"Hari ini aku kembali belajar tentang memaknai arti syukur. Bahwa setinggi-tingginya langit, ada langit yang lebih tinggi di atasnya. Bahwa serendah-rendahnya tanah yang kerap kupijak, ada lapisan tanah yang lebih rendah di baliknya. -Bianglala Hijrah"

Saat pulang dari rumah Mbak Riyati, aku dan suami berpapasan dengan seorang bapak yang mulai ringkih. Bapak itu tengah memikul dagangannya dengan berjalan kaki. Menghitung setiap derap langkap demi mengais rezeki. Sejauh perjalanan yang ia tempuh sejak keluar dari rumah. Aku memperhatikan bapak tersebut yang berjalan dengan penerangan dari cahaya lampu senter yang ia bawa. Tak ada teman. Hanya diam menikmati penat yang ia dapati. Entah berapa rezeki yang telah ia dapatkan dari tetes-tetes keringatnya hari ini. Ia berjalan sendiri di bawah remang langit yang mulai gelap. Sunyi dengan alam pikiran yang menemani gumamnya dalam hati. Gumam yang hanya ia sendiri yang tahu. Tiba-tiba aku merasa iba pada bapak tersebut. Dalam hati aku berdoa agar Allah memurahkan rezeki bapak tersebut, menyejahterakan keluarganya, dan mengabulkan segala harapan bapak tersebut. Di sisi lain aku berpikir, bahwa masih ada yang jauh lebih sulit dariku. Bahkan untuk mencari pundi-pundi rupiah demi dapat mengganjal perut dan menafkahi keluarga, beberapa orang harus bekerja mati-matian siang dan malam. Sementara aku? Terbentur kesulitan sedikit saja masih sering mengeluh. Seolah begitu berat beban yang Ia timpakan untukku. Padahal sudah jelas, bahwa Allah tak pernah membebani hambaNya di luar dari batas kemampuan hamba itu sendiri. Bahkan hidupku saat ini jauh lebih enak ketimbang bapak tersebut. Aku tak perlu panas-panasan berjalan kaki hanya untuk menjajakan dagangan. Demi nafkah dan sesuap nasi. Sungguh banyak nikmat yang masih sering ditampik oleh keegoisan diri yang mudah mengeluh.


Aku hanya memandangi bapak tersebut dalam lirih doa yang mengalir tulus dari dalam hatiku.
"Kasihan ya, Mas." Ucapku pada suami.
"Iya. Bapak itu sepertinya baru mau pulang."

Aku diam lagi. Tak meneruskan percakapan yang tadinya aku mulai. Ingatanku melanglang buana pada sosok bapak yang sedang ada di seberang pulau sana. Bapak yang dulu senantiasa membuatku nyaman berada dalam rengkuhan tangannya yang berotot kekar. Bapak, ada rindu yang tiba-tiba mengusik sendu. Semoga kesehatan dan keberkahan senantiasa melingkupimu. Begitupun untuk ibu di sana. Aku rindu kalian. Sangat rindu. Mataku terus menatap tubuh bapak itu yang kian lama tampak mengecil. Sebab kami telah jauh mendahuluinya yang masih bersusah payah mengukur jalan pulang.

****** 

Allah terima kasih. Hari ini aku kembali belajar tentang memaknai arti syukur. Bahwa setinggi-tingginya langit, ada langit yang lebih tinggi di atasnya. Bahwa serendah-rendahnya tanah yang kerap kupijak, ada lapisan tanah yang lebih rendah di baliknya. Aku belajar dari sosok bapak yang barangkali berdasarkan kehendakMu, telah membuka mataku mengenai satu pelajaran lagi hari ini. Betapa sering hati mengingkari nikmat yang telah ada, hanya karena sibuk mengutuk kesulitan yang kerap menghampiri hidup. Lupa bahwa salah satu bagian dari kehidupan adalah ujian yang datang dariMu. Semoga Engkau lapangkan rezeki bapak tersebut. Rezeki untuk siapapun yang berjuang menafkahi keluarganya di jalanMu. Aamiin.

1 Komentar

Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah singgah dan membaca tulisan di Blog saya. Semoga bisa memberikan manfaat. Jangan lupa tinggalkan jejak baik di kolom komentar. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya. Ditunggu kunjungan selanjutnya :)