Tetapi ada pula yang repot sendiri, sedang satu-satunya partner yang diharap berkontribusi tak bisa berbuat lebih banyak karena keterbatasan waktu yang dipunya. Sebab keharusan mencari nafkah bagi keluarga.

Kadang ketika satu sama lain saling tak bertemu dan bisa duduk berdua sekadar berbagi cerita.. akan mudah sekali menyulut permasalahan baru. Ada rasa jenuh dari rutinitas yang melelahkan dan monoton. Hasrat hati untuk didengarkan sebab uneg-uneg perempuan 20.000 lebih banyak dari pada kaum lelaki. Bapak-bapak diharapkan peka dan siap pasang telinga serta pundak untuk bersandar. Jika tidak, minimal pulang bawa bingkisan berisi makanan sudah menjadi mood booster sendiri buat para ibu 😂

Seringnya, berbagai pekerjaan yang harus dikerjakan dalam keseharian, rasanya 24 jam belum mesti cukup. Ditambah masih harus dipotong jam istirahat di malam harinya.

Tetapi adakala pula tergantung kondisi dan situasi yang berjalan. Jika semua dapat terlaksana dengan sempurna, itu karena ada bantuan dari ayahnya anak-anak. Minimal bisa momong si bayi ketika emak gercep menyelesaikan tugas domestik rumah.

Jika fisik dan kondisi mood sedang dalam satu frekuensi yang tak kelelahan, aku masih bisa mengerja konten untuk feed Instagram serta posting tulisan teranyar di laman ini.

Lumayan melelahkan memang. Fokus pikiran terbagi-bagi. Pekerjaan ibu sesuatu yang tak terlihat kasar tetapi menguras energi lahir batin, tak hanya pikiran saja. Padahal, jika mencoba berganti peran pun.. belum tentu ada yang sanggup mengerjakan semua di waktu bersamaan hanya dengan dua tangan, sebaik apa yang dikerjakan seorang ibu. Alasan mengapa perempuan dikata makhluk multitasking yang serba bisa.

Karena itu, penting sekali antar orangtua bisa saling bersinergi mencurahkan perhatian, waktu dan pikiran. Saling bahu membahu, berbagi peran, agar tujuan sekolah di rumah bisa benar-benar berjalan efektif dan kondusif bagi semua pihak.

Tak hanya bagi si anak, tetapi juga orangtua sebagai pihak yang dipercaya penuh untuk menghandel pembelajaran daring selama masa pandemi ini berlangsung.

Dengan keadaan rumah yang terkondisi, batin ibu tak terperangkap rasa pengap, diharapkan bisa mengantisipasi drama Mamak yang ngedumel sepanjang gerbong kereta api. Terbayang kan bagaimana keruhnya jika seisi rumah terkena imbas fluktuatifnya suasana hati ibu? Padahal hanya pelampiasan dari rasa lelah yang begitu penuh dirasakan.

Kalau ada yang berkata jika ibu yang suka marah-marah saat mengajari anak berarti gagal, kurang sabar, kurang telaten, semoga yang nyeletuk begini tak menghadapi situasi serupa atau bahkan jauh lebih pelik ya. Karena kembali lagi ke kondisi masing-masing rumah yang tentu berbeda tantangan, permasalahan, dan kendala yang ada. Cuma berkomentar memang seringan kapas yang tertiup angin. Apalagi kalau belum pernah menjalani langsung, tetapi hanya melontar persepsi pribadi.

Percaya tak percaya, setiap ibu sangat ingin meluaskan sabar tanpa batas. Tetap bisa menata kalimat halus tanpa nada tinggi melengking. Tetap menyodorkan pelukan hangat, usapan lembut di kepala anak, berbagai bentuk apresiasi yang sudah selayaknya anak peroleh atas kerja kerasnya dalam belajar. Tetapi.. kembali lagi, ada masalah yang kadang terbawa-bawa saat ibu sudah digandrungi banyak beban kewajiban, menjadi tak melulu bisa memasang wajah dan kata-kata lembutnya.

Belum lagi jam terbang untuk menyetor tugas yang sudah diselesaikan si anak hari itu, seperti halnya ditodong waktu. So, bukan tak ingin sabar sih menurutku setiap ibu sudah berjuang keras kok.

Lantas, bagaimana dengan adegan kekerasan yang harus mewarnai proses pembelajaran daring akibat ketidaksabaran seseorang sebagai orangtua? Well, lain kali akan menjadi postingan tersendiri ya. Khusus membahas hal tersebut :)

Berangkat dari apa yang juga aku hadapi saat membersamai ananda, ada point-point penting yang bisa kita terapkan saat terlanjur marah ke anak:

1. Pahami rasa lelah kita sendiri, merasa penat wajar kok. Kita bukan robot, sebagai manusia biasa tentu memiliki kapasitas yang terbatas

2. Minta maaf tulus ke anak dan berikan pelukan hangat

3. Jelaskan sebab kemarahan orangtua dan beri pemahaman ke anak bahwa kita tak berniat untuk menyakitinya atau membuat proses belajar menjadi begitu menegangkan

4. Buat kesepakatan pada anak agar di time berikutnya bisa sama-sama bekerja sama lebih baik lagi

5. Apresiasi diri kita, apresiasi usaha anak. Untuk sekecil apapun pencapaian, kita semua berhak beroleh reward sekalipun itu sederhana.

