Hatiku hampa seperti juga tatapan mataku yang memanas sejak tadi. Didesak oleh airmata yang memberontak untuk segera keluar dari halauan kedua kelopak mataku. Dan kini ia telah benar-benar berhasil menerobos dinding kelopak mataku. Dan terus saja menetes dengan teriakan hatiku yang terus memekik pilu tertahan oleh parau suara yang nanar oleh derita. Pilu, luka serta derita yang seperti enggan untuk mengakhiri duka yang ada di hidupku. Aku bertanya pada mimpi yang tidak salah, yang sejak dulu bertengger dengan begitu kuat di jiwaku.

Mimpi, salahkah aku memeliharamu dari sejuta harap yang selalu redup dan benderang di antara semangat dan kerapuhan hatiku? Salahkah jika aku memilikimu sebagai penguat untuk hidupku yang rapuh. Meski kerap engkau juga yang menyakitiku, lewat keputusasaan yang juga setia menyelimuti jiwa. Aku tidak ingin menyalahkanmu karena keinginan yang ada pada diri dan tidak terjangkau oleh diri. Terlalu banyak mimpi yang kini tertanam pada jiwa yang redup terang, hingga tidak satu pun mimpi yang terjawab olehnya. Mimpi, bawa aku pada nyata asa dan harapan itu. Bukan pada khayalan semu belaka yang begitu kejam menertawai diri yang tidak mampu menjangkaunya.

Mimpi, mengapa begitu sulit menjangkaunya. Meski hanya melalui tinta pena yang tertoreh rapi pada kertas putih. Dan ia hanya mampu terucap pada bibir yang penuh deru semangat walau sadar tidak pernah berada pada nyata ujarnya. Mimpi, mengapa harus sakit untuk meraihnya. Apa yang salah darimu? Atau apa yang salah dariku? Mengapa keduanya tidak kunjung memberi jawaban. Salahkah aku yang memiliki mimpi, atau salahkah mimpi yang memilihku untuk menjaganya pada diri yang tidak mampu.

Lalu aku harus bagaimana? Mimpi seperti apakah engkau?

18052012

0 Komentar