Sewaktu marah pada anak, berusaha untuk memahami bahwa tegas berbeda dengan kasar. Kalau tegas, kita memberikan pilihan pada anak dengan konsekuensi yang pasti. Dia boleh mengerjakan sesuatu asal sesuai tenggat waktu yang diberikan. Misal, kapan harus bermain dan kapan harus belajar. Ada aturan yang harus dipatuhi, tak hanya disepakati. Sedang kasar, belum tentu tegas. Melainkan hanya menakut-nakuti anak untuk patuh sesaat pada apa yang orangtuanya katakan, kadang juga mengiming-imingi anak dengan sesuatu yang tadinya sempat kita larang. Seakan hanya menggertak saja.

Anak justru jadi menganggap enteng kebijakan yang orangtua berikan.

Betapa menjadi orangtua memang dituntut untuk terus belajar ya. Menahan diri untuk tidak memarahi anak dalam kondisi apapun itu tidaklah mudah. Terlebih ada perasaan bahwa orangtua berhak saja marah ke anaknya. It's okay bukan masalah, walau sebenarnya juga salah. Apalagi jika sudah memukul, main fisik.

Tak mudah bukan berarti mustahil. Bersama pasangan, kita bisa saling mengisi dan mengayomi. Mendidik bukan hanya peran tunggal seorang ayah saja, atau cukup ibu saja. Tetapi mendidik memerlukan peran dan kerjasama keduanya, antar ayah dan ibu selaku orangtua. Menyesuaikan waktu dan komunikasi yang tepat adalah perkara yang gampang-gampang susah. Sekedar ngomong mudah, tetapi pemilihan diksi, bagaimana penyampaiannya, kapan waktunya, itu juga masih pe-er. Insyaa Allah pasti bisa kok. Selama terus diupayakan.

Semoga setiap kita dimudahkan untuk saling bersinergi dengan pasangan, sampai kapanpun dan soal apapun itu. Aamiin. Insyaa Allah.

Nah kembali ke soal sekolah dari rumah. Setiap usai belajar, kuusahakan untuk selalu meminta maaf ke anak jikalau ada suara yang melengking atau tangan yang ringan sekali menyosor maju. Kadang kadung menyesal setelah tersadar, tadi kenapa harus semarah itu ya? Duh kasihan anakku. Harusnya kan tak begitu juga. Tetapi semua sudah terjadi dan satu-satunya cara untuk memperbaiki yakni meminta maaf langsung kepada anak. Jelaskan sebab kemarahan kita, ucapkan maaf setulus hati dengan sebuah pelukan.

Ditakutkan, ini menjadi semacam luka untuk ananda jika dibiarkan saja setiap kali kelepasan sikap tatkala membersamainya.

Tugas ibu memang menjadi lebih kompleks dengan hadirnya pandemi. Tetapi bukankah jauh sebelum itu, pendidikan utama memang berpusat di rumah bersama orangtua? Mungkin kita hanya perlu terbiasa. Adanya pandemi seolah mengembalikan fitrah tersebut. Kesempatan untuk membangun bonding antara orangtua dan anak, beserta Allah tambahkan ladang ibadah sekaligus jalan untuk mendulang pahala, dari ilmu yang diajarkan pada ananda. Masyaa Allah. Aamiin allahumma aamiin.

Hai ayah bunda, juga teruntuk diriku sendiri. Jangan lupa ucap maaf dan terima kasih pada ananda ya. Kita tahu hari ini peran yang dilakoni terasa lebih berat, tetapi juga tak pernah menjadi mudah bagi ananda untuk menjalani masa-masa belajarnya di rumah. Semoga pandemi ini lekas berlalu. Anak-anak bisa kembali bersekolah dengan normal, belajar riang gembira, karena tentu euforia akan berbeda antara di rumah dengan gedung sekolah 😁

❤️🔥 Tetap kuat, tetap sehat, tetap semangat! Dariku, ibu yang juga masih suka misu-misu ngajarin anak 😂 Insyaa Allah setelah ini jadi lebih sabar ya, hehee ..

_________________________


Magelang, 13 Januari 2021

copyright : www.bianglalahijrah.com

1 Komentar

Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah singgah dan membaca tulisan di Blog saya. Semoga bisa memberikan manfaat. Jangan lupa tinggalkan jejak baik di kolom komentar. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya. Ditunggu kunjungan selanjutnya :